AL Dan EL

AL Dan EL
Keajaiban Lima Puluh Delapan


__ADS_3

Hal buruk datang karena energi ketakutan mu


⏳⏳⏳


El sudah memacu motornya secepat mungkin, sedangkan beberapa siswa yang ditugaskan mencari sudah menyelusuri area lintasan jurit. Sampai di pos Lima, El lantas turun dan menggunakan senter ponsel.


Dia menyusuri jalan, menyibak semak semak dan berteriak kencang.


"Alllll Allll" suaranya memantul, tapi tidak ada jawaban yang bisa El dengar.


Sambil terus berjalan El menyusuri sebelah kanan lintas pos Lima yang terjal, sedikit menurun dengan banyak bebatuan. Turunan ini hampir mirip seperti jurang tapi tidak dalam.


"Allll" teriaknya lagi.


Tidak ada jawaban apapun dari Alriestella, El tetap tidak putus asa mencarinya dan berniat naik ke atas namun jalan yang licin membuatnya terjatuh ke bawah. El mencoba bangun dengan sekuat tenaga, meraskana perih diarea lengannya, perasaan semacam itu justru di abaikan begitu saja dan kembali menaiki keatas terjalan jalan yang dia lewati.


Dengan susah payah, El kembali menyusuri area yang belum dia lintasi, namun tidak ada tanda tanda keberadaan Al disini. El menyeka keringat, dia sudah berjalan sejauh ini bahkan keluar dari lintasan pos sekalipun, El menatap sekeliling, dia merasa terluka saat membayangkan kemungkinan kemungkinan mengenai Al yang nantinya tidak bisa ditemukan.


Senyum Al yang begitu terpancar dengan indah membuatnya menarik nafas dengan sesak. Apa, apa nantinya dia tidak bisa melihat senyum itu? Tidak El, El harus segera menemukan nya dan melihat senyum itu lagi.


El lantas berjalan dan menuju arah depan, demi Tuhan, El sudah lupa jalurnya bahkan tidak peduli sekalipun dia juga tersesat ditengah sini.


"Alll, Alriestellaaaaaaaaa" teriaknya sekali lagi yang membuat gemaan begitu keras.


El terus berjalan, berharap ada tanda tanda yang bisa dia temukan disini, apapun yang bisa membawanya menemukan Alriestella. Karena sudah lama berjalan ditengah hutan, ponsel yang di gunakan nya kehabisan baterai, membuat langkah El terhenti. Dia tidak kan kembali meskipun tanpa bantuan cahaya sekalipun, El masih mempunyai mata setidaknya El yakin hatinya yang akan membawa ke Al.


Begitu dia berjalan sambil meraba sesuatu, El merasakan menendang sesuatu hingga membuatnya tersungkur jatuh. Sebuah batu besar yang membuat kakinya terasa ngilu.


"Sialan" umpat El sambil menahan rasa sakit di kaki.


Ketika dia menatap arah depan, melalui pandangan mata yang gelap, El mendekati sesuatu didekot pohon, Alriestella tersangkut di bawah pohon, disaat El hendak mendekati Al, sesuatu yang membawa cahaya menerangi tubuh Al, El berhenti dan menatap Kharisma bersama Sena sedang menatapnya.


"Ngapain lo disini?" Tanya El dengan marah.


Kharisma tertawa disaat melihat luka di lengan El, lelaki itu langsung mengarahkan senter kearah mata El. Disaat El sedang menghindari pantulan cahaya, Sena lantas mendorong El hingga lelaki itu terjatuh kebawah.


"Tenang tenang El disana" teriak Kharisma lantas menggendong Al ke perkumpulan siswa siswi yang sedang menyebar di perbatasan pos Lima dan empat.

__ADS_1


"Alll ketemu" teriak Kharisma dengan lantang.


Beberapa siswa siswi langsung berhamburan dan mendekati Al yang tidak sadarkan diri. Memberikan gadis itu pertolongan utama, mencoba memberi minum dan memanggil manggil nama Al.


Lima menit, panggilan itu direspon dengan gerakan kornea mata, perlahan mata Al terbuka dan mulai menatap sekeliling, menatap Hafiz yang sedang jongkok disebelahnya, melihat Kharisma yang membopongnya.


"Al Lo gak papa?" Tanya Hafiz langsung memburu ketika Al menegakkan tubuhnya


"Al, Al gak papa" Alriestella memegangi pelipis, menatap sekeliling. Terutama gadis ini sedang mencari keberadaan El.


"Al minum dulu" Ivana yang membawa air putih memberikan botol minum untuk Al.


"Tahu El dimana?"


Siswa siswi saling pandang, El? Terakhir kali mereka melihat El berada di barisan depan saat laporan jurit selesai. El bukan siswa populer jadi tidak banyak orang yang peduli dengan kehadiran nya, apalagi mereka tidak saling kenal.


"Kayaknya tadi dia naik motor deh" celetuk Jaka.


"Maksud Lo?" Ulang Ivana tidak mengerti.


Al menarik nafas, bahkan disaat dia tidak ada lelaki itu bahkan tidak terlihat disini. Tidak berupaya mencarinya, apakah cinta Al ini seperti cinta sendirian?.


"Udah urusan El nanti aja, sekarang kita balik ke tenda dulu" ujar Hafiz.


⏳⏳⏳


Arnol, Gandi dan Febri menyusuri jalan, mereka terpisah dengan rombongan Hafiz.


"Allll" teriak Arnol dengan lantang.


Gandi mengarahkan senter ke sisi kanan dan menemukan motor hitam terparkir di balik pohon besar.


"Eh itu motor siapa?" Tanya Gandi


"Mana?" Febri ikut mengarahkan senter ke arah motor


"Motor tukang hutan paling" ucap Febri selanjutnya

__ADS_1


"Eh gimana kalo kita pencar (pecah pencarian) aja, elo kesana, Gandi ke arah pos Lima dan gue kearah jurang" tukas Arnol


"Ni bocah, emangnya elo berani?" Tanya Febri memastikan


"Berani"


Meskipun Arnol menyatakan keberaniannya tapi Febri dan Gandi justru saling pandang, Arnol bukan tipe orang sepemberani itu apalagi ditempat seperti ini. Aneh saja kalau tiba tiba melihat Arnol jadi pemberani


"Mending jadi satu aja deh Nol, gue takut elo kenapa napa" kata Gandi menolak saran Arnol


"Lo ngeremehin gue?" Nada bicara Arnol Menaik "Kita harus cepet nemuiin Al. Kalo dia kenapa napa gimana?" Teriak Arnol memanas


Gandi menelan ludah padahal niatnya hanya untuk melindungi Arnol tapi kenapa lelaki itu bisa marah tanpa alasan seperti ini, aneh sekali.


"Ya yaudah deh" Gandi akhirnya menyetujui diikuti oleh anggukan dari Febri.


Dan akhirnya mereka berpisah dengan tujuan masing masing. Arnol menuju arah bawah. Menuju tempat perbatasan pos kelima dan empat. Dia akan menyusuri dimana tempat terakhir kali Arnol meninggalkan Al. Lagipula Arnol meminta Gandi dan Febri mencari ketempat yang berbeda adalah agar Gandi dan Febri tidak tahu apa yang dia dan Kharisma rencana sejak awal.


Di arah perbatasan, Arnol mendengar sesuatu yang merintih, seperti suara seorang lelaki tapi tidak dia temukan disini.


"Sial, kalo gini caranya tadi gue bareng Febri atau Gandi aja" cicit Arnol merasa menyesal.


Lelaki itu memilih mengabaikannya dan kembali melanjutkan langkah yang sempat tertunda. Belum ada tiga langkah, suara geraman dari arah bawah kembali terdengar, kali ini seperti suara seseorang yang tengah menahan sesuatu.


"*****" Arnol mengusap lengan


"Arggg eh" suara itu kembali lagi terdengar


Namun kali ini dengan suara yang jelas, Arnol harap ini bukan suara macan atau suara hantu jadi jadian yang sedang menakutinya.


Arnol memberanikan diri mendekati arah jurang yang tidak terlalu dalam, menoleh kanan dan kiri lalu menarik nafas.


"Tuhan, gue tahu gue banyak dosa, tapi gue mohon tolong bantuin gue lolos dari apapun yang mengancam jiwa raga dan kegantengan gue" ujarnya sebelum menyibak semak.


Dan dengan ketakutan serta rasa penasaran, Arnol menyibak semak dan menatap arah jurang, saat dia menatap arah bawah tubuhnya langsung menggigil ketakutan.


note * gue lagi males nulis gengs, jadi jarang up, maklum gue penulis yang cuman mau nulis kalo lagi pengen.

__ADS_1


__ADS_2