
"Dunia punya cara membuat patah hati tapi dunia punya banyak cara untuk membuat jatuh hati"
⏳⏳⏳
"Lo gila?" adalah kalimat pertama dari Arnol setelah Miss Ani meninggalkan kelas.
Al masih bertompang dagu, bingung mau menanggapi kejadian tadi seperti apa.
El justru berdiri kaku tanpa ekspresi, tanpa tanda tanda bahwa dia merasa bersalah.
"Gue gak bisa piano Ell" Ivana menggeretak gigi.
"Gini deh, emang elo bisa main drum? Emang lagu yang mau kita bawain nanti bagus kalau pakek drum? " tanya Arnol bertubi tubi.
"Bentar deh bentar" Al melerai
"Kita belum nyoba kan? Gimana kalau nanti kita latihan ?" ajak Al
"Si dia bisa dateng" sindir Ivana.
El masih berdiri kaku tanpa ekspresi, akhirnya dia mengangguk
"Tu, si El aja bisa dateng, lagian nanti istirihat Al sama El juga mau ngerjain tugas Kimia" tambah Al.
Selesai diskusi, Al dan El memang duduk di taman berdua, dengan bolpoin warna warni, kertas karton dan buku paket kimia.
Al menulis bagiannya begitu juga dengan El.
"El, El bisa maen alat musik gak?" tanya Al tiba tiba.
El mendongak, menghentikan tulisannya, dan menatap wajah Al lekat.
"Kenapa memangnya?" meski terdengar kaku, sebenarnya kalimat itu respon jawaban standar seperti respon oranh orang.
"Iya Al penasaran aja" tukas Al kembali melanjutkan mengukir gambar di kertas karton
"Gue gak terlalu suka musik" jawab El
"Kalau sama Al?"
Al langsung mendongak, mengerjapkan mata dengam binar penuh harap menunggu jawaban El.
"Apa?" bukannya menjawab El malah menaik turunkan alis.
Jujur ekspresi seperti ini sering membuat jantung Al berdetak kencang.
"Eh" Al benar benar gugup, apalagi saat mata keduanya beradu seperti tadi.
"Enggak kok, El masih sering main tinju?" Al buru buru mengalihkan topik
"Hemm" adalah jawaban dari El
"Sejak kapan?"
El kurang suka ditanya tanya, apalagi soal pribadi, tapi dengan Al rasanya bentengan itu runtuh seketika. Entahlah sejak kapan El merasa seperti itu, mungkin sejak dia merasa terganggu, atau sejak mendengarkan suara Al di cafe Welno. Yang jelas ada satu titik nyaman yang hinggap.
"SD"
__ADS_1
Al meletakkan bolpoin. Bergantian memandang El dengan binar mata terpana.
"Wah, El dari SD udah hobi pukul pukulan"
Harus El artikan seperti apa kalinat Al barusan. Pujian atau hinaan.
El hanya diam, kembali melajutkan menulis di lembaran karton paling bawah.
"El kenapa sih gak mau punya temen?"
Kali ini ucapan Al membuat tangannya berhenti bergerak. Pertanyaan itu juga yang sering terlintas di benaknya, kenapa dia tidak mau memiliki seorang teman?
Apa karena takut predikat anak haram membuat temannya pergi atau karena dia tidak pandai bergaul.
"Ellll"
Al menggoncangkan tangan El, lelaki itu berdecak lalu menepis tangan Al dengan kasar.
"Elo mau ngerjain tugas Kimia atau mau ngajak gue cerita sih?"
Matanya mendelik sempurna, Al paling tidak suka dengan respon seperti itu dari El.
"Dua duanya kalau bisa"
Al bersungut, menulis dengan asal rumus Kimia, tidak peduli jika salah atau benar.
Al merapkan bolpoin dan mendongak menatap El yang masih terus menulis
"El, bagian Al udah selesai, ada lagi?"
"Elllll" panggil Al
"Diem" sentakan dari El membuat Al kicep, gadis itu langsung menunduk, takut.
"Kalo gue lagi nulis jangan gangguin gue"
Meski kalimat itu dia tuturkan dengan nada lembut tetap membuat Al ketakutan.
El mendegus, dia paling benci melihat seseorang terluka karenanya, meski dia harus menjaga bentengan hati agar tidak membuat dirinya yang terluka.
"Lo mau makan? Gue traktir"
Entahlah, kenapa kalimat itu justru terceletus dari mulut El, bahkan selesai mengatakan kalimat itu dia tertegun
Kantin? El lupa kapan terkahir dia kekantin. Hampir tidak pernah.
"Mau mau" Al sudah bangkit dengan senyuman paling cerah miliknya. Bahkan tanpa sadar El menarik sudut bibir, meski itu kecil dan tidak terlihat.
El tersenyum? Astaga lelaki kaku yang hampir membentengi dirinya agar tidak bergaul dengan orang lain itu akhirnya tersenyum.
"Ayookkkk"
Al sudah berjalan didepan El, menarik sudut bibirnya seolah benar benar bahagia.
Mereka berjalan dengan dua buah karton ditangan. Menuju kantin. Bahkan El tidak tahu bagaimana bentuk kantin sekolahannya.
Duduk di meja depan, El sudah menjadi pusat perhatian siswa siswi. Lelaki itu jarang terlihat disekolahan, hanya terdengar desas desus kalau siswa baru itu tampan. Dan sepertinya keajaiban hari ini membuat semua penghuni sekolahaan tahu, kalau desas desus itu memang benar.
__ADS_1
El tidak nyaman menjadi pusat perhatian, bahkan ketika Al membawa dua buah bakso. Dia justru semakin risih saat mendegar beberapa kalimat siswa yang tengah membicarakannya.
"Nih, bakso mang fatah terkenal paling endosss se antero sekolahan"
Al meletakkan mangkuk bakso.
Menuangkan saos dan kecap lalu menyantap satu bakso. El tidak melakukan sesuatu sama sekali. Justru dia merogoh saku celana, mengeluarkan uang lima puluh ribu dan berlalu pergi.
Al tentu melongo, dia hampir tidak percaya saat bakso yang dia pesan datang, El justru pergi.
"Haii bee. Weh lo makan rakus amet pesen dua"
Arnol yang datang bersama Ivana langsung mengambil duduk didepan, tanpa memperhatikan wajah kecewa Al, Arnol sudah membumbuhi bakso dengan kecap.
"Lo kenapa Al?"
Ivana mengibaskan tangan,
"Ivana, ini baksonya sayang kalau gak dimakan, Al cuman makan satu doang"
Al memberikan mangkuk. Lalu membayar dan ikut berlari pergi mengejar El.
Al tahu kemana lelaki itu pergi, pasti sedang di roftof sambil membawa makanan ringan yang selalu dia santap.
Saat di undakan tangga, dia semakin yakin, pintu roftof terbuka, pasti dia disana.
Hanya saja bayangan El yang tengah menyantap makanan justru salah, lelaki itu berdiri di dekat dinding roftof. Menatap kumpulan siswa yang asyik bermain basket, dia terpesona, jujur, selama dia sekolah dia lupa pernah memiliki teman.
Maksudnya, siapa yang mau bergaul dengan anak haram dan miskin macam dirinya.
El menghele nafas, memutar badannya dan tercengang.
Alristella, gadis itu berdiri dengan berkacak pinggang, ekspresi wajahnya sudah masam.
"Kenapa main pergi gitu aja?" sungut Al kesal
El tidak perduli justru dia melewati bahu Al begitu saja.
"Tungguin Al"
Al mengejar, meraih tangan El dan menarik lelaki itu untuk menghadapnya.
"Apa?"
Rasanya tidak ada kalimat lain yang keluar dari mulut El selain kata tanya Apa
"Kenapa main pergi gitu aja?" ulang Al.
"Gue gak laper" jawab El ketus
Al menggeleng "bukan itu kan, El gak nyaman makan dikantin?"
El menoleh, mengalihkan arah fokusnya pada mata kecoklatan milik Al. Angin yang berhawa panas menerpa mereka membuat kesunyian langsung terasa. El memperhatikan lekuk wajah Al dengan intens, hidung kecil itu serta wajah yang hanya seukuran telapak tabgannya.
Dan sejak kapan El ingin mengatakan bahwa Al benar benar cantik saat mengenakan seragam sekolah ini. Terlihat cantik dengan kuncir dua miliknya. Sejak kapan El terpesona dengan gadis ini? , sejak kapan dia merasa gadis didepannya sudah menyelusup masuk pada dinding yang dia buat? . Sejak kapan keajaiban itu ada?

__ADS_1