AL Dan EL

AL Dan EL
Keajaiban Lima Puluh Sembilan


__ADS_3

Kadang mengaku lemah sama orang lain gak akan nurunin derajat elo


⏳⏳⏳


Arnol terjatuh kebelakang sambil mengatur nafas, dia sempat menjatuhkan senter ponsel yang dipegang, lalu kembali mengambil senter ponsel dengan sisa tenaganya. Mencoba mengintip sekali lagi dibawah, berharap kali ini bukan genderuwo atau hantu yang dia lihat.


Senter itu dengan gemetar diarahkan ke jurang, menatap seseorang yang tengah berpegang pada ranting pohon.


"El" lelaki yang baru saja ditatap dengan baju sobek sobek adalah El.


Lelaki itu menatap wajah Arnol dengan kehabisan tenaga. El tidak meminta tolong, hanya diam saja tanpa arti. Sungguh, dia sudah lelah berusaha untuk naik, sedangkan tangan kanan nya terkilir.


"Lo beneran El temen gue kan?" Tanya Arnol memastikan.


El hanya menatap Arnol, berharap lelaki itu bisa diam sebentar dan membantunya naik ke atas tanpa banyak tanya lagi, tangan kanannya sudah lelah berpegang pada ranting pohon.


"Kalo elo beneran El temen gue, coba elo sebutin, jam gue ngupil di kelas" Arnol masih saja mengoceh sedangkan pegangan El semakin melemah.


Mata El menatap dengan sorot tajam penuh kekejaman kearah Arnol. Kalau saja posisi lelaki itu tidak diambang kematian, mungkin El akan menghabisi Arnol sekarang juga.


"Apa, Lo gak bisa jawab?" Arnol masih terus mengoceh


"Setiap waktu elo ngupil" kata El akhirnya dengan suara lemas


Arnol lantas meletakkan senter dan mengulurkan tangan, menarik tangan kanan dan kiri El bersama bantuan dorongan dari kedua kaki El. Arnol menarik tangan El sekuatnya, hingga lelaki itu berhasil keluar dari jurang yang tidak dalam namun banyak bebatuan.


Diatas El merebahkan tubuhnya sambil mengatur nafas, dia mengingat kembali keputus asaan saat dibawah tadi, berharap bahwa Al dapat selamat meskipun terselamatkan oleh Kharisma dan bukan dirimu.


"Lo gimana ceritanya bisa sampe kesitu?" Tanya Arnol.


"Al gimana?" tanya El sambil berdiri dengan keadaan lengan yang tergores.

__ADS_1


"Oh iya, gue belum tahu" Arnol kembali mengambil senter ponsel dan melihat ponselnya.


Tidak ada sinyal disini, bahkan saat Arnol memulai konfigurasi sim card ponselnya pun tidak ada sinyal yang dia temukan. Arnol menatap El yang tengah meringis menyingkirkan kotoran tanah diluka lengannya. Melihat ekspresi lelaki yang jarang sekali berekspresi itu diam diam Arnol merasa iba.


"Gimana ceritanya sih elo bisa masuk ke jurang kayak gitu?" Tanya Arnol sekali lagi


El tidak menggubris justru sudah berupayaa berjalan dan pergi kearah motornya


"El" panggilan dari Arnol membuat langkah El terhenti, lelaki itu menoleh nya, lalu mengangkat alis tanda bertanya "ada apa" yang dia sembunyikan dalam isyarat.


"Lo kenapa bisa masuk kesitu?" Tanya Arnol sekali lagi.


"Bukan urusan elo" tukasnya kembali berjalan dengan kaki pincang nya "Lo balik aja, kemungkinan Al udah ditemuin" kata El melanjutkan langkahnya


Ya, tidak mungkin Kharisma tidak membawa Al, El yakin lelaki itu akan berlagak seperti ksatria untuk nya. Setidaknya El tidak merasa terganggu akan hal itu, yang terpenting, perempuan dengan senyum paling manis sedunia bisa kembali .


El berhenti melangkah, apalagi saat kakinya terasa nyeri, dia menunduk menyeka keringat dan menahan sekuat tenaga kakinya.


Srek


"Kadang mengaku lemah sama orang lain gak akan nurunin derajat elo" ujar Arnol melanjutkan kembali langkahnya.


Keduanya hanya terdiam saja sambil kembali kerute jurit. Begitu sampai di rute pos empat yang dekat dengan jalan raya, suara ponsel Arnol terdengar.


Lelaki itu merogohnya lalu menemukan sinyal disini, dia juga membaca beberapa notif pesan dari teman-teman sekelas termasuk Gandi dan Febri yang sudah kembali ke tenda.


"Al udah ditemuin sama Kharisma" Arnol menghentikan kalimatnya "Eh bentar" katanya menatap mata El yang tengah melirknya


"Dari mana elo tahu kalo Kharisma nemuin Al, sedangkan tadi dia bilang sama gue kalo Kharisma gak tahu dimana keberadaan Al" Arnol kembali menjeda "atau jangan jangan Kharisma sengaja ngumpetin Al" tebaknya


El melepaskan papahan Arnol dan kembali berjalan sekuat tenaganya menuju motor yang dia parkir kan agak jauh dari area jurit.

__ADS_1


"Gue ketemu dia tadi" jawab El lirih


"Apa? Lo ketemu dia?, Dimana?" Arnol menyeimbangi langkah El yang terpincang-pincang sambil kembali memapah lelaki tanpa tenaga itu.


El masih saja membisu, diam tanpa menjawab satu patah kata pun.


⏳⏳⏳


Setelah mendapatkan pertolongan pertama Al duduk di tenda Arnol, tenda yang dilengkapi dengan kasur pompa paling empuk di camping. Al menatap sekeliling dan menangis terisak isak saat tahu El tidak perduli dengan dirinya.


"Kenapa sih elo tiba tiba nangis?" Ivana duduk disebelahnya, lalu menyodorkan sebotol air mineral yang hanya diterima tanpa diminum oleh Al.


"Al sakit hati aja sama El, masak dia gak perduli sama Al, bahkan pas Al ngilang El sama sekali gak usaha buat nyariin Al, dia malah pergi bawa motornya" Al kembali terisak sambil menyeka air mata dengan punggung tangan.


"Udah lah" Ivana mengelus bahu Al yang naik turun "Kan dari awal gue pernah bilang, cowok kayak El gak usah dikasih hati, dia gak pernah ngerti namanya hati, cowok modelan El itu bisanya cuman nyakitin"


Al benar benar terisak, apalagi sudah hampir dua jam dirinya ditemukan El sama sekali tidak muncul, kalau El sedang mencarinya kenapa lelaki itu tak kunjung datang kesini?


"Padahal Al itu sayang banget sama El, Al berharap El bisa luluh sama perasaan Al" perempuan itu menyeka air mata "tapi ini malah apa, semakin hari El bukannya ngebuka hati malah semakin hati El makin ngejauh sama Al"


"All, gue kasih tahu ya. Gue ngomong kayak gini bukan karena gue gak perduli atau pengen elo lebih sakit lagi tapi gue pengen elo bisa bukak hati elo" Ivana menatap Al sambil menyeka air mata sahabatnya "Lo lihat selama ini sikap El ke elo, pernah gak sih dia perduli sama elo?, bahkan saat elo ngemis ngemis biar dia ikut camping, El tetep aja gak dateng. Bahkan pas elo udah capek capek bikin surprise hari jadi kalian yang seminggu dia sama sekali gak dateng" Ivana menjeda "Mending saran gue, elo jauhin si El, kita lihat setelah elo jauhin dia apa dia ada perubahannya" saran Ivana yang ditatap Al dengan isak tangis.


"Kadang cowok itu perlu dikasih pelajaran kehilangan dulu biar dia tahu apa arti kita sebenarnya" tambah Ivana.


Al mengangguk paham. Rasanya hati Al terlalu banyak di sakiti oleh El, mengenai apapun El selalu jadi pihak yang egois, tidak pernah mengalah dalam hal sekecil apapun padanya.


Ivana bangkit dan memberikan waktu sendiri untuk Al, perempuan itu sudah menghilang dibalik tenda Arnol. Meninggalkan isakan yang semakin menjadi dari matanya.


Al mengambil ponsel dan mendial nomor El, nomor lelaki yang dia dapatkan dari ayahnya.


Sambungan terhubung terdengar, lalu selanjutnya Al langsung membelalak kan mata, mampu menghentikan jantungnya berdenyut

__ADS_1


"Halo" suara itu adalah suara perempuan, suara perempuan yang terus mengucapkan kata halo berulang ulang.


Al lantas mematikannya sambil menangis terisak isak. Apakah El pergi disaat dia menghilang untuk bersama perempuan lain?. Apakah lebih penting perempuan itu dibandingkan dirinya? Kenapa? Apa ada orang lain yang bisa memberikan sesuatu yang tidak bisa Al berikan padanya.


__ADS_2