
"Saat kamu memutuskan memilihku, saat itu aku sudah masuk kedalam hidupmu"
⏳⏳⏳
Sayup sayup El membuka mata, menatap jam yang tegantung di dinding, jarum itu dengan cepat menggelincir kearah angka tiga pagi. El bangkit, meneguk segelas air dan merebahkan diri di kasur.
Setelah insiden tadi, rasanya sesak nafas yang kerap kali datang kembali kambuh. El sering merasakan sesak nafas dan tiba tiba kehilangan kesadaran, dulu sesak itu datang pertama kali saat dia terancam, saat dia merasa benar benar di kucilkan saat teman SD nya menyudutkannya. Sejak itu El merasakan sesak naafas yang dia derita bukan sebuah sesak biasa. Tapi El tidak mau ambil pusing. Sesak ini akan hilang esok hari saat keadaan disekitarnya ikut baik.
Dia merebahkan diri diatas kasur, manarik nafas dan menggulir ponsel. Tidak ada yang membuatnya tertarik, tidak ada teman yang bisa dia ajak bercerita. Kesepian? Bukankah sudah biasa untuk El. Sejak kapan El merasa membutuhkann seseorang untuk mengelus puncak rambutnya saat dia benar benar merasa frustasi.
Saat dia menggeser layar, nama "penguntit" membuat geseran dari tangannya berhenti. Dia hanya menatap nama itu tanpa berniat menekannya. Lima menit dia tetap memandangi nomor itu, akhirnya ponsel itu dia kunci, diletakkan diatas nakas dan menatap langit langit kamar.
Adakah pilihan terbaik untuk El saat ini, misalnya meninggalkan rumah ini dan hidup sendiri. Perlukan dia wali disaat dia dari lahir tidak pernah tahu siapa ayahnya.
Matahari menggelincir dengan cepat. Memberikan terik mentari paling indah. El sudah rapi dengan seragam sekolah, menuruni anak tangga dan menatap keluarga bahagia tengah menyantap sarapan. El ingin berlalu saja tapi Glori sudah menatapnya seolah penuh harap agar El juga ikut bergabung menyantap sarapan.
El berbelok, menggeser kursi dan duduk. Bersama dengan itu Kharisma menggeser kursi dan berdiri.
Dia sudah hilang dibalik pintu, Ela juga melakukan hal yang sama, dia pergi entah kemana.
El tidak jadi mengambil nasi, dia menggeser kursi, meletakkan tas diatas bahu.
"El berangkat dulu pa" tukas El
Dia mencium tangan Glori, lalu beranjak pergi dari penjara mewah ini. Dia berjalan kaki, menyusuri trotoar jalan untuk ke sekolahnya. Jarak rumah El dan sekolahan tidak terlalu jauh, masih bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki.
El berhenti ketika didepan gerbang, menendang kerikil, dan menatap sekolahannya dengan tatapan sedih.
Dalam lubuk hati El, dia ingin kembali ke Surabaya dimana sekolahannya yang dulu masih bisa membuatnya tenang. Setidaknya saat dia pulang kegubuk tua itu, dia bisa melakukan apapun sesuka hati.
"El"
Merasa namanya dipanggil, El menoleh. Lagi lagi gadis yang semalam selalu mengikutinya kemanapun tengah berdiri dengan cengiran paling lebar.
El tidak menjawab langsung berjalan tanpa menyahuti ucapan Al lagi.
"Semalam Al mimpiin El" cerita Al dengan semangat.
Gadis itu menyeimbangi langkah El yang lebar. Masih menceritakan perihal mimpinya semalam.
Tujuan El tidak kekelas, dia menaiki anak tangga menuju roftof. Al juga ikut menaiki anak tangga.
"Wah seger ya kalau pagi pagi nongkrong disini"
__ADS_1
Al mengeluarkan bekal didalam tas. Dia memberikan kepada El, lelaki itu hanya menatap bekal tanpa berniat menerimanya
"Buat El" ujar Al
"Buat gue?" dia mengulang kalimat Al
"Iya, Al masih belajar masak. Semoga aja enak"
Diatas roftof ada kursi kursi dan meja yang disusun bertumpukan, meja yang sudah ditulisi dengan kalimat kalimat tidak jelas dari siswa. Kursi yang sudah lapuk serta terik matahari pagi yang menghangatkan.
Al menggeser kursi yang tidak terlalu buruk, membuka bekal, dan menyodorkan kearah El.
Seporsi nasi goreng seperti yang tersuguhkan di atas meja tadi pagi. El hanya menatap nasi goreng itu, dia ingin menyantap nasi goreng bersama keluarga nya, tapi melihat reaksi Kharisma dan Ela rasanya kata keluarga akan jauh dari dirinya.
"Ayok dimakan, apa mau Al yang nyuapi ?"
Al mengedipkan mata. Menggoda.
El merebut sendok, menyendok satu suapan dan memasukan kedalam mulut.
Rasanya hambar, terlalu manis untuk ukuran nasi goreng, tidak ada rasa pedas dan terasa amis. Mungkin efek telur yang dicapur dengan nasi.
"Asin" cela El.
"Kalau asin jangan dimakan El"
Al berusaha merebut tapi saat melihat El begitu lahap memakan bekalnya, diam diam Al menarik senyum
"El ganteng kalau gak marah"
"Uhuk"
El tersedak ,langsung memukul dada bidang
"Minum dulu"
Al mengeluarkan botol minum, menyodorkan kearah El. Lelaki itu meneguk air putih seperti tidak pernah meminumnya.
El masih mengunyah sisa nasi yang ada di mulut. Mengalihkan arah pandang dan mengerjapkan mata berkali kali. Dia tidak akan menangis didepan orang lain.
Merasakan nasi goreng buatan Al membuatnya meraskaan rindu, dia rindu akan Eviana.
Bekal itu sudah kosong oleh nasi, dengan rasa puas Al memasukan wadah bekal kedalam tas.
__ADS_1
"Ke kelas yuk"ajak Al.
El tidak menyahut, justru menghela nafas dan mengalihkan arah pandang ke lapangan.
"El gak mau masuk kelas?" tanya Al.
El hanya diam tidak menunjukan reaksi akan menjawab pertanyaan Al
"Yaudah, kalau gitu Al nemenin El disini aja"
Al menggeser duduk di sebelah El, wangi mint dari tubub El membuat Al memejamkan mata sejenak.
"Lo masih suka sama gue?" tanya El tiba tiba.
"Hah?" Al menoleh menatap wajah Al yang saat ini juga menatapnya.
Dia mengangguk yakin.
"Lo mau jadi pacar gue?"
Al membelalakan mata. Tidak percaya. Apa Al tidak salah bicara, dia meminta Al jadi pacaranya.
Tanpa ragu, Al mengangguk yakin, menarik sudut bibir.
"Al mau El, Al mau, mau mau mau mau" ujar Al dengan menggebu gebu.
"Kita pacaran mulai sekarang"
Dan setelahnya El berjalan pergi meninggalkan roftof.
Al melompat girang "aaa Al sekarang udah resmi jadi pacaranya Elllllllll"
Al berhenti melompat "Al harus mendeklarasikan berita ini"
Dia berlarian keluar roftof. Menuruni anak tangga dengan terburu buru.
Bughhh
"Aaaa"
Al tersungkur kebawah karena tidak hati hati. Meski begitu, dia malah tertawa.
note : Mon maaf digantung, kalian apa kabar? dapet salam dari Al El Dul hahah
__ADS_1