AL Dan EL

AL Dan EL
Keajaiban Empat Puluh


__ADS_3

Tidak memiliki ekspresi tapi memiliki sejuta perasaan yang lembut


⏳⏳⏳


Setelah pulang sekolah, Al buru buru lari keluar kelas supaya Ivana tidak mengajaknya pergi ketempat yang aneh. Sangking cepatnya Al sampai tersandung akar pohon di depan gerbang, dia jatuh, sudah berdarah malu pula.


"Aw" Al merintih kesakitan, beberapa  Siswa siswi menatapnya penuh kasihan juga menertawai.


"Duh neng kalo jomblo nyium Abang aja jangan tanah" komentar salah satu siswa yang terlihat seperti bad boy


"Dia udah punya pacar" kata teman Lelaki nya


Perlahan Al berdiri, dan tiga siswa yang menggodanya tadi sudah pergi menuju motor masing masing


"Al" Kharisma heran melihat lutut Al berdarah


"Lo gak papa?" Tanya Kharisma dengan penuh simpati.


Al hanya mengangguk, berusaha menyembunyikan perih luka di siku dan lutut yang terluka. Meski lutut Al mengeluarkan darah, perempuan berwajah kecil itu justru tertawa cengengesan


"He he, Al gak papa kok, tadi Al jatuh" katanya


"Gue obatin dulu ya"


"Gak gak usah Kharisma" Al masih tertawa sambil mengipasi lutut yang tekena keringat "Kan Al mau ketemu sama El, biar nanti bisa diobati sama El"


Kharisma tersenyum miring, apalagi saat niat tulusnya harus di tolak dengan alasan lelaki bernama El Nevaro. Melihat wajah Al yang penuh keringat, Kharisma tebak, perempuan ini buru buru keluar kelas untuk menemui lelakinya, apa El tidak pergi sekolah?


"Emangnya El kemana? Bukannya dia sekolah ya?" Tanya Kharisma penuh kecurigaan, ya semalam El tidak pulang ke rumah, Kharisma juga tidak akan bertanya kemana perginya anak haram itu, toh lebih baik kalau El dengan suka rela pergi dari rumahnya


"El lagi di tempat tinju" ups Al baru saja mengatakan satu kalimat yang tidak boleh diketahui oleh orang orang


"Maksud elo?"


"Ha, enggak kok, Al gak ngomong apa apa, Al pulang dulu ya Kharisma, dadaaaaa" Al buru buru pergi sebelum Kharisma menyanyai nya lebih banyak lagi.


⏳⏳⏳


El tengah mengepel ruangan tinju yang dikelola oleh Ginanjar, lelaki pekerja part Time itu sedang sibuk kuliah. El menatap arah lantai yang sudah dia pel justru di injak oleh Erik tanpa dosa.

__ADS_1


Brakk


Alat pel itu dibanting dengan sengaja oleh El, sedangkan Erik masih saja menyapu dibagian lantai yang sudah di pel oleh El, dan Erik tidak mendengar alat pel yang dibanting, dia terlalu asik mendengarkan musik dari earphone nya.


Bugh


El terlalu geram hingga menendang pantat Erik dengan keras, lelaki kekar yang tiap kali taruhan selalu menjadi musuhnya itu tersungkur kelantai.


"*******" umpat Erik tidak terima, lelaki itu melepaskan earphone dan menarik kerah El "maksud Lo apa? Lo mau duel sama gue?" Wajah Erik tampak pias


Dan lelaki yang tanpa ekspresi ini hanya menunjukan lantai dengan kedua bola matanya. Bola mata Erik mengikuti arah mata El dan melepaskan cengkraman dengan rasa malu.


Erik memungut sapu dan berpindah ke pintu utama, mending dia pergi dari pada berkelahi dengan El Nevaro.


Erik masih bersiul sambil mulai menyapu di pintu utama, menyapu dengan gerakan yang begitu kaku hingga tubuh kekarnya sering berbenturan dengan kursi di tribun penonton.


Pintu yang semula tertutup itu perlahan terbuka, Erik kira Ginanjar pelatih utamanya sudah datang, ternyata seorang gadis berseragam SMA yang sedang menoleh kekanan dan kiri. Wajahnya begitu lucu dan kecil, rambut setengah bahu dengan bola mata hitam kecoklatan .


"Hai, kamu yang sering berantem di ring sama El kan?" Tanya Al begitu ramah.


Erik menaikan alisnya "El?" Tanya Erik  "Lo siapa?"


Jujur Erik merasa heran dengan tingkah gadis didepannya ini. Bagaimana bisa perempuan yang berwajah polos tanpa malu mengatakan kalimat sepanjang penuh kepedean.


"Lo pacarnya El, El yang gak punya ekspresi wajah itu"


"Enak aja, El itu punya ekspresi wajah, kamu aja yang gak tahu El kalau berekspresi" Al tidak terima saat El di bilang tidak memiliki ekspresi wajah


"Emangnya kapan elo pernah liat El berksrepesi?"


"Waktu El marah"


Mendengar jawaban perempuan yang tingginya hanya dibawah bahu Erik, Erik langsung tertawa. Lelaki yang baru saja dibicarakan membawa ember berisikan air kotor, alis El langsung bertautan, menatap Al tanpa bersahabat sama sekali.


"Ngapain elo disini?" Tanya El tajam


"Al kangen sama El, tadi disekolah jam nya lamaaaaaa banget, kayak gak muter muter" Al langsung mendekati dimana posisi El berdiri.


Erik menatap kearah keduanya, mereka tidak terlihat berpacaran, sungguh, Al terlalu mengejar sedangkan El hanya menatap tanpa arti kearah Al.

__ADS_1


"Lo ngapain masih disini, sana sapu bagian dalam" titah El langsung berjalan pergi yang diikuti Al dari belakang.


Mengikuti langkah lelaki yang selalu berjalan cepat membuat lutut Al terasa nyeri, perempuan itu berhenti untuk mengipasi luka di lutut sambil di tiup tiup, sedangkan El terus berjalan tanpa menghiraukan Al lagi. Dia membuang air kotor di selokan sampah, lalu kembali dan menatap Al yang masih berjongkok mengipasi lututnya.


"Lutut Lo kenapa?" Suara berat itu membuat Al mendongak.


"Gak papa kok El, tadi Al habis jatuh di sekolahan" kata Al tanpa ekspresi sakit sama sekali, perempuan itu langsung berdiri "El lagi ngapain? mau Al bantuin gak, mumpung tenaga Al masih kuat" ucapnya


"Gak perlu" El berjalan lebih pelan, sengaja menunggu langkah Al yang memelan karena lukanya.


Sampai di ruangan tinju, El menoleh kekanan dan kiri lalu meletakkan ember beserta kain pel di sebelah ring, lelaki itu menarik tangan Al menuju ruang ganti. Disana ada kontak p3k yang di siapkan Ginanjar untuk para petinju, meski para pentinju tidak akan menggunakannya.


"Duduk" titah El yang langsung dituruti oleh Alriestella.


Perempuan berambut pendek itu menatap El yang berjalan mengambil kotak p3k, mengeluarkan alkohol dan mengolesi lutut Al yang terluka. Melihat El setelaten itu entah kenapa hati Al jadi menghangat, menatap rambut rambut El dari atas sana jantungnya berdetak


"Besok kalo jalan jangan nanggung nanggung jatuhnya, sekalian jatuh dari lantai 13" kata El kejam


Al malah tertawa dan tidak sakit hati oleh kalimat El yang terdengar serius


"El ngelawak?" adalah kalimat yang berhasil diucapkan Al setelah dia tertawa terbahak bahak.


Lelaki itu meletakkan alkohol dan mengambil obat merah, mengoleskan sedikit ke lutut Al yang luka.


"Aw, hati hati El, sakit" rengek Al


El mengoleskan kembali sambil meniup niup lutut Al, mencoba menghilangkan rasa perih yang dirasakan gadis berumur 17 tahun itu.


"Mana lagi?" Tanya El setelah obat merah sudah dia oleskan ke lutut Al.


"Ini" Al menyodorkan tangannya, membuat El berpindah duduk disamping Al dan mengolesi alkohol serta obat merah ke luka yang berada di siku Al.


Perempuan itu justru tertawa cekikikan, apalagi melihat wajah serius seorang El Nevaro saat mengobatinya. El mendongak, menatap kedua bola mata Al yang menyipit karena tawa.


"El lucu tahu, masak ngobatin orang sakit mukanya galak gitu" Al menahan tawa apalagi saat El menatapnya setajam pisau.


El melanjutkan kembali mengobati luka Al yang sempat tertunda.


"Al saranin besok El jangan jadi dokter ya, soalnya kasihan pasiennya El, nanti malah tambah sakit pas liat wajah galaknya El"

__ADS_1


Lelaki itu meletakkan kotak obat dan menatap dengan intens wajah Alriestella. Begitu Al menatap arah depan mata keduanya bertatapan  begitu lama, bahkan mereka tidak berkedip dan berhenti bernafas hanya karena saling menatap. El tersenyum, senyum yang begitu terlihat hanya karena dia menatap wajah Al sedekat ini. Wajah kecil, kelompok mata sipit, alis tebal dan bibir tipis. Saat tatapan El jatuh pada area bibir Al, perlahan wajah El semakin mendekat, hingga Alriestella harus memejamkan mata dan memegang dengan erat roknya.


__ADS_2