
Hati memiliki kapasitas penampungan perasaan, sebelum kapasitas hati penuh ungkapkan apa yang kamu rasakan
⏳⏳⏳
Tidak ada yang bersuara saat itu, semuanya menatap kearah Kharisma, bagaikan lelaki itu tengah disorot oleh lampu ajaib.
"Elah Nol udah biasa kali nama orang sama, buktinya Dina sama Dina namanya sama" celetuk Sena
"Iya sih" Arnol berniat duduk tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Tapi gak papa kan gue pengen denger dari si Kharisma apa jawaban dia, siapa tahu mereka saudaraan" Arnol mengimbuhi dengan canda tapi itu membuat Kharisma mengeraskan rahang.
Tidak ada candaan untuk hubungannya dan El, apalagi seseorang menyebut kalau mereka bersaudara, itu membuat dirinya selalu ingin marah.
"Apa setiap nama Semanding itu saudara?" Tanya Kharisma dengan nada setengah membentak
Arnol menatap kearah Kharisma yang sepertinya terpancing oleh kemarahan. Lelaki itu melangkah ke depan dengan wajah pias, semua orang seperti tegang melihatnya.
"Banyak marga orang yang sama diluar sana tapi mereka gak bersaudara" ujar Kharisma lebih tajam lagi.
"Yah gue kan cuman becanda" kata Arnol dengan cengiran
"Nama marga bokap gue apa sebuah candaan untuk elo" Kharisma menarik kerah Arnol sehingga teman yang lainnya lantas berlari dan memisah keduanya
"Eh udah dong, kok pada berantem" Febri memisahkan dibantu Sena,
Acara api unggun harus berakhir hanya dengan dua orang yang sebagai bahan pertanyaan. Acara terasa tidak lagi menyenangkan berkat kemarahan si Kharisma. Dan Arnol yang sedang tiduran di kasur pompa menatap langit tenda dan membayangkan kembali ekspresi wajah marah dari Kharisma.
"Kenapa Kharisma marah sama gue, kan gue cuman penasaran?" tanya Arnol pada Febri
"Lo sih **** banget pakek nanya pertanyaan yang gak bermutu kayak gitu" cicit Febri , lelaki itu lantas membalikan badan hingga menghadap Arnol yang sedang menatap langit tenda
"Lo kan tahu si Kharisma suka sama Al, ya jelas dia marah lah kalo disama samain sama El, kan El pacarannya Al" jelas Febri dengan teorinya
"Ya juga ya" kata Arnol tetapi dalam hatinya menyimpan pertanyaan yang begitu dalam, mungkinkah hanya itu penyebab kemarahan Kharisma yang meluap tadi?
⏳⏳⏳
__ADS_1
Al menatap arah depan dimana bintang bintang sedang berpijar. Ivana datang dengan secangkir teh hangat, perempuan itu ikut duduk disebelah sahabatnya, Al.
"Lo ngelamunin apa sih?" Tanya Ivana
"Ivana" Al menggeser duduknya sehingga berhadapan dengan Ivana
"Hmm"
"Apa mungkin ya si El itu gak suka sama Al tapi dia obsesi sama Al?" Tanya Al dengan wajah serius.
Ivana lantas menoleh dan menatap mata penuh harap dari sahabatnya. Angin yang menerpa malam itu membuat Ivana merasa dingin, perempuan itu lantas menatap secangkir teh dan menyeruputnya.
"Mungkin juga gitu" kata Ivana asal
Al langsung berekspresi sedih, kalau iya perasaan El hanya obsesi untuk mendapatkan dirinya, lalu apa arti semua hubungan ini. Apa kah dia akan berakhir seperti Jaka, atau akan berkahir ditinggalkan seperti pacar Jaka.
"Padahal Al beneran suka sama El" ucap Al dengan lirih.
"Yaelah Al, cowok masih banyak tau, ada Kharisma yang jelas jelas dia nungguin elo" Ivana menatap sahabatnya yang sedang menunduk "Lo tahukan gimana perasaannya El ke elo, buktinya elo pengen banget dia ikut camping tapi dia malah beneran gak ikut"
Bahkan mengenai perasaan El hingga saat ini Al masih merasa bahwa perasaan El kapadanya abu abu, tidak ada kejelasan.
⏳⏳⏳
El menerjang hujan hingga ke depan kost Ginanjar, berharap bahwa lelaki itu ada di rumah. El mengetuk daun Kostan Ginanjar tapi tidak ada lelaki itu disana. El tidak ingin pulang, sungguh berada disana membuatnya muak.
El berdiri menunggu Ginanjar, diterpa angin yang bercampur dengan dinginnya hujan. Petir saling bersahutan menyambar, memberi keterangan yang secara tiba tiba. Tapi lelaki yang berdiri didepan rumah Ginanjar tidak juga takut, dia berdiri meskipun suara kilatan petir bersahutan.
Sampai pukul sepuluh malam saat hujan mulai reda Ginanjar tak juga datang, atau lelaki itu membuka pintu dari dalam. El masih saja diam memaku, sampai baju yang dia kenakan sedikit mengering. Tidak lama Sorotan lampu motor membuatnya menatap sorot cahaya yang mengenai wajahnya.
Ginanjar datang sambil memarkirkan motor didepan teras kostnya, dia terkejut saat melihat El yang berdiri disana.
"El, Lo ngapain malam malam disini?" Tanya Ginanjar langsung membukakan pintu.
"Boleh nginep disini gak bang malam ini?"
"Astaga elo kayak sama siapa aja sih, ayok masuk" Ginanjar menuntun motor bututnya memasuki kost dan menunggu El juga ikut masuk.
__ADS_1
"Lo kehujanan ya?" Tanya Ginanjar bergegas mengambil kan handuk "Pakek nih" katanya "sory tadi gue mampir kerumah Erik dulu, anaknya sempet cidera pas latihan tinju kemarin" cerita Ginanjar
"Oh ya El, gue tadi beli martabak, kebetulan masih anget, Lo buruan mandi gue siapin baju"
Ginanjar itu begitu baik pada El, meskipun El hanya mengenalnya saat dia masuk kedalam tinju cabang Jakarta milik Ibnu. Meskipun lelaki yang bekerja sambilan itu hanya berjarak beberapa tahun darinya tapi Ginanjar begitu dewasa, bahkan petinju dengan tubuh kekar pun akan menghormati dirinya.
Selesai mandi, El keluar menggunakan pakaian Ginanjar.
"Gimana Surabaya?" Tanya Ginanjar yang tahu dengan kabar kepergian El ke Surabaya
"Masih sama" katanya ikut duduk disebelah Ginanjar.
"Lo ada masalah dirumah?" Tanya Ginanjar
"Biasalah bang" El menatap arah depan
"El, kadang emang kita butuh sandaran bahu untuk berbagi keluh kesah. Gak selamanya masalah itu Lo tanggung sendiri, hati itu punya kapasitas untuk menahan sesuatu" kata Ginanjar bijak "Kayak perasaan, hati punya kapasitas nahan perasaan marah, sedih atau suka ke seseorang, sebelum hati elo gak kuat, mending elo cerita ke orang lain, jangan sampe" Ginanjar menyentuh dadanya "Yang disini, hati elo justru membuat elo sakit dan tambah menderita"
El masih diam mendengarkan nasihat Ginanjar, lelaki disebelahnya memang tahu caranya untuk membuat El mau berbagi meskipun sedikit dari masa lalunya atau keadaan yang kini dia alamai.
"Gimana sama pacar elo? Kemarin dia ke tempat latihan, dia nyariin Elo"
Saat Ginanjar menyebutkan kata pacar, El lantas menoleh dan menatapnya, benarkah Al mencarinya kemarin?. Tahu kalau ditatap Ginanjar juga menatap El sambil memakan martabak.
"Dia kayak kecewa gitu pas tahu elo gak ada" imbuhnya "dia gak tahu soal elo pergi ke Surabaya?"
El menggeleng "Dia gak tahu soal gue yang anak haram"
"Ck" Ginanjar berdecak "Tukan elo mulai lagi, gak ada di dunia ini yang namanya anak haram" ujar Ginanjar "Setiap anak diciptakan atas dasar kasih sayang, meskipun nantinya dia lahir di luar nikah ataupun setelah sah yang jelas anak lahir karena berkat cinta dari Tuhan" kata Ginanjar.
"Ya" El merosotkan tubuhnya untuk menatap langit langit kamar "Papa gue aja kayak nyesel punya anak gue" lirihnya
"Papa lo cuman punya alasan tersendiri aja El" Ginanjar masih berusaha membuat El berfikir positif.
"Bahkan, dia gak inget hari ulang tahun nyokap gue, dia gak pernah nyekar ke makam nyokap gue" El menatap arah depan dengan nanar "bokap gue cuman nganggep nyokap gue sebagai wanita penghibur bang, gak lebih, sedangkan nyokap gue, nganggep bokap gue sebagai masa depannya"
Tidak ada komentar dari Ginanjar lagi karena lelaki itu sepenuhnya merasa iba dengan apa yang di alami oleh El.
__ADS_1