
Aku Ingin memiliki kenangan bersamamu
⏳⏳⏳
Pulang membawa hasil rapot serta surat undangan pengikut sertaan Camping membuat Al berjalan dengan lemas. Bagi SMA Al, pengambilan rapot tidak dilakukan oleh orang tua melainkan dilakukan oleh para siswa.
Al menendang kerikir jalan sedari tadi, dia mengomel melihat hasil nilai nya
"Ihhh" dan perempuan berkuncir kepang dua menghentakkan kakinya sebal.
Al lantas menoleh dan menatap kearah El yang sedari tadi mengikutinya dengan setia
"Coba jelasin ke Al, kenapa Al bisa dapet peringkat 28 dari 32 siswa?" Al meminta penjelasan dari El, lelaki yang baru saja mendapat juara satu dikelas dan dua juara umum.
El menaikan alisnya lalu berkecap "Lo mau yang panjang atau pendek?" Tanya El
"Maksud El apa?" Al masih cemberut
"Jawaban" kata El singkat
"Pendek aja" Al melipat kedua bibirnya, hingga membentuk garis bibir panjang
"Karena Lo ****"
Jawaban yang diberikan El benar benar membuat Al marah. Perempuan berkepang dua itu memukul mukul lengan El dengan keras bahkan menghentakkan kakinya lalu berjalan lebih dulu. Beberapa menter dari langkahnya, Al lantas berbalik badan dan menatap El lagi.
"Kalau jawaban yang panjang?" Tanya Al meminta El memberi penjelasan mengenai peringkatnya dengan jawab yang panjang.
El menarik nafas lalu meletakkan telapak tangan diatas puncak kepala Al. Dan mengusapnya perlahan.
"Karena elo gak pernah belajar , elo suka tidur dikelas, elo bandel kalo diomongin guru, makanya bisa dapet peringkat dua lapan" kata El membuat Al langsung cemberut.
"Tapi bukan karena Al bodoh kan?" Tanya Al
"Iya"
Al menatap mata El " iya apa? Iya Al bodoh atau iya Al enggak bodoh?"
El menarik sudut bibir saat melihat wajah Al yang cemberut. Dilihat begini meski dengan cuacana panas membuat kecantikan Al tetap terpancar. Gadis berkepang dua yang rambutnya di terpa angin,t terlihat seperti malaikat.
"Iya Lo ****" kata El membuat Al makin menekuk wajahnya.
"Ihhh" Al bersungut "Al gak mau jalan sama El, El jahaaattt" Al lantas pergi dan mendahului El.
Lelaki yang kini menaikan alis menatap kepergian Al dengan heran. Memangnya. Apa yang salah dari jawabannya, kan El hanya berkata jujur. Lagipula memang benar kalau Al itu bodoh, bahkan satu sekolahan pun sudah tahu kebodohan nya Al yang tidak bisa berhitung perkalian.
⏳⏳⏳
__ADS_1
Dimeja makan hanya ada dentingan sendok yang beradu dengan piring. Keluarga yang nyaris seperti keluarga harmonis ini sama sama diam, Tidak ada percakapan sama sekali. Baik El dan Kharisma yang masih menikmati santapan malamnya.
"Papa sudah melihat nilai rapotmu El" kata Glori memulai bicara " tadi papa sudah baca nilai rapotmu di meja kerja papa" kata Glori menyudahi makan.
El hanya mengangguk dan ikut berhenti makan, meneguk air putih dan menatap kearah Glori.
"Papa bener bener puas sama hasilnya" Glori menepuk bahu El
Lirikan tajam dari mata Kharisma membuat El hanya menatapnya saja. Kharisma meletakkan sendok, cukup nyaring suaranya. Sengaja, Kharisma melakukannya, agar Glori tahu bahwa anak Glori bukan hanya El saja disini.
"Kamu Kharisma. Papa juga sudah melihat rapot kamu" Glori beralih ke Kharisma saat menyadari tatapan menghunus itu "Papa bangga sama kamu, nilai nilai mu hampir sempurna semua, apalagi dengan penambahan nilai olahraga yang seperti atleat" Glori berdecak kagum
"Papa bangga punya dua putra berprestasi seperti kalian"
Srekk
Selesai Glori berkata seperti itu. Kharisma menggeser kursi dan berdiri sambil menatap wajah El. Sekilas saja setelahnya lelaki itu pergi entah kemana.
Ela menatap suaminya yang seperti tertegun dengan sikap Kharisma, lelaki yang sama keras kepala seperti Glori.
"Itu hasil dari kamu yang selalu mengasarinya" kata Ela "Kamu selalu membanding bandingkan prestasi El dan Kharisma, jadi anaknya seperti itu" Ela juga segera berdiri.
Rumah ini bagi El hanya tempat menumpang tidur. Tidak ada percakapan yang membuatnya betah tinggal dirumah. Ela selalu menatapnya sinis, menatap dengan tidak suka seperti tengah menatap seorang perempuan yang merebut suaminya, selalu tidak menganggapnya ada. Kharisma membencinya sebagai anak yang merebut kasih sayang ayahnya.
Itu yang selalu El temui dirumah ini, serta meski hidup dan di perhatikan oleh Glori, El selalu tertekan. Glori menuntutnya banyak hal meskipun tidak di ucapkan dengan kalimat jelas bahwa Glori menekannya tapi kata kata yang dia sisipkan selalu mengandung bahwa Glori menginginkan El mewarisi perusahan.
Kalau sampai itu terjadi mungkin, El tidak akan memiliki hubungan yang baik dengan Kharisma.
El hanya diam saja tidak menanggapi kalimat dari Glori sama sekali.
"Oh ya, papa dengar ada acara camping di sekolahmu?" Tanya Glori saat melihat surat diatas rapot milik Kharisma.
"Iya"
"Kenapa papa gak lihat surat dari sekolah untukmu?"
"Udah El buang" jawab El singkat
"Kenapa? Apa ada masalah?"
"El gak mau ikut acara camping" kata El
"Setahu papa, acara itu diwajibkan, kalau kamu gak dapat nilai untuk kegiatan itu bagaimana?"
"Jangan khawatir, nilai El akan lebih sempurna dari ini" jawab El yang langsung menggeser kursi "permisi" ucapnya bergegas pergi keluar rumah.
Kemana lagi dia pergi kalau bukan markas tinju nya.
__ADS_1
⏳⏳⏳
El menatap Erik yang tengah berada diatas ring, hari ini bukan jadwal El untuk bertanding. Dia hanya duduk di kursi penonton menatap Erik menumbangkan lawan nya dan menjadi seorang pemenang.
"Ell" suara lirih dari arah samping membuatnya menoleh, El kaget karena yang duduk disebelahnya adalah Alriestella. Sejak kapan gadis ini disini?
"Lo, sejak kapan elo disini?" Tanya El dengan wajah penuh keterkejutan
"Baru aja, Al habis pulang manggung" ucapnya
El lantas berdiri dan menarik tangan Al untuk pergi. Mengajaknya keluar dari gedung dan berjalan disepejang trotoar yang penuh dengan keramaian.
"El gak main tinju? Atau udah pensiun?" Al menarik narik ujung switer milik El.
"Bukan jadwal gue"
"El udah makan? Kalau belum yok makan sama Al, sebenarnya Al udah makan tapi kalau El belum Al siap nemein"
"Udah"
El berhenti melangkah dan menatap Al yang sedang nyengir kearahnya. Menatapnya yang hanya mengenakan celana pendek dibalut kaos berwarna hitam.
"Lo dari mana?" Tanya El setelah sekian lama terbius oleh kecantikan Al.
"Kan tadi El udah nanya itu, Dari cafenya Om Welno"
"Oh" El melajutkan melangkah kembali.
"Lusa kan kita camping, besok El tendanya deket deket aja sama tenda nya Al, biar kita bisa berduaan" Al langsung melingkarkan tangannya di lengan El.
"Gue gak ikut"
Jawaban tu bagaikan meruntuhkan dunia Al, apalagi El terlihat serius mengatakan kalimatnya. Padahal Al menunggu momen ini, agar memiliki waktu yang banyak bersama El.
"Kenapa?" Tanyanya penuh kecemasan
El menatap wajah kecewa Al saat mendengar jawabannya
"Gue gak suka acara camping Al"
"Kalo El gak suka acara camping, El bisa suka sama Al dan ikut karena Al ada disitu" Al berusaha membujuk
Dan El justru memberikan tatapan teduh penuh keyakinan bahwa dia tidak akan ikut acara camping.
"Gue gak mau Al" ulangnya
Seiring jawaban dari El, wajah Al benar benar terlihat kecewa bahkan wajah manisnya saat tersenyum tertutupi oleh kekecewaan diwajahnya.
__ADS_1
Al benar-benar kecewa, padahal momen seperti inilah yang ditunggu tunggu, sebab acara seperti ini acara yang banyak mengukir kenangan. Apakah El tidak ingin membuat kenangan bersama Al?
Lihat saja lelaki yang berjalan santai didepan Al ini seperti terlihat tidak memiliki penyesalan untuk tidak ikut acara rutin kelas tiga