AL Dan EL

AL Dan EL
Keajaiban Enam Puluh Sembilan


__ADS_3

Ketakutan terbesar bukan terletak pada keadaan tapi pada diri sendiri


⏳⏳⏳


El tidak sempat melawan setelah di pukul kayu di tekuknya. Yang jelas dia baru sadar setelah badannya diikat di atas kursi, El sempat menggelengkan kepala karena begitu merasakan pusing. El melihat disekeliling tidak ada siapapun keculi empat ekor anjing yang berada di dalam kandang, anjing jenis doberman dengan warna hitam kecoklatan itu mengeluarkan taring dan mengogong.


Tidak lama, pintu yang semula tertutup dibuka kembali, Ibnu berjalan tanpa didampingi siapapun, begitu melihat Ibnu masuk kedalam ruangan, para anjing itu langsung terdiam, bahkan kehilangan nyali nya semula.


"Udah bangun?" Tanya Ibnu mendekati El dan menggeser kursi untuk duduk didepannya


"Gimana Surabaya? Masih seramah dulu atau tetap jadi kota menjijikan untuk elo" Ibnu membuang Putung rokok kesebelas, didepan kandang anjing.


"Lo mau apa dari gue?" Tanya El menatap Ibnu


"Semuanya" Ibnu tersenyum "Lo bilang Lo mau ngelunasi hutang elo kan?" Ibnu mencengkram rahang El "Lo kudu bayar hutang karena udah mempermalukan gue di Surabaya" cengkeramannya terlepas bersama wajah El yang terhempas ke sebelah kanan.


"Lo masih ingat, saat elo kabur dari markas gue buat ke Jakarta" Ibnu menatap El, seperti menatap orang paling menjijikan yang pernah dia temui.


Setelah ditemukan oleh Glori, El memang sempat pergi, tidak pamitan kepada Ibnu, hingga memancing kemarahan lelaki itu. Bagi Ibnu kehilangan El seperti kehilangan anaknya, Ibnu benar benar seperti di khianati orang yang selalu dia percaya.


El hanya memandangi Ibnu tanpa mau melawan, memandangi dengan pemandangan kosong.


"Heh anak haram, Lo mau bayar utang elo sama gue?" Tanya Ibnu dengan sadis


"Gue mau elo jadi budak gue, sampe nanti sampe gue bosen dan sampe elo mati" katanya memandang wajah El


Lelaki yang dipandang justru menyeringai, dia menatap Ibnu seperti tengah kasihan pada makhluk Tuhan didepannya.


"Lo gak akan bisa ngelakuin itu" ujarnya "Lo mau nerima gue jadi petinju elo atau Lo gak akan dapet petinju kayak gue lagi"


Ibnu menampar El dan berdiri, memandang lelaki didepannya, tahu kalau saat ini Ibnu sedang menimang sesuatu El lantas mengambil kesempatan untuk mempengaruhi lelaki didepannya ini, boleh saja Ibnu menang dalam otot, tapi lelaki itu begitu bodoh dalam berpikir.


"Udahlah, gak ada ruginya juga lo ngambil gue jadi petinju lagi, gue tahu Surabaya ini diambang kehancuran karena gak punya petinju andalan" El tersenyum smrik "Dan gue juga tahu kalau lo beli petinju dari bang Marko"


El menyelonjorkan kakinya. Karena hanya itulah satu bagian dari tubuhnya yang bisa dia gerakan, yang lainnya terikat dengan kursi. Ibnu terlihat menatap El seperti sedang menimang sesuatu


"Milih mana bang, ngeluarin duit sebegitu banyak buat beli petinju dari Marko atau nerima gue dan gue ngelunasi hutang selama dua tahun"


Ibnu memandang nya lalu "bisa jamin berapa selama dua tahun itu?"


"Seperti dulu, saat pertama bang Ibnu ngenalin gue diatas ring, saat Abang bisa bukak cabang di luar kota" tukas El mantap


Dan lelaki yang hampir buntu oleh pikiran itu memilih menerima tawaran El. Ibnu lekas berjalan keluar ruangan dan tidak lama dua lelaki bertubuh kekar keluar untuk melepaskan ikatan di tangan serta badan El.


"Lo disuruh siap siap, abis ini Lo tanding diatas ring" kata salah satu dari mereka yang juga beranjak pergi.

__ADS_1


Setidaknya El bisa bernafas lega, meskipun dua tahun nanti dia akan hidup layaknya dineraka, yang jelas, El bisa terbebas dari cengkraman Ibnu.


⏳⏳⏳


Al hanya bisa memandangi kaca kelas dengan sedih. Setelah El meninggalkan sebuah surat yang membuat tanda tanya, hati Al seolah kehilangan belahan jiwa, surat itu seperti sebuah perpisahan yang disampaikan El dengan sebuah isyarat.


"Be, Lo gak mau kekantin?" Tanya Arnol yang sedari tadi melihat Al diam sendiri.


Al menggeleng saja, menatap wajah Arnol dengan berkaca kaca


"El pergi" katanya


"Pergi kemana sih, pasti dia balik ke rumah" Arnol berusaha menyakinkan.


Al menggeleng, dan air matanya jatuh begitu saja "Kalo El gak pergi El pasti sekolah" dia menyeka air matanya


"Be, siapa tahu si El mager kesekolah, dia milih rebahan di rumah" Arnol berusaha membuat Al berfikir positif meski, siapapun orangnya kalau di tinggalkan pesan sesingkat itu akan membuatnya sakit.


Al menenggelamkan kepala, dia memandang arah meja El.


"Nomornya gak bisa di telfon" kata Al lirih


"Lo udah tanya sama Kharisma, mereka kan sodara" celetuk Febri dari arah belakang


Febri menggeser kursi dan memandangi Al yang sedang meratapi kehilangan.


"Lo berantem ya sama Ivana?" Tanya Febri


"Iya" jawab Arnol


"Kenapa?" Febri memandang wajah Arnol


Lelaki yang dipandang justru mengangkat bahu tanda dia tidak tahu.


"Bener ya kalo elo lebih milih El daripada Ivana?" Tanya Febri terdengar hati hati


Al menatap Febri lalu berpindah ke meja El tanpa minat. Sepertinya kehilangan membuat Al tidak memperdulikan apapun lagi selain memikirkan mengenai El.


"Lo kata siapa?" Tanya Arnol


"Gue sih denger sepihak dari Ivana" lalu Febri tertawa.


Tidak lama ketukan dari sepetau membuat Arnol maupun Febri menoleh, kedatangan Kharisma itu langsung disambut oleh geseran kursi dari posisi Arnol, dan lelaki itu segera pergi, masih sakit hati saja dengan kejadian waktu camping minggu yang lalu.


"Cabut kuy Feb, ada orang paling bener di dunia" sindirnya, Febri juga ikut pergi.

__ADS_1


Di kelas ini hanya ada Kharisma dan Al yang saling g pandang, Al sudah menangis hebat bahkan sesegukan karenanya


"Lo kenapa?" Adalah pertanyaan pertama yang di tanyakan oleh Kharisma


Al menggeleng "El pulang gak kemarin?" tanyanya


Pertanyaan semacam itu benar benar membuat Kharisma muak, lelaki itu sudah jenuh, melihat papanya yang berulang ulang menanyakan apakah El pergi sekolah, menemui Al yang selalu bertanya apakah El pulang kerumah. Bukankah bagus jika El pergi dari dunia ini?


"Gak" katanya singkat


Al menatap kursi yang selalu diduduki El, dia menangis, menyeka air matanya lalu menangis kembali.


"El bener bener pergi" katanya lirih.


⏳⏳⏳


Erik terlihat begitu marah saat mendengar pernyataan Ginanjar mengenai El yang pergi ke markas Ibnu. Dia sampai mengepalkan tangan dan meninju tembok.


"Dia udah gila, Ibnu gak akan ngelepsin petinjunya begitu aja" Erik menatap Ginanjar dengan sarkatistik.


"Gue juga udah peringatin ke dia, tapi dia bersikeras"


"Ya tapi kenapa? Kita semua disini tahu, siapapun yang punya hutang sama Ibnu dia gak akan bisa keluar dari cengkraman nya gitu aja"


Ginanjar menepuk bahu Erik, "El pasti punya caranya, kita cuman bisa nunggu waktu" kata Ginanjar.


Tidak lama, Al masuk kedalam markas, tampak bingung, menoleh kekanan dan kiri. Ketika melihat tatapan mata Erik yang ingin memangsa langkah kakinya tertahan.


"Ada apa?" Tanya Ginanjar yang bisa menebak kedatangan perempuan itu.


"El, El nya ada?" Tanya Al terbata bata karena takut


"Dia udah bukan anggota kami lagi" kata Ginanjar bergegas pergi.


"Tapi kenapa? Maksudnya kenapa El pergi?" Al menahan lengan Ginanjar.


Dan lelaki yang tangannya dicekal itu melepaskan cekalan dengan jari jemari, tatapan Ginanjar berusaha menyakinkan.


"Kita gak ada yang tahu dimana dia sekarang, mending elo balik aja, percuma elo nanya ke kita dimana El, karena kita gak ada yang tahu" katanya beranjak pergi,


Tidak lama Erik juga ikut keluar, meninggalkan Al sendiri disini, meratapi kehilangan yang lagi lagi membuatnya menangis.


Al memutuskan keluar dari gedung tua, berjalan menuju cafe Welno, belum terlalu jauh langkahnya, dia melihat orang yang selalu dia takuti, itu Leo.


Tapi sejak kapan lelaki itu keluar dari penjara, Leo terlihat menatapnya, membuat Al mundur kebelakang dan terjatuh.

__ADS_1


__ADS_2