AL Dan EL

AL Dan EL
Keajaiban Tujuh Puluh Enam


__ADS_3

Maaf, kenapa tidak kau lakukan sedari dulu


⏳⏳⏳


Di lorong rumah sakit, Al menangis sesegukan ditemani Ivana dan Ainun. Perempuan itu terus menangisi El, apalagi setelah dia datang bersama polisi, Al melihat Leo menikamnya.


"Gimana keadaanya El?" Suara yang baru saja terdengar di lorong itu membuat Arnol menoleh.


"Om Semanding" lirih Arnol.


"Gimana keadaan El?" Tanyanya sekali lagi


"Dia lagi di operasi Om" jelas Ginanjar ikut berdiri menyambut kedatangan Glori dan Ella.


"Sekarang Kharisma dimana?" Tanyanya


"Kharisma lagi donorin darah buat El" kata Arnol


Glori tampak menghela nafas lega begitu mendengar nama Kharisma. Dia menatap Al yang sedang menangis sesegukan, Glori mendekati Al dan menepuk bahu perempuan itu.


"Kamu yang namanya Al?" Tanya Glori


Al menyeka air mata dan mendongak menatap Glori, perempuan itu hanya bisa mengangguk dengan lemah. Glori hanya bisa tersenyum setelah anggukan Al.


⏳⏳⏳


El merasakan kepalanya yang berdetum amat keras, perlahan dia membuka mata, tangannya seolah berat, ada sesuatu yang memeganginya. Meski kabur El menggelengkan kepala untuk mengusir ketidak jelasan penglihatannya, dia menatap jam dinding sudah pukul 9.30, bahkan diluar cahaya mentari bisa menembus ruangan. Kalau begitu, ini sudah dua hari semenjak dia ke Jakarta untuk membawa lari Al, sudah sehari semenjak dia menjadi tawanan Leo.


El menoleh kesamping, seseorang tidur disebelahnya, memegang tangannya. Tunggu dulu, El membulatkan mata, seseorang yang tidur disebelahnya ini berambut pendek, dia mengenakan kaos bewarna hitam.


El menarik tangannya, perlahan orang yang tidur disebelahnya bergerak, sepertinya dia baru saja bangun.


"Lo udah bangun?" Suara serak khas bangun tidur itu berasal dari Arnol. Lelaki itu yang tidur disebelahnya, mengapa bukan Al, kemana gadis itu?


"Lo ngapain disini?" El balik bertanya


"Astaga cerobong asap, kan semalam gue nyelamatin elo, Lo gak inget elo di tikam sama Leo" Arnol menguap lebar


"Leo sama Ibnu gimana?"


"Mereka udah di kantor polisi" Arnol meletakkan kembali kepalanya disisi brangkar. "Bdw kalo elo mau ngelus kepala gue juga boleh El, gue suka gak bisa tidur kalo gak di elus"

__ADS_1


El hanya melirik Arnol seperti menatap seseorang yang aneh, dia tidak berekspresi hanya berwajah datar dengan lipatan dahi diwajahnya. Sedangkan Arnol lelaki itu hampir memejamkan mata andai saja tidak ada pukulan dari kepalanya.


El baru saja memukulnya seperti sedang meluapkan dendam, dan itu membuat Arnol menatap tajam.


"Lo gak ada terimakasih nya ya sama gue, kan gue udah nolongin elo semalam" cerocos Arnol tidak terima


"Gue gak perduli" katanya dingin "Lo pindah tidur disofa"


Mau tidak mau Arnol berjalan kearah sofa dan menidurkan tubuh letihnya disana. Saat dia sudah memejamkan mata, suara dari El mampu menegakkan tubuhnya kembali.


"Al kemana?"tanya El


"Hiss Lo bisa gak sih ngijinin gue tidur sekali aja"


Dorongan dari pintu di lirik oleh El, disana Ella dan Kharisma datang membawa bingkisan, tampak seperti buah dan beberapa makanan. Kharisma meletakkan nya diatas meja, kemudian menendang tubuh Arnol hingga lelaki itu berdecak.


"Lo emang beneran sodara ya, udah tahu gue mau tidur masih aja di gangguin" Arnol berdecak.


"Sarapan tuh"


Mendengar kalimat sarapan Arnol bergegas membuka kantong plastik yang dibawa Kharisma, bersiap menyantapnya.


"Kamu udah makan?" Tanya Ella mendekati El.


"Mama bawain kamu bubur, tadi Mama udah nanya sama dokter , katanya ini udah lima jam dari operasi kamu, dan kamu boleh makan" kata Ella mengeluarkan semangkuk bubur dalam plastik.


Ella tampak begitu semangat saat menyiapkan bubur yang sudah dia beli, menyediakan sedikit dan berniat menyuapi El tapi lelaki dingin ini justru menoleh menolaknya. Melihat perlakuan El, Kharisma melangkah tapi senyuman dari Ella membuatnya berhenti, paling tidak Ella merasa tidak apa apa karena perlakuan kasar El.


"El gak laper" ucapnya lirih


"Ada yang kamu pengenin?" Tanya Ella seperti sedang menanyakan keinginan putranya


El menoleh, menatap semburat wajah Ella "Tante ngapain disini?"


"Semalam Mama sama papa kesini, sekarang papamu masih di kantor polisi" Ella mengelus puncak kepala El, dan usapan itu harus berhenti saat tangan El naik dan menurunkan tangan Ella.


Melihat perlakuan itu, Ella melemparkan senyum, dan meletakkan semangkuk buburnya


"Mama tinggal dulu ya" kata Ella beranjak pergi mengajak Kharisma .


El menatap kepergian Ella dengan tatapan kosong, kenapa wanita itu tiba tiba baik padanya? Maksudnya Kharisma juga memperlakukannya seperti keluarga? Apa kejadian semalam itu benar benar menyulap mereka?

__ADS_1


"Ibu tiri Lo baik juga ya" komentar Arnol dari sudut bawah


El tidak menggubrisnya justru menurunkan tidurnya dan menatap langit langit kamar. Aneh, kenapa hatinya sakit saat melihat Ella keluar dari ruangan ini?


"Elllll" suara cempreng itu, El tahu milik siapa, milik Al yang sudah berganti pakaian, dia mendekati El dan memeluk lelaki yang berada diatas brangkar.


"Al khawatir El kenapa napa" pelukan itu dibalas oleh El, lelaki itu benar-benar menarik Al kepelukanya


"Gue gak papa" jawabnya sambil memejamkan mata


"Ehem"


Deheman yang berasal dari belakang membuat pelukan Al dan El terlepas, lelaki yang berwajah dingin menegakkan posisi tidur, melihat diruangan ini sudah ada Jovan, Bella dan Glori, wajah El tiba tiba merasa panas.


"Papa ini sering banget mergokin kalian pelukan" kata Jovan mendekati brangkar El dan mengusap rambut anak itu.


"Makasih ya sudah jagain anak Om, kalau gak ada kamu mungkin Om gak tahu gimana Al sekarang" wajah Jovan tampak begitu tulus berkata seperti itu.


"Tante juga mau terimakasih sama nak El, pintu rumah kami terbuka lebar buat nak El, nak El boleh main kapan aja" tukas Bella membuat Al langsung memeluknya


"El boleh nginep gak?" Tanya Al dengan polos


Jovan, Bella dan Glori menatap Al dan kompak berkata "gak boleh"


El hanya tertawa, melihat kehangatan didepannya ini hatinya menghangat, sesuatu yang baru pertama kali dia dapatkan.


"Ee, saya boleh berbicara empat mata sama El" suara berat Glori membuat yang lainnya mengangguk dan meninggalkan ruangan termasuk Arnol.


Glori menarik kursi dan duduk disisi brangkar El, lelaki yang wajahnya sudah keriput dengan mata kelelahan itu hanya bisa menghembuskan nafas.


"Kenapa masalah sepenting ini papa justru gak tahu?" Nada bicara Glori benar benar serius dan El hanya bisa menatap arah depan tanpa ekspresi.


"Papa gak pernah nanya sama El" jawabnya tetap bernada dingin


"El, sewaktu papa bawa kamu ke Jakarta, semuanya, masa lalu kamu dan masa depan kamu sudah ada ditangan papa, jadi hal seperti itu gak perlu papa tanyakan tapi kamu yang harus memberitahu papa"


"Dan dikira ingin menguasai warisan keluarga barunya" El menoleh menatap Glori dengan kobaran mata menyala "El tinggal disana udah menderita pa, pernah papa nanya itu sama El?"


Glori diam saja "setidaknya, kamu meminjam uang pada Ibnu untuk pengobatan ibu mu, seharusnya papa tahu dan papa bisa bantu kamu, jadi hal seperti ini gak akan terjadi"


"Udah telat pa" El menghembuskan nafas "Sejak pertama papa bilang kalo papa itu papanya El, sejak itu El ngerasa hidupnya El gak akan mudah lagi, papa gak cuman ngancurin hidup El, tapi Kharisma, Tante Ella, semuanya hancur berkat papa, pernah papa Sadar itu?, Pernah papa minta Maaf udah nelantarin El selama bertahun tahun? Pernah papa minta maaf sama Tante Ella sama Kharisma, pernah?" Nada bicara El benar benar Menaik, mungkin orang yang berdiri diluar sana akan mendengarnya.

__ADS_1


"Maafin papa El" Glori menarik nafas "maafin papa El, papa kira dengan papa bawa kamu kerumah, hidup mu lebih baik dari sebelumnya, papa gak pernah mikirin gimana perasaan Kharisma atau Mama mu, yang cuman papa pikirin saat itu hanya ego papa sendiri"


"Papa gak perlu minta maaf sama El, tapi sama Tante Ella, sama Kharisma yang lebih menderita dibandingkan El".


__ADS_2