
Mengingat Luka sama Saja sedang memeluk kaktus
⏳⏳⏳
Al terjatuh, tapi dia segera berdiri dan berlari dengan cepat, sampai langkahnya begitu kuat. Untung Leo tidak mengikutinya sampai ke rumah, karena saat Al membuka pintu rumah tidak ada tanda tanda Leo mengikutinya
"Kamu kenapa?" Bella menghampiri Al yang sedang berdiri dibelakang pintu
"Mama Al takut" Al lantas memeluk ibunya
"Ada apa? Cerita sama mama?"
"Al ketemu sama Om Leo" nafas Al masih memburu, wajah nya begitu pucat
"Ada apa?" Mendengar nama Leo kakak iparnya disebutkan, Jovan langsung mendekat.
"Tadi, Al ketemu sama Om Leo didepan cafe Om Welno" ceritanya dengan penuh ketakutan
"Sayang, Leo itu masih di penjara, gak mungkin dia bisa keluar di luar" Jovan berusaha menenangkan putrinya
"Papa pastiin Leo gak akan berani nyentuh kamu lagi" kata Leo dengan mati matian menahan amarahnya.
Bayangkan, mendengar jeritan putrinya di tengah malam begitu menyayat hati, saat tahu kalau kakak iparnya itu berniat tidak senonoh kepada putrinya saat Al tertidur. Apalagi itu bukan kali pertama Leo berniat tidak baik, sudah hampir tiga kali namun gagal. Membayangkan mengenai hal menjijikan itu membuat rahang Jovan mengeras.
"Bawa Al ke kamar ma" perintah Jovan pada Bella.
Istrinya lantas membawa Putri mereka menaiki tangga. Saat melihat Al dan Bella sudah tidak terlihat. Jovan lantas mengambil ponsel dan mendial nomor Enggal , teman polisinya di Jogja dulu.
⏳⏳⏳
Kharisma mendorong pintu, mencari keberadaan Ella yang sudah kembali kerumah sejak kemarin. Tapi perempuan bermata indah itu tidak dia temukan dikamar
"Maa" panggilan dari Kharisma tidak dijawab sama sekali oleh Ella.
Kharisma masih menjelajahi rumah area bawah. Tapi tidak dia temukan Ella sama sekali. Kharisma sempat berhenti didepan tangga, menatap arah depan, apa mungkin Ella ada di kamar atas? Kamar itu adalah kamar El, mana mungkin Ella disana. Sebenarnya Kharisma berniat kembali ke kamar, tapi diurungkan begitu melihat pintu kamar El terbuka, dia lantas beranjak keatas, menapaki tangga dan menoleh kekanan serta kiri.
Kharisma mendorong pintu kamar dengan perlahan, melihat Ella yang sedang memandangi kamar El. Sesuatu yang aneh, tentu saja?
__ADS_1
"Ma. Mama ngapain disini?" Tanyanya yang di toleh oleh Ella.
Keanehan justru terasa, Ella menangis disini. Untuk apa, Ella seharusnya menangis untuk dirinya bukan menangis dikamar anak selingkuhan suami.
"Mama kenapa nangis?"
Ella langsung menyeka air mata dan tersenyum kearah Kharisma,.
"Mama kok ngerasa kasihan ya sama El" suara Ella terdengar begitu lemah.
"Mama apa apaan sih, Mama harus inget dia itu siapa, dia anak dari selingkuhan papa" Kharisma memperjelas posisi El disini.
"Mama tahu, tapi Mama ngerasa kasihan aja ngeliat El, dia itu gak punya siapa siapa selain kita" Ella memandangi putranya "El itu sosok anak yang menunjukan penderitaannya secara diam, entah kenapa setiap Mama liat dia, Mama jadi ngerasa kasihan"
Kharisma menarik nafas "Maaaaa"
"Kharisma" Ella memandangi putranya dengan begitu lekat "Mama tahu rasa sakit kamu sama El, tapi denger Mama, selama Mama dirumah sakit, El itu baik banget sama, dia memperlakukan Mama seperti dia memperlakukan ibunya"
"Mama tahukan dia punya penyakit mental, bahkan papa sendiri yang bilang ke kita"
Ella memegang tangan Kharisma, dia sangat mengerti bagaimana rasa sakit dan dendam yang selama ini di rasakan oleh Kharisma.
Kharisma terdiam memandang arah kasur yang mendingin, yang hampir berpuluh-puluh jam tidak ditempati pemiliknya. El memang tidak pernah membantah, meski dia selalu berwajah dingin.
"Kharisma belum bisa nerima dia" Kharisma melepaskan tangan Ella dan beranjak pergi.
"Enggak sekarang, awalnya Mama juga gak nerima kehadiran El, tapi sekarang Mama udah bisa, Mama harap Kharisma juga bisa ngelakuin hal itu"
Kalimat itu tidak lagi mampu membuat Kharisma berhenti, lelaki itu terus melangkah dengan kekosongan hati. Menerima anak yang sudah berhasil menggeser posisinya di rumah? Apakah dia bisa?
⏳⏳⏳
El memandangi ring dengan tatapan kosong, lebam diwajahnya tidak lagi membuat dia merasakan sakit. Ada sebersit kerinduan pada rumah, tapi tidak sebanyak rindunya pada Al. perempuan dengan senyum paling riang itu apa kabar ya?
"Minum El" Ibnu menyodorkan sebotol air mineral.
Lelaki yang duduk dengan keringat bercucuran itu hanya memandanginya tanpa menerima. Akhirnya botol itu diletakkan Ibnu di sebelah El, lalu dia ikut duduk disebelah.
__ADS_1
"nanti pertandingan antara elo sama Edwar, gue harap elo bisa menangin tinju ini"
El melirik Ibnu "Apa pernah gue kalah diatas ring" kelakarnya
"Heh" Ibnu tersenyum kecut "******** Lo" katanya lantas pergi.
El memandang kepergian Ibnu, tidak lama Ibnu tampak menyambut kedatangan seorang laki laki bertubuh cungkring dengan jenggot di sekitar dagu, rambut bewarna coklat. Lelaki yang baru El lihat hari ini.
Tapi El tidak perduli, dia memilih masuk kedalam ruang ganti dan kembali beriap siap, sudah empat pertandingan yang dia lakukan hari ini.
Kemungkinan mati karena kalah tinju sangat kecil tapi kemungkinana mati karena kelelahan itu sangatlah besar. El sudah bersiap, disambut tepuk tangan keras dari para penonton. Dua laki laki kini saling berhadapan, memasang kuda kuda penyerangan.
El masih bisa mempertahankan posisinya, musuhnya kini mulai menyerah, bahkan sudah menghantam wajah El yang di halangi kedua tangannya.
Main di dalam ring yang dibutuhkan adalah kecepatan, ketelitian dan kecerdikan. Diatas ring berarti kita dipaksa berpikir lebih cepat.
⏳⏳⏳
Ibnu memasuki ruangan bersama lelaki yang tadi sempat El lihat, menatap lelaki itu tanpa berani memandangnya sebagaimana dia memandang bawahannya. Ingat lelaki ini adalah sumber uang.
"Saya mau kalian cari orang ini" lelaki itu menyodorkan selembar foto.
Ibnu menerimanya, memandang dengan sejenak. Kalau tidak salah dia pernah bertemu dengan orang ini, tapi tidak tahu dimana, atau hanya perasaannya saja.
"Saya akan kasih berapapun yang kamu minta" kata lelaki itu dengan suara mantap
Ibnu tentu senang, potensi untuk mengembangkan bisnis judi petinju akan semakin lebar lagi.
"Siap" jawab Ibnu juga tak kalah mantap
"Oh ya, petinju barumu" lelaki itu mengusap dagu dengan tangan, "saya suka sama dia, dia bisa menjadi sumber yang terbesar untuk bisnis ini" katanya beranjak berdiri.
"Tenang saja bos, dia tidak akan berani macam macam dengan kita" kata Ibnu terdengar menyakinkan
"Ah gak gak, bukan karena dia pintar di ring" lelaki itu memandang El yang sedang bertanding, "tapi karena dia yang punya info mengenai orang yang saya cari" katanya tersenyum
"Maksud bos orang ini" Ibnu mengangkat foto yang tadi disodorkan
__ADS_1
"Ya" ucapnya lantas beranjak setelah El dinyatakan wasit memenangkan pertandingan.
Bersama langkah Ibnu yang mengantarkan lelaki itu, El menatap kepergian mereka, mengawasi dari atas ring langkah ketiganya beriringan keluar gedung.