AL Dan EL

AL Dan EL
Keajaiban Dua Puluh Delapan


__ADS_3

Perempuan terajaib yang kutemui setelah ibuku adalah kamu


⏳⏳⏳


El berpisah dengan Al setelah gadis itu masuk kedalam cafe Welno, meninggalkan gadisnya manggung sendiri disana. El menuju gedung tua tempat dimana dia melakukan tinju.


Disana, beberapa penonton sudah memadati Tribun juga lawannya Erik sudah berdiri diatas ring.


"Buruan" teriak Erik dari atas sana


Meski mereka berkelahi di atas ring bukan berarti mereka juga berkelahi dibawah ring. Bagi El, dia bisa melampiaskan kemarahan hanya diatas ring selebihnya El tidak akan mau melampiaskan kemarahannya


El sudah berganti, mengambil ancang Ancang dan memulai pertandingan. Kemampuan Erik semakin berkembang setelah dia mati mati berlatih, dipermalukan El dan membayar uang taruhan sangat memukul hatinya.


Saat ini El malah merasa kewalahan sendiri menghindari tinjuan Erik yang membabi buta, tapi satu keuntungan bagi El, Erik yang terlalu bersemangat menyerang El mulai kehabisan tenaga, gerakan Erik mulai melemah juga dia mulai tidak se was was sebelumnya. Pukulan terkahir, di bagian kepala, mampu membuat tumbang seorang Erik. Lagi lagi El memenangkan pertandingan dan Erik hanya mampu mengumpat.


El turun dari ring bersama sorakan penonton, disambut oleh Ginanjar pelatihnya yang berbadan tegap dengan lengan otot kekar.


"Permainan elo emang gak ngecewain El" puji Ginanjar tulus


"Erik aja bang yang gak tahu taktik" El duduk dan meminum air mineral, menatap Erik yang baru saja berdiri


"Oh ya bang yang gue WhatsApp pin semalam udah ada?" Tanya El pada Ginanjar


"Oh duit ya?" Tanya Ginanjar "udah" Ginanjar ikut duduk di sebelah El "ngomong ngomong, kalau boleh tahu mau buat apa?" Tanya Ginanjar


El menoleh kearah Ginanjar "Buat beli gitar bang" katanya


Sebenaenya niat mengganti gitar untuk Al sudah lama tapi El harus mengumpulkan uang terlebih dahulu. Dia merasa bersalah karena merusak gitar kesayangan Al. Bukan karena ucapan Arnol dan Ivana tadi siang yang menanyakan alasan dari rusaknya gitar Al, tapi karena El menunggu dia punya uang.


"Lo bisa gitar?" Wajah Ginanjar begitu cerah apalagi saat tahu kalau uang hasil taruhan tinju untuk beli gitar


"Enggak bang" El berpangku tangan diatas tumit kaki "Buat orang" katanya sambil menarik sudut bibir


"Cewek kuncir dua itu?" Ginanjar ingat kalau El pernah membawa seorang cewek ke sini, bahkan membawanya sampai keruang ganti, kalau Ginanjar tebak hubungan mereka tidak sebatas teman saja.


El menoleh "dari mana Abang tahu?" Tanyanya


"Ha ha ha" Ginanjar justru tertawa "El El, elo tu gak bisa bohong sama gue" katanya "lagian tu cewek pas pertama kesini emang suka bawa gitar kan" Ginanjar tertawa saat ingat itu


Tawa itu entah kenapa menular ke El, perlahan sudut bibirnya terangkat meski tidak lebar.


"Hutang gue, tolong potong dikit aja dari uang taruhan tadi bang" tukas El menunduk


Ginanjar menepuk bahu El "Lo tenang aja, selama bang Ibnu gak tahu semuanya aman" kata Ginanjar


⏳⏳


El berdiri terpaku didepan deretan gitar yang tidak dia ketahui sama sekali. Semuanya tampak sama, ada tabung dan juga kepala gitar serta senar. El tidak tahu gitar mana yang bagus dan sama dengan punya Al yang dia rusakkan kemarin.


"Pak, gitar yang paling bagus yang mana?" Tanya El pada penjual gitar


Lelaki yang sedikit lebih tua dengan dandanan ala anak band jaman dulu mendekati El.

__ADS_1


"Nyari gitar model gimana dek?" Tanyanya


El bingung, memangnya ada model gitar bagaimana? Kalau lelaki disebelahnya ini bertanya mengenai sarung tinju paling bagus, El tahu jawabannya


"Yang paling bagus" kata El bingung


"Yang paling bagus yang ini" lelaki itu menunjuk salah satu gitar yang di letakkan di lemari kaca "Ini Taylor Guitar"


El manggut manggut "harganya berapa?" tanyanya


"4,5 juta aja dek, termasuk murah ini, di tempat lain harganya 5 jutaan" kata lelaki itu


Gila saja 4,5 juta disebut murah, hanya untuk gitar yang bunyinya sama dengan yang harga biasa. El menggeleng, uang nya kurang. Lagi pula kenapa si Al itu menyukai musik, kenapa tidak tinju saja biar dia mudah membelikan Al sesuatu


"Ada yang lebih murah lagi?" Tanya El


"Mau harga berapa? Dibawah dua juta atau di bawah satu juta?"


El diam lagi, gitar punya Al itu harganya berapa, kalau El membelikannya yang lebih murah rasanya dia tidak enak, kalau membelikan yang lebih mahal, uang El tidak akan cukup


"Dibawah satu juta aja" kata El akhirnya setelah diam mengamati gitar disekelilingnya


"Nah kemari" lelaki itu membawa El ke deretan gitar warna hitam, putih, juga cream.


El mengamati gitar yang digantung, mengamati lebih seksama.


"Ini merk Yamaha APXT2, harganya satu juta delapan ratus, nah yang ini merk Corx SFX-Me-OP, harganya satu juta tuju ratus"


El mengamati, warna nya cukup menarik, disesuaikan dengan tubuh Al yang kecil akhirnya El memilih gitar dengan tabung kecil, juga bewarna putih. Setelah membayar, El membawa gitar itu kerumah Al, tentu saja dengan kebingungan , bagaimana El memberikannya? Terasa aneh kalau tiba tiba El memberikannya begitu saja.


Krek


Belum sempat El mengetuk, Al keluar dari rumah sambil membawa kantong plastik berisikan sampah sampah kertas. Al kaget melihat El yang berdiri mematung didepan rumahnya


"El" panggil Al dengan wajah sumringah "El udah lama disini?" Tanyanya


El menggaruk tekut kepalanya lalu mengangguk lemah


"Masuk yuk" Al menarik tangan El


"Sampah elo" kata El mengingatkan


"Oh iya" Al nyengir "bentar dulu ya, Al mau buang sampah"


Dan gadis berkuncir satu itu sudah berlarian keluar rumah, kedepan pagar untuk membuang sampah, El hanya mematung menunggu kedatangan Al didepan pintu rumah.


"Yok masuk" ajak Al dengan wajah senang, El menurut ikut masuk kedalam rumah Al yang minimalis, tatanannya rapi dengan cat bewarna putih polos.


"Duduk El" Al mempersilahkan duduk tetapi dirinya tidak segera duduk


"El mau minum apa?" Tanya Al "mau jus, susu, kopi, atau teh?" Tanya Al


El bingung "terserah elo aja deh"

__ADS_1


Al tersenyum Seneng "air putih aja ya" kata Al masih dengan senyum lebar "soalnya jus, susu, kopi sama teh nya lagi gak ada" kaat Al selanjutnya


Kalau tidak ada kenapa tadi di tawarkan, El geleng geleng melihat kelakuan Al yang makin hari makin ajaib. Setelah Al pergi dan mengambil air putih, Al duduk disebelah El, Mengamati apa yang dibawa El kerumahnya


"El mau belajar gitar?" Tanya Al


"Ee ini" El tergagap, tiba tiba merasa gugup, apalagi di pintu menuju ruangan tengah rumah Al, orang tuanya tengah mengintip disana.


Astaga, apa sekarang El tengah di mata matai, apa orang tua Al tahu kalau dirinya anak haram dan membuat orang tua Al jadi sesensitif itu?.


"Bokap sama nyokap elo emang suka ngintipin orang ya?" Tanya El dengan suara pelan sambil menunduk supaya orang tua Al tidak tahu


"Ha, papa sama Mama nya Al" Al menoleh kearah pintu menuju ruang keluarga.


Dan kepala Jovan dan Bella tengah bertengger disana.


"Mamaaaaaaa papaaaa ngapain sih" selanjutnya Al teriak, dan itu betul betul mengagetkan


Jovan dan Bella yang tertangkap basah lantas berdiri dengan penuh wibawa. Dia mendekati El, lalu menyalami El dan menyambut kedatangan pacar putrinya


"Ini yang namanya El?" Tanya Jovan


"I-iya Om" El gugup, apalagi mata Jovan seperti tengah menyelidiki


"Al udah cerita banyak tentang kamu" kata Jovan menepuk bahu El  "Si Dul nya gak diajak?" Jovan seperti sengaja membuat lelucon agar El tidak setegang ini


"Ha?" El terperagap, bingung siapa yang tengah ditanyai Jovan


"Ha ha ha" Jovan tertawa "Santai saja, Om cuman becanda" katanya


"Ngomong ngomong, apa kamu gak punya HP?" Tanya Jovan lagi


El mengernyitkan dahi, memangnya kenapa Jovan bertanya seperti itu.


"Pu-punya Om" kata El gugup


"Sini Om minta nomor kamu" kata Jovan menyodorkan ponselnya


"Ihh papa ngapain minta minta nomor pacarnya Al" Al ingin merampas ponsel Jovan tapi sudah lebih dulu berada di tangan El.


Lelaki yang sedang dilanda kegugupan itu akhirnya mengetik nomor ponselnya dan memberikan kembali pada Jovan. Tentu saja sebuah senyum merekah terbit di wajah Jovan


"Terimakasih ya, silahkan dilanjutkan obrolannya" kata Jovan lalu berpamitan undur diri


"Alriestella, nak El nya jangan disuguhi minum air putih aja dong" kata Bella yang tahu kalau didepan El hanya terhidang air putih


"Ada nya ini kok" jawab Al polos


"Nak El mau minum apa, air putih, jus, kopi, susu atau teh"


Daftar minum yang disebutkan Bella pun sama persis dengan yang disebutkan Al. El menarik nafas.


"Air putih aja Bu" kata El

__ADS_1


"Iya bagus itu, soalnya dirumah ini cuman ada air putih, belum belanja lagi" kata Bella tersenyum "yasudah silahkan dilanjutkan"


Astaga beberapa menit dirumah ini saja El merasa bingung, kenapa mereka ini seajaib itu, pantas saja bisa melahirkan Al yang seperti ini, ternyata itu keturunan gen. Luar biasa.


__ADS_2