
Aku tidak pandai mengungkap kan perasaanku
Tapi setidaknya aku berusaha membahagiakan mu
⏳⏳⏳
Kelas pak Jacksen selesai, meski beberapa kali pak Jacksen mengoceh tapi membuat Al hanya diam saja, tidak menatapnya, sebelum pak Jacksen pergi, dia memandang wajah Al yang pucat, memandang dengan aneh.
Ivana dan Al masih duduk saling mendiami, seolah mereka punya dunia sendiri sendiri. Ivana tengah mencatat contoh soal yang di jelaskan pak Jacksen tadi sedangkan Al dia hanya bisa melirik catatan milik Ivana.
"Ivana" akhirnya Al memutuskan untuk menyapa Ivana terlebih dahulu
Ivana menghentikan tulisannya, seperti dia sengaja menunggu Al yang lebih dulu menegurnya
"Kalau Ivana marah karena Al pacaran sama El, Al minta maaf" kata Al lirih
"Gue gak pernah marah elo pacaran sama siapapun Al" kata Ivana dengan suara lirih takut mengundang tatapan teman sekelasnya lagi.
"Tapi gue cuman gak suka elo diperlakukan kayak gitu sama El, gue juga gak suka elo terlalu ngabisin waktu berduaan sama El" berkata seperti itu membuat air mata Ivana menetes
"Kita udah temenan dari lama Al, bukan sekali dua kali ini elo atau gue pacaran, tapi kita gak pernah terlalu ngabisin waktu sama pacar, sampe elo jarang pergi istirahat sama gue"
Al ikut meneteskan air mata, diam diam El meliriknya, melihat keduanya manangis membuat El merasa bersalah. Pertanyaan Ivana tadi membuatnya merenungkan diri, sebenarnya sebagai apa Al di hidupnya ini? Kenapa dia tidak bisa sedikitpun menjabarkan perasaannya.
Ponsel di dalam tasnya berdering, El mengeluarkan ponsel itu dan membaca pesan yang baru saja di kirim Ginanjar padanya
El memasukan semua buku dan mengambil tas serta langsung pergi begitu saja. Di ambang pintu kelas, Arnol yang tengah memakan ciki cikian menghadang jalan El.
"Eits mau kemana lo?" Tanya Arnol
El menatap Arnol dengan bengis, lelaki yang ditatap itu menurunkan rentangan tangannya, lalu nyengir
"Maksud gue tuh gini El, kalo elo mau kabur, punten atuh ajak ajak juga gue" kata Arnol selanjutnya
"Bukan urusan elo!" Ucap El langsung berjalan meninggalkan Arnol
"Woyyy El besok kalo mati gotong keranda sendiri" teriaknya menggelegar di koridor sekolah.
"Manusia apa batu sih keras banget" cicit Arnol begitu melihat El berjalan cepat.
__ADS_1
Ivana masih menangis tapi Al sudah mereda. Dia ingin melepaskan pelukan Ivana tapi takut jika perempuan ini marah lagi, melihat suara Arnol yang berteriak tadi Al tahu kalau El pergi.
⏳⏳⏳
Dikantin, Ivana, Arnol, Al, Kharisma dan Sena berkumpul, ini pertama kali mereka berkumpul dengan lengkap, maksudnya selama ini hanya ada Arnol dan Ivana, atau Arnol dan Kharisma serta Sena.
"Be makan yang banyak" kata Arnol menyodorkan gorengan kearah Al
Perempuan itu hanya mengangguk sambil tersenyum,sebenarnya Al kepikiran oleh El, kenapa lelaki itu buru buru pergi, atau karena dirinya?
"Jadi kalian udah gak marahan lagi?" Tanya Sena pada Ivana dan Al
Ivana mengangguk sambil tersenyum puas
"Emangnya kalian berantem?" Tanya Kharisma yang tidak tahu
"Jadi si Ivana ini ngerasa cemburu" jelas Sena
Al hanya tersenyum, apalagi merasa hambar dengan obrolan di meja makan ini, lebih menyenangkan menghabiskan waktu diatas roftof bersama El.
"Oh ya nanti sore kita ada pertandingan, kalian datang ya ke pertandingan kita" kata Sena kearah Ivana, Al dan Arnol
"Lo Ivana sama Al bisa datang gak kira kira?" Tanya Sena kearah mereka berdua yang tengah menyantap makanan
"Gue bisa, elo gimana Al?" Tanya Ivana kearah Al yang hanya memandangi soto tanpa menyentuhnya
Mereka semua menunggu jawaban dari Al, tetapi gadis itu hanya memandangi mangkuk tanpa menjawab.
"Be cabe, elo ditanyain tuh" suara Arnol yang keras membuat Al langsung gelagapan
"He Gimana?" Tanya Al
"Nanti kita ada pertandingan, elo bisa datang gak?" Ulang kharisama mewakili pertanyaan Sena
"Nanti ya?"
Al menoleh kearah Ivana yang menatapnya penuh harap, duh kalau Al menolaknya pasti Ivana akan marah lagi. Sedangkan AL berniat mencari El yang pergi secara tiba tiba hari ini.
"Iya Al bisa" kata Al dengan nada suara lirih
__ADS_1
"Lemes banget elo be?" Tanya Arnol melihat gelagat aneh dari Al
⏳⏳⏳
El menyusuri gang sempit dengan tergesa gesa, mendapatkan pesan dari Ginanjar bahwa Ibnu mencarinya, membuat dia buru buru harus pulang. Ibnu jarang di Jakarta, tapi ketika dia di Jakarta El harus menemuinya.
Sampai di ruangan luas yang biasa dijadikannya tinju, El dengan seragam sekolah menunduk ketika Ibnu menatapnya dengan tajam
"El Nevaro" panggilan dari Ibnu itu membuat El mengangkat kepala
"Ya bang" jawab El
Mata keduanya saling bertatap, tanpa kuda kuda, Ibnu langsung meninju wajah El hingga lelaki itu tersungkur kelantai, tidak lama El kembali berdiri seolah tidak terjadi apa apa.
"Gue denger kemarin elo minta duit hasil taruhan sama Ginanjar?" Ibnu mendekat dan mencengkram rahang El, membuat lelaki yang kini bibirnya lebam serta berdarah menatapnya
"Lo tahu kenapa elo ada disini?" Tanya Ibnu "Gue ingetin kalo elo lupa" Ibnu mendekatkan bibirnya ke telinga El "elo masih punya hutang ke gue, dan sampe hutang elo lunas, artinya elo harus tinju dan menangin taruhan" kata Ibnu melepaskan cengkraman nya
El menatap Ibnu tanpa eksrepi, dia tidak takut, sungguh wajahnya terlihat biasa biasa saja. El terlalu terbiasa dengan situasi ini.
Ya, biar ku jelaskan sedikit. El Nevaro sebelum di boyong oleh Glori Semanding, dulu dia tinggal di Surabaya bersama ibunya Eviana. Perempuan itu bukan hanya meninggalkan El dengan predikat anak haram tanpa ayah, tetapi juga meninggal karena kanker rahim, pengobatan Eviana memang ditanggung oleh Glori selama perawatan terkahir tapi untuk perawatan selama setahun sebelum Eviana meninggal, El lah yang banting tulang mencari uang.
Lelaki berwajah dingin itu memang tidak tahu bagaimana dia mengekspresikan perasaannya, dia dibesarkan oleh kerasnya kehidupan, dibesarkan oleh sarung tinju yang membantunya mengekspresikan kekesalan, hingga pada akhirnya El memutuskan meminjam uang kepada Ibnu, pelatih tinju SD nya. Hutang yang hanya sebiji jagung kini sudah setinggi apartemen.
El hanya bisa pasrah, menatap ekspresi wajah kesal dari Ibnu.
"Pasti gue Bayar bang" kata El akhirnya bersuara
"Lo bayar, pakek daun" Ibnu meremehkan "gue tahu sekarang elo jadi keluarga kaya, tapi gue gak yakin gimana ekspresi saudara tiri elo kalau elo minta uang bokap elo"
El menarik nafas mengepalkan tinju dan menatap wajah Ibnu
"Gue gak akan minta duit ke mereka" kata El hingga urat leher nya terlihat "tapi gue akan bayar dengan tenaga gue sendiri !!!" kali ini nada El Menaik
Ibnu bersiul "hajar dia" titah Ibnu yang akhirnya membuat beberapa petinju Ibnu, termasuk Erik menghajar El.
Lelaki itu ditendang habis habisan dipukul hingga babak belur oleh beberapa petinju, El tersungkur lemas, menatap Ibnu dengan sisa tenaga.
Ibnu, duduk Jongkok sambil mengusap beberapa darah yang ada di wajah El dengan saputangan.
__ADS_1
"Lo itu petinju paling gue sukai" kata Ibnu "Lo harus ngasilin duit dan lunasi hutang elo" kata Ibnu menepuk wajah El.