AL Dan EL

AL Dan EL
Keajaiban Dua puluh satu


__ADS_3

"Kau tidak perlu tahu apa apa"


⏳⏳⏳


El pulang larut malam, hari ini dia tidak berniat bertanding diatas ring. Dia membuka pintu, menilik ruangan yang kosong, kemana orang tuanya?


Dia berjalan menaiki undakan tangga, sampai di depan pintunya, langkah itu harus terhenti


Kharisma berdiri dengan angkuh, memutarkan ponsel lalu menatap dengan hunusan tajam


"Baru pulang?" dia menyeringai


El tidak berniat menjawab, langsung berjalan melintasi Kharisma begitu saja. Dia meletakkan tas diatas meja, mengeluarkan buku catatan matematika dan mengerjakan soal.


"Hey Anak haram"Kharisma ikut melangkah, menedang kursi El hingga lelaki itu menoleh.


"Gue rasa sebentar lagi" Kharisma mencondongkan tubuhnya "Ketenangan elo tidak bertahan lama"


Dan berjalan pergi.


Entahlah ketenangan macam apa yang di maksud oleh Khariama. Apa dia akan membuat El merasa lebih sengsara di rumah ini. Atau dia akan mengadu domba antara Glori dan El.


Tidak ada yang terlalu membuat El harus merasa khawatir, buktinya lelaki itu kembali melanjutkan mengerjakan soal tanpa ingin tahu lebih apa maksud dark Kharisma.


⏳⏳⏳


Al menutup mata saat tubuhnya berada di atas kasur. Dia tersenyum, senyum yang jauh lebih merekah dibanding hari biasanya. Bayangan dimana dia berdekatan dengan El membuat jantungnya berpacu.


"Ihhhhhh" Al menghentakkan kaki, melompat senang diatas kasur.


"Kayaknya Al harus nulis list apa aja yang akan Al datengi sama El"


Al berjalan menggeser kursi dan menulis diatas buku binder merah muda miliknya. Dia tersenyum sesekali tersipu karena tulisnnya sendiri.


⏳⏳⏳


Alriestella berdiri menunggu kedatangan El didepan gerbang sekolahan. Dia memainkan tasnya, melirik kearah jalanan kalau kalau lelaki dingin itu tengah berjalan kearahnya. Al memandangi tali sepatu, menendang kerikil dan bernyanyi.


Saat dia mendongak El sudah berjalan hampir mendekatinya.


"Selamat pagi pacaranya Al" sapa Al dengan cengiran khas

__ADS_1


Al langsung berjalan menyeimbangi langkah El yang lebar, menggandeng lengan lelaki itu tanpa tahu malu. Rambut yang terkuncir satu berliuk liuk dibelakang, alis tebal serta wajah putih terlihat berkilauan saat terkena matahari pagi.


"Lo ngapain?" adalah kalimat pertama yang membuat Al berhenti. Dia masih tersenyum, mungkin tidak akan berhenti kalau El tidak membuatnya berhenti


"Jalan sama El" ucapnya


"Tapi gak harus megang megang kan"


Al tersenyum lagi, lalu melemahkan tangannya untuk tidak memegang lengan El.  Mereka berjalan bersisihan, dengan raut wajah yang berbeda dan dengan isi hati yang berbeda. Tujuan Al dan El adalah keatas roftof menikmati udara pagi dengan kesunyian.


Al merentangkan tangan, menghirup udara dari dalam hidung sebanyak mungkin.


"Segarnya" tukas Al hampir memecahkan gendang telinga.


El menggeser kursi, duduk diatas kursi reok sambil mengeluarkn buku matematika


"Oh ya, kita ada PR matematika ya"


Al menepuk dahi lalu ikut mengeser kursi, dia duduk didepan El dan mengeluarkan buku catatan.


Kelemahan Al adalah matematika dan berhitung, dia tidak akan bisa menyelesaikan ini sebelum pukul delapan.


"El, Al nyontek ya" Al berusaha memasang wajah yang melas, mengerjapkan mata berkali kali supaya El merasa iba dan memberikan contekan padanya.


"Al mana bisa, Al gak bisa matematika" rengek Al lebih keras.


"Makanya kalo malam jangan manggung"


"Aa Elll, nanti Al dihukum bu Nita. Yah yah yah"


Al menyatukan dua telapak tangan. Menggeseknya untuk memohon kepada El.


Lelaki itu mendegus lalu mengeluarkan buku catatan dan memberikannya pada Al.


"Sekali aja tapi" ujar El setengah tidak rela


Al nyengir, merampas dengan paksa buku El, lalu menyalinnya. Ini lebih cepat dari pada dia harus mengerjakan satu soal demi satu soal.


"Makasih pacarnya Al"


Buku itu dikembalikan oleh Al setelah selesai, dengan senyuman yang selalu menghiasi wajah Al.

__ADS_1


El tidak banyak berekspreai atau dia mengatakan sesuatu hanya memasukan buku itu kedalam tas dan membaca soal didalam buku paket.


"El gak capek ya belajar terus?" tanya Al mengisi keheningan.


El hanya menggeleng, menimpa tulisan dengan stabilo bewarna kuning. Bagian bagian terpenting yang lebih memudahkan kalau El akan belajar.


"Emangnya gak pusing belajar itung itungan terus?"


El menghela nafas, kali ini dia mulai terganggu dengan semua pertanyaan pertanyaan dari Al. Sejenak dia menyesali kenapa saat itu, dia bisa meminta Al untuk menjadi pacarnya. Hanya karena dia tidak ingin kehilangan satu orang yang mencintainya.


"Lo bisa diem gak?" tanya El lebih ganas.


Dengan senyum yang menujukan deretan gigi, Al menggeleng. Justru dia memainkan stabilo yang tadi digunakan El untuk menimpa tulisan. Al mencoret bagian buku paket itu, menggantinya dengan gambaran bungan mawar bewarna kuning. Sedetik El terpesona dengan gambaran itu, gambaran yang terbentuk hanya dengan sekali gesekan.


"Lo bisa gambar?" tanya El dengan suara lirih.


Al mendongak, kembali tersenyum "Cuman bisa bisa aja"


Buku itu langsung digeser oleh El, ditutup dan dimasukan kedalam tas. dia berdiri menatap Al dengan sekilas.


"Gue mau ke toilet, gak usah ikutin gue" ujarnya.


Setelahnya El benar benar pergi. Al hanya mampu menatap punggung El dari jauh. Dia menarik senyum, senyum yang selalu tulus.


Pada undakan tangga terakhir, El berhenti, dia kembali mengingat bagaimana lukisan itu bisa terjadi, bagaiman kelopak bunga bisa tergambar dengan indah. Hanya karena itu, dia terpesona akan Al.


El menghela nafas, melanjutkan jalan dan berhenti saat melihat senyuman yang selalu ada dirumahnya kini berada dihadapannya.


"Lo" suara El seakan tercekat


"Kenapa, elo kaget?" tanya Kharisma.


Lelaki itu memasukan tangan kedalam saku celana, melangkah maju dan menepuk pundak El.


"Mulai sekarang, rumah dan sekolahan akan jadi neraka buat elo" dia berjalan pergi meninggalkan El yang terpaku.


El mengurungkan niatnya pergi ke toilet, memilih masuk kedalam kelas dengan kegugupan luar biasa. Dia mengepalkan tangan, menilik sekitar sambil berfikir.


Bagaimana jika teman sekelasnya tahu kalau di adalah anak haram. Arnol mengibaskan telapak tangannya didepan mata El. Lelaki itu menoleh dengan kaget.


"Elo gue panggilin dari tadi gak nyahut nyahut" ucap Arnol "Punya penghapus gak?"

__ADS_1


El menggelengkan kepalanya untuk mengusir bayangan bayangan kejadian masa lalu. Di menarik tas, mengeluarkan kotak pensil dan menyodorkan penghapus ke Arnol


"Lah, elo tadi bilang kagak punya penghapus" Arnol mengenyitkan dahi


__ADS_2