
dunia ku terasa baru saat ada kamu
⏳⏳⏳
El sampai di rumah sekitar pukul sembilan malam, sengaja dia pulang agak lama setelah mengantar Al kerumahnya. Dirumah, Ela dan Glori duduk di ruang tamu dengan tampang serius, begitupun Kharisma dengan wajah babak belur seolah tengah menunggu kedatangannya.
Dan benar saat dua langkah El yang hendak menapaki tangga suara berat dari Glori membuatnya Putar badan. El masih berdiri tanpa dipersilahkan duduk oleh ibu tirinya. Mata Ela memancarkan kebencian, mata yang memandangnya nyaris sama seperti mata Kharisma.
"Dari mana saja baru pulang?" Tanya Glori memulai introgasi
"Rumah teman"
"Papa dengar kamu habis mukulin Kharisma disekolah, bisa kamu kasih papa alasan dari tindakan kamu "
El tidak segera menjawab dia menatap wajah Kharisma yang penuh luka memar. Syukurlah lukanya banyak, andai sedikit saja lebam yang di dapatnya, El pasti masih merasa dendam dan ingin menghabisi Kharisma disini.
"Karena dia nyium pacarnya aku"
Jawaban tegas yang dilontarkan oleh El membuat Glori menatapnya, tidak. Glori tidak memandang El dengan kemarahan melainkan ada seulas senyum tipis yang hadir di bibir Glori.
Sedangkan Ela, perempuan itu sudah geram menahan kekesalan saat melihat Kharisma pulang dipapah oleh Sena.
"Hanya karena itu, kamu pikir pacar kamu itu lebih berharga dibandingkan anak saya" suara tegas dari Ela membuat El hanya memandangnya saja
"Kamu seharusnya tahu diri sedikit, sudah saya tampung kamu justru sikapmu semakin kurang ajar dengan Kharisma" bentak Ela
El hanya menatapnya saja, menggenggam dengan kuat tangannya. El tidak ingin melontarkan kata kata kasar untuk Ela, bagaimanapun dia adalah seorang ibu, sewajarnya jika ibu merasa marah melihat putranya disakiti orang lain.
"Ela jaga ucapan mu!!" Glori menggebrak meja membuat Ela menatap suaminya
"Kenapa ? apa ucapanku barusan salah?"
"El itu anak aku, sudah menjadi kewajiban ku memberikannya hidup yang layak!" Pertegas Glori "Aku tidak suka kamu berkata kalau kita menampung dia"
"Dan kamu Kharisma" Glori menatap putra nya. Glori mencoba menahan amarah, meneguk Saliva sehingga jangkung itu bergerak. "Papa sudah ajarkan kamu utuk menghormati perempuan, apa kamu mencium pacar El atas ijinnya?"
Kharisma berdiri dan ikut marah "apa perlu Kharisma minta ijin nyium mantan Kharisma sendiri?"
Plak
"Kurang ajar!!" tangan Glori terjatuh lemas begitu dia menyadari telah menampar Kharisma "Apa begitu sikapmu pada perempuan?" Lanjutnya seperti ragu
"Papa emang udah beda sekarang" Kharisma lantas pergi dan ditatap El dengan rasa bersalah. Sebenarnya rasa bersalah apa yang di miliki El? Rasa bersalah karena membuat lelaki itu menderita lebih lama? Entahlah
__ADS_1
⏳⏳⏳
Ujian semester sudah dilaksanakan Minggu kemarin, hubungan El dan Al makin hari makin membaik meski kerap kali yang mendominasi percakapan selalu Al. Setidaknya El tidak sekaku saat pertama kali mereka bertemu.
Kabar baik nya juga, Minggu ini adalah Minggu Minggu pengambilan nilai praktek setelahnya Minggu depan acara tahunan untuk kelas tiga dilaksanakan.
Hubungan El dan teman sekelasnya masih berjalan pada radar normal, El tidak menyapa terlebih dahulu tapi selalu mengangguk tanpa ekspresi ketika dia disapa. Arnol yang selalu banyak mewarnai dan membuat El geram sendiri, bahkan latihan seni pun, Ivana dan El kerap kali masih melontarkan kata sepedas sambal.
Hari ini kelompok Al bersiap naik keatas panggung dan bernyanyi. Sedari tadi El menggoyangkan kaki kakinya untuk menghilangkan rasa gugup. Ya berdiri diatas panggung dan menjadi pusat perhatian adalah kali pertama bagi orang seperti El.
"El gugup?" Tanya Al setelah selesai bersiap siap, Al menghampiri El dan memegang kedua tangan El
"Tangan El dingin" ucapnya membimbing tangan El untuk menyentuh pipi Al "gimana hangat gak?" Tanyanya
El masih saja diam sambil menangkup pipi Alriestella. Gadis itu nyengir dan ikut menangkup wajah El
"El tenang aja, semua bakalan berjalan baik baik aja" kata Al menyakinkan El.
"Al giliran kita kita" panggilan dari Arnol membuat El melepaskan tangkupan di wajah Al.
Perempuan itu menoleh lalu mengangguk dan menatap kearah El yang sedang menatap kearah yang tidak beraturan.
"Percaya deh sama Al, semua akan baik baik aja"
Entah kenapa, hanya mendengarkan Al berkata seperti itu saja membuat El merasa yakin kalau semua akan berjalan seperti biasanya. Memiliki seseorang dibelakang dan selalu mendorong untuk menguatkan seperti ini ternyata, El merasa memiliki seseorang yang sudah menjadi bagiannya.
Setidaknya mereka berempat harus percaya pada usahanya, mungkin hasil selalu bisa menghianati usaha tapi setidaknya usaha tidak akan menghianati hasil akhir. Dengan penuh percaya diri, baik Arnol dan Al memulai bernyanyi.
🎵🎵🎵🎵
Pernah berfikir tuk pergi
Dan terlintas tinggalkan kau sendiri
Sempat ingin sudahi sampai disini
Coba lari dari kenyataan tapiiii
Aku takutttt, kamu pergi
Kamu hilang, kamu sakit
Yang kuingin disampingkuuuu
__ADS_1
Selama akuuuu masih bisa bernafas masih sanggup berjalan, kukan slalu memujamu
🎵🎵🎵🎵
Lagu itu bersautan mereka nyanyikan dengan kompak diiringi suara gitar yang dipetik oleh Al dan Arnol membuat suara suara mereka terdengar romantis. Al selalu menatap kearah El begitu pun El yang kehilangan ke narfous sannya berkat gadis cantik yang memiliki mata hitam kecoklatan yang belum berpindah menatap arah El.
Tampilan mereka ditutup oleh lagu dari Kotak dengan judul lagu masih cinta. Mereka ditepuki tangan dengan meriah oleh penonton apalagi penyanyi yang kini menggenggam tangan El dan menunduk bersamaan dengan kelompoknya adalah seorang penyanyi kelas atas di sekolahnya
Mereka membawakan lagu dari SLANK, VIERA, D'MASIV, dan KOTAK. Mereka sengaja menggabungkan beberapa lagu lagu jadul yang dengan harap bisa membangkitkan kenangan orang orang yang mendengarkannya.
Miss Ani berdiri dan menepuki tangan mereka, bagi perempuan modis itu, ini adalah penampilan paling luar biasa sepanjang acara.
Turun dari panggung baik Arnol, Ivana, Al dan El bisa bernafas dengan lega apalagi wajah keempatnya menunjukkan sorot kebahagian.
"Gilaa sumpah, kita keren banget tadi" Arnol berteriak histeris melepaskan kebahagiaannya
"Akhirnya gak dikejar deadline tugas seni budaya" Ivana merentangkan tangan menyuarakan kelegaannya
Sedangkan El, lelaki itu diam saja mematung dengan isi hati yang berbeda. El merasa senang sebab dia merasa memiliki seseorang yang bisa membuatnya kuat dan tidak merasa takut untuk sendiri disini, termasuk di bumi, dunia yang dianggap El sebagai dunia paling suram.
"Suara elo tadi bagus banget sumpah" Arnol menepuk bahu El yang lebih tinggi darinya, memuji dengan tulus
El menepis tangan Arnol dan masih berdiri tegap tanpa menjawab pujian dari Arnol.
"Apalagi elo Al, suara emas elo bener bener baguuss banget tadi" puji Arnol lagi
"Iya dong, apalagi Al diiringi gitar kesayangannya Al" Al membopong gitar itu dan menepuk nepuk nya
"Iya deh berkat gitar elo" Arnol menyerah untuk meladeni ucapan Al.
"Vana, makan yok gue laper" Arnol menepuk perutnya yang berganti berbunyi
Ivana melotot saat mendengar Arnol memanggilnya dengan panggilan "Vana"
Arnol nyengir "Sorry Ivana, masih aja galak" ejeknya "kantin Yuk, gue laper nih?" Ajaknya lagi
"Yuk ah, gue juga pengen kantin"
"Lo berdua mau ikut gak atau masih mau ngebucin dulu disini?" Tanya Arnol
Al lantas menggeleng dibarengi oleh El "enggak ah Arnol, Al mau berduaan dulu sama El" ucapnya sudah menggandeng tangan El
"Yaudah lah, gue kasih waktu buat kalian berdua ngebucin" kata Arnol bergegas pergi
__ADS_1
Setelah kepergian Ivana dan Arnol menuju kantin. Baik Al dan El sama sama terdiam, Al masih sibuk memasukan gitar kedalam tasnya, lalu berniat menggendongnya tapi langsung di ambil oleh El.
"Biar gue aja" katanya sudah berjalan lebih dulu.