
Ada ilusi yang selalu memintamu pulang ke pelukanku
Dan itu tidak nyata
⏳⏳⏳
Al sedang menemani Ivana yang ada dirumah sendirian, ayah ibunya sedang pergi, mungkin akan pulang sebentar lagi, Al selalu melihat arah depan, otaknya selalu memikirkan tentang El, bagaimana lelaki itu sekarang? Sedang bahagiakah atau sedang sedih? Apa El tidak memikirkan tentangnya?.
Ivana sedang sibuk membaca novel romansa jadi tidak terlalu memperhatikan Al yang sedang memikirkan orang lain saat ini. Begitu suara pintu dibuka, Ivana lantas melompat dari sofa ruang tengah menuju ruang tamu. Al hanya mendengar suara bercakap cakap sebelum ayah dan ibunya Ivana masuk kedalam dan menyapa Al.
Hanya basa basi biasa saja, selepasnya Ivana mengantarkan Al pulang dengan mobilnya, Al hanya menatap arah pinggir jalan, sebelum sesuatu menarik di depan supermarket menyedot perhatiannya
Disana El Nevaro Semanding sedang berdiri bersama perempuan, tidak tahulah siapa orangnya yang jelas tampak mesra sekali, El sedang meminum sesuatu yang disodorkan perempuan itu. Al mengalihkan arah pandang dengan terluka, pantas saja lelaki itu tidak menemuinya hari ini.
⏳⏳⏳
Sampai di rumah, Al langsung masuk kedalam tanpa mempersilahkan Ivana masuk, perempuan yang mengantarkannya itu hanya bisa melongo dan masuk kedalam mobil. Al masuk ke kamar dengan sesegukan, dia kecewa, terlebih kecewa karena perlakuan El yang seperti itu. Apa El sedang mengkhianatinya secara diam-diam?
Selang dari tangisan Al yang memecah Bella mengetuk pintu kamar Al, dia mendekati putrinya dan setengah tertegun saat melihat Al sedang menangis. Di usapnya rambut panjang Al.
"Kamu kenapa? " Tanya Bella dengan suara lembut
"Al putus sama El" suara isakan selalu membuat kalimat Al terjeda
"Kenapa, apa ada masalah?"
"El selalu egois ma" Al akhirnya mendudukkan tubuhnya "Bahkan disaat El udah putus sama Al, El malah deket sama cewek lain"
Tangis Al benar benar membanjiri pipinya, dia menangis sesegukan tanpa bisa ditahan.
"El ada didepan sekarang, dia nyariin kamu" kata Bella membuat Al mengusap air matanya.
"Al gak mau ketemu sama El, Al benci sama El" katanya menelungkapkan wajah kembali.
Bella hanya bisa menarik nafas apalagi sekarang dia tidak punya hak untuk ikut campur dalam asmara putrinya, Bella pergi dari kamar Al dengan pasrah lalu menemui El yang sedang berdiri didepan rumahnya.
__ADS_1
Hanya senyum basa basi yang bisa di pancarkan oleh Bella.
"Maaf ya nak El, Al nya udah tidur" kata Bella dengan berat hati "Besok aja kamu kesini lagi"
El mengangguk lalu menoleh kearah kamar Al, kamarnya pun masih menyala terang, apa benar Al sudah tertidur?
"Makasih Tante" ucap El permisi pergi dan memacu motornya kembali.
Rasanya ada jarak yang menjadi penghalang antara dirinya dan Al saat ini, dulu menemui Al adalah sesuatu yang terasa membahagiakan untuk dilakukannya, sekarang menemui Al adalah hal tersulit yang pernah dia lakukan, sulit karena nyatanya hanya dia yang menginginkan pertemuan ini, Al nya tidak.
El memacu motornya, sampai di pekarangan rumah dan masuk kedalam sana. Tidak dia temukan Ela di ruang televisi seperti biasa atau diruang makan, hanya Glori saja yang tampak santai menikmati teh setelah putranya meninggalkan rumah.
"El" suara berat Glori membuat langkah El terhenti menuju kamarnya, El berbalik badan dan menghadap Glori.
"Dari mana selalu pulang larut malam?" Tanya Glori melepaskan arah pandang dari tablet kerja ke wajah putranya
"Biasa"
"Biasa? Bahkan papa gak tahu kebiasaan mu apa? Bisa bisa nya kamu bilang biasa" nada suara Glori Menaik, mungkin tengah marah karena menyadari saat ini Kharisma tidak ada disini.
"Perlu tahu kegiatan El, rasanya enggak" El juga ikut marah
"El habis tinju" ujar El menatap mata bulat Glori
Lelaki itu tidak tampak kaget, mungkin dia sudah tahu lebih dulu, aneh saja kalau orang se pintar Glori melepaskan begitu saja anaknya untuk melakukan kegiatan di luar rumah.
"Kamu apa tidak bisa tinggal dirumah lebih lama?" Suara Glori melemah, kali ini tebakan El mengenai Glori sudah tahu kegiatan nya memang benar, buktinya Glori tidak bertanya banyak hal lagi.
"Kita cuman berdua disini, seharusnya kita saling menguatkan, papa cuman punya kamu, lihat Ela dan Kharisma, dia berpikir buat menyingkir dan membangkang sama papa" ada rasa luka dari ucapannya tapi El tidak mau perduli, baginya Glori penyebab dirinya menderita Selma ini, juga Kharisma,
"Aneh kalo El pengen pergi dari rumah ini? Rumah ini gak lebih dari neraka buat El, El harus ketemu orang asing yang tiap kali kedatangan El dia natap El dengan gak suka, aneh El pengen pergi?" El selalu tidak suka setiap kali berbicara banyak hal dengan Glori, karena itu mengingatkannya pada mendiang Eviana.
"Maaf, mungkin terlambat, tapi papa sayang sama kamu"
"Kenapa baru sekarang? Dulu dulu disaat Mama masih ada papa kemana? Pergi ke surga papa sama anak dan istri papa?" El naik pitam, untuk apa lagi Glori itu meminta maaf "Bahkan kalo bukan karena sekolah mungkin El udah lama pergi dari rumah ini, karena menafkahi hidup El sendiri El udah mampu" El lantas pergi
__ADS_1
"Maaf El, papa bener bener sayang sama kamu"
Sialan, langkah El harus tertunda lagi karena perkataan sayang dari Glori, sayang untuk apa.
"Sayang? Kalau papa sayang sama El papa gak mungkin nyuruh Mama ngaborsi El" teriaknya yang membuat wajah Glori lantas pucat seketika.
"El itu"
"El gak mau denger apapun, disini hubungan kita gak lebih dari donatur dan siswa" katanya lantas naik keatas.
El selalu benci Glori, lelaki penyebab dia dan mamanya menderita. Untuk apa Glori membawanya kerumah ini jika untuk dipertarungkan dengan Kharisma, penyebab lelaki itu pergi pun hanya karena dirinya. Lantas sekarang apa lagi.
"Ella bangun Ella" suara teriakan dari bawah membuat El langsung berdiri dan turun, dia penasaran dengan apa yang terjadi di rumah ini.
Ela terjatuh tak sadarkan diri diatas lantai, dibawah pangkuan Glori.
"Tolong Mama mu El" pinta Glori seperti memelas.
El memegang jarinya dengan kuat, nafasnya terasa sesak, bayangan saat Eviana jatuh didepannya masih terlintas. Bahkan dunia terasa benar benar berputar.
"Ma, ma bangun ma" teriakan itu begitu mengena di telinganya, seperti sesuatu yang rusak.
"Maaaaaa, bangun" sekali lagi teriakan yang membuat jantungnya terhenti.
"El bantuin papa El" teriak Glori yang terasa sumbang ditelinganya.
El masih berdiri memaku dengan nafas yang terasa sesak, dia limbung, tidak bisa menegakkan tubuhnya dan harus berpegang pada pinggiran tangga. El menggelengkan kepala untuk menghilangkan pusingnya. Penglihatannya sempat kabur tapi kembali normal, diatas lantai itu Eviana tengah tergeletak tak berdaya, El lantas berjalan cepat dan membopong Eviana keluar.
"Pakek mobil papa" kata Glori sudah bersedia dengan mobilnya.
El lantas memasukan Ella yang ditatapan El berubah menjadi Eviana.
"Ma bertahanlah ma, El ada disini" katanya lirih memegang kepala Eviana.
Aneh batin Glori dari arah depan
__ADS_1
note
woy makin ribet lah ceritanya, abis ini kira kira El bakal gimana?