AL Dan EL

AL Dan EL
Keajaiban Empat Puluh Enam


__ADS_3

Aneh untuknya aku mau melakukan apa yang bukan duniaku


⏳⏳⏳


Setelah jam belajar selesai, Al dan El melangkah beriringan. Melintasi trotoar jalan dan memesan taksi untuk ke Dufan. Sudah lama Al tidak pergi kesana, terkahir kali saat dirinya pergi bersama Om Leo, pamannya yang cabul.


El tidak pernah ketempat ramai, dia selalu membenci keramaian tapi dia ingin melakukan itu jika bersama Alriestella. Disana banyak wahana yang belum pernah El naiki sama sekali, memangnya lelaki yang tidak punya uang bisa bebas bermain di taman bermain sedangkan ibunya menghabiskan hari-harinya untuk bekerja. El tidak akan melakukan hal yang seegois itu.


El menatap sekeliling tapi tangan Al menarik narik El untuk mengikuti langkahnya. El mengikuti langkah Al dari belakang sambil terus menoleh kanan dan kiri, menemui dunia ramai yang baru El masuki hari ini.


"Al mau naik itu" tunjuk Al pada wahana Hysteria


Wahana macam apa itu, El tidak pernah tahu dan baru melihat hari ini. Norak? Itu menggambarkan seorang El Nevaro yang tidak pernah pergi ke taman bermain.


El hanya mengangguk saja, lalu membeli karcis dan pemandu memasangkan sabuk pengamannya. Hysteria merupakan wahana yang memacu adrenalin dan membuat orang yang menaikinya merasakan sensasi seperti dilempar serta dihempaskan ke atas-bawah dengan kecepatan tinggi.


Begitu wahana ini mulai bergerak, El tidak henti hentinya menahan nafas bahkan dia tidak berani barang sedetik membuka mata.


"Tolong berhentiii, gue mauuuu turrruuuunnnnn"


"Huuu" bahkan El menahan keras untuk tidak mutah saat ini. Begitu permainan selesai, Al turun dengan senyuman yang paling mengembang sambil memegangi tas ranselnya.


"Seru ya El?"


El menarik nafas, wajahnya begitu pucat ketakutan berada disana. El tidak akan naik lagi ke wahana terkutuk semacam ini cukup sekali ini.


"El kenapa? El pusing? " Tahta Al mendekati wajah pucat El


Lelaki yang memiliki gengsi diatas rata rata langsung menggeleng dengan tegas


"Gue takut? Heh gak mungkin" ujarnya sombong dan berjalan dengan tegap menahan perut mual kearah depan.


Al hanya cekikikan saja dari belakang dia sepenuhnya mendengar saat El berteriak meminta tolong para karyawan wahana untuk menghentikan permainan ini.


"Mau main apa?" Tanya El setelah setengah menit mereka berjalan.


"Terserah El aja, Al nurut" jawab Al menggandeng tangan El.

__ADS_1


Mereka berjalan tanpa arah selama dua puluh menitan lebih. El menoleh kekanan dan kiri lalu menatap kearah wahana Turangga atau yang lebih dikenal dengan Komidi putar, ya dipikir pikir hanya permainan ini yang terlihat asyik.


"Itu, kita main itu"


Al lantas mengikuti arah yang ditunjuk oleh El dan langsung berubah cemberut.


"Ihhh Al gak mau, itu kan permainan anak anak" sungut Al "gimana kalau kita main Halilintar"


El menaikan alis "Halilintar?" Ulangnya


"Ituu" Al menunjuk kearah wahana halilintar yang memiliki rel dengan tanjakan meninggi dan turunan begitu curam.


Membayangkan duduk disana terombang-ambing dan dipermainkan oleh ketinggian El lantas menggeleng.


"Gak!!" Katanya tegas


"Kenapa? El takut?" Al menggoda El yang wajahnya begitu pucat saat di ajak menaiki wahana halilintar.


"Gue bukannya takut, gue cuman gak mau elo kenapa napa aja" elak El lalu berjalan tak tentu arah yang mengundang Al untuk cekikikan


Mereka memasuki rumah miring, menjelajahi rumah yang berbentuk miring. Disana Al selalu mengoceh karena tidak menyukai wahana ini, Al selalu suka wahana yang menguji adrenalin, sedangkan El lelaki itu terlihat begitu penakut.


⏳⏳⏳


Mereka masih berada di Dufan sampai pukul setengah enam, El dan Al berada di atas bianglala yang paling besar. Menatap kota Jakarta dari atas sana, karena hari ini hari Kamis, jam operasional Dufan hanya sampai pukul tujuh malam, Untung mereka masih bisa menikmati senja yang sedang kembali ke tempatnya.


Al berdecak kagum melihat keindahan didepannya, mulutnya menganga, melihat sinar mentari yang berubah menjadi gelap adalah pengalaman pertama kali bagi Al.


"Waaaahhh indahnya" gumam Al dengan nada suara lirih, Al berpegang pada pembatas besi dan sedikit bejongkook membuat gerbong bergoyang, El lantas menahannya karena takut akan jatuh kebawah


"Lo" tiba tiba El membentak Al yang membuat perempuan itu menoleh nya "Lo bisa gak jangan gerak gerak" kalimat itu dikatakan oleh El dengan pelototan.


Al hanya tersenyum saja "bagus tau El mataharinya" Al menunjuk kearah matahari yang sudah tenggelam.


"Gue gak peduli!" ucap El bersidekap


Melihat El yang tiba tiba marah karena Al menggoyangkan gerbong bianglala, Al lantas berpindah tempat ke sebelah El. Kepindahan Al itu membuat gerbong  bergoyang lagi, El menahan supaya gerbong tidak jatuh, bahkan tanpa sengaja dia menarik pinggang Al kearahnya.

__ADS_1


Perempuan berkuncir dua itu terjatuh ke pelukan El, lalu tersenyum tanpa merasa gugup sama sekali.


"El takut?" Al melepaskan dirinya dari pelukan El


Lelaki yang kini tengah memejamkan mata dan menahan mati matian untuk tidak mual hanya menggeleng.


"El gak usah bohong. Mukanya El itu keliatan kalau El lagi takut" Al menoel nole pipi El.


Lelaki yang dingin itu hanya bersidekap diam saja. Dia menahan perutnya yang mual, demi apapun El membenci wahana yang membuatnya berputar putar seharian.


"Elll" panggilan dari Al membuat El menoleh, perempuan itu sudah menyandarkan kepalanya di bahu El.


Dengan lembut, Al menarik tangan El yang tengah bersidekap, merenggangkan jari jemari itu. Perlahan tangan Al menyusup ke celah celah jemari El lalu Al mencium pipi El dengan lembut.


"Al sayang banget sama El, jangan tinggalin Al ya El" Al menyandarkan kembali kepala ke bahu El.


Lelaki itu tidak membalas sama sekali dia hanya melihat genggaman tangan Al yang merekat di jari jemarinya, seolah kedua tangan yang sedang bertautan itu tidak memiliki kuasa untuk saling melepaskan.


El melirik kearah wajah Al yang sedang terpejam.


"Makasih ya El, El udah ngajak Al ke sini" Al menatap kedua bola mata El dengan tajam


Lelaki yang biasanya selalu memberikan tatapan mengintimidasi, tatapan setajam elang, tatapan yang hampir mematikan orang yang dipandang, kali ini dia memberikan tatapan yang lembut.


Al tanpa sadar mendekatkan kepalanya, dan mengecup bibir El dengan lembut, lama dan belum berkahir bahkan sampai kata ini usai.


Ciuman itu dilepaskan Al dan dengan tatapan yang tulus Al mengulang kalimatnya


"Al bakalan nungguin El buat bilang suka ke Al, Al bakalan nungguin El buat El buka hati El buat Al" ucapnya "Al sayang sama El"


Saat gerbong mereka mulai bergerak menurun, Al melepaskan genggaman jari jemari mereka dan menegakkan kepala, menatap kearah samping, namun saat genggaman mereka belum sepenuhnya lepas, El langsung menarik Al hingga perempuan itu menatapnya.


El langsung ******* bibir Al dengan lembut, menarik pinggang Al hingga tubuh El yang menjadi tempat bersandarnya tubuh Al menabrak ke gerbong.


Putaran mereka seharusnya berakhir disini, ketika gerbong mereka berada di lintasan terbawah, karyawan wahana berteriak dengan kencang


"Putar lagi" sehingga gerbong yang di duduki Al dan El berputar dan berhenti di deretan paling tinggi bersama ciuman mereka yang belum berakhir.

__ADS_1


__ADS_2