
Ada kenyataan yang memang tidak diperuntukan untukmu
Dan itu kehilangan yang harus kamu terima sejak awal
⏳⏳⏳
Setelah mengantarkan Ella kerumah sakit, El tidak beranjak barang sedikitpun dari ruangan itu, bahkan tangan itu selalu diletakkan digenggaman milik Ella. Awalnya Glori berfikir kejadian itu hanya biasa, mungkin El sudah menganggap Ella sebagai mamanya, tapi saat dia meminta El untuk pulang, jawaban yang di lontarkan El membuatnya takut.
"Pulanglah dulu, besok kamu harus sekolah kan" Titah Glori menepuk bahu El yang ditepisnya.
"El gak mau ninggalin Mama" katanya menciumi tangan Ella "Mama udah lama menderita, Mama selalu capek ngurusin El, Mama banting tulang seorang diri" rancaunya
Glori menaikan alis, banting tulang? Ella bahkan tidak pernah mencari uang dari awal pernikahan mereka, kenapa kalimat El terdengar aneh untuk telinganya.
"El, tapi besok kamu sekolah, nanti papa akan nelfon Kharisma"
Saat mendengar nama Kharisma El lantas menoleh dan menatap Glori dengan tatapan sengit
"Apa Kharisma mau nyingkirin Mama juga? Mama udah lama menderita" tekannya hingga urat urat keluar
"El, Mama Ella" Glori berhenti saat menyadari air mata El menetes dari pelupuk mata, apa anak ini mengira didepannya adalah Eviana.
Glori lantas cepat cepat keluar ruangan dan mencari dokter Alif psikiater kenalannya, setelah menemukan Alif, diajaknya lelaki itu untuk mengamati gerak gerik putranya yang terasa aneh.
"Padahal dia gak pernah akrab sebelumnya sama istriku yang pertama" kata Glori dengan dada sesak.
"El punya trauma pada ibunya, dia pernah kehilangan, jadi anak seusia El belum menerima kepergian ibunya" kata Alif menjelaskan "kemungkinan besar El terkena depresi hingga membuatnya delusi, dia selalu menganggap dan berpikir yang tidak terjadi" lanjutnya
Glori menoleh kearah Alif "maksudmu?"
"Seperti sekarang, El menganggap didepannya itu adalah mendiang ibunya yang meninggal, bahkan perasaan itu menyerangnya hingga dia tidak bisa berpikir jernih" Alif menatap Glori "Ini juga berpengaruh untuk keseharian El, saya rasa ini bukan pertama kalinya El mengalami delusi, karena ini sudah tahap berat" kata Alif lagi "Apa, El mengalami sesuatu yang aneh, misal dia mengalami trauma dan lebih berhati hati untuk saat ini?"
Glori menatap El yang masih diam saja didepan brangkar Ella ,
"Aku cuman pernah dengar kalo dari kecil El gak pernah punya teman"
"Apa El sampai sekarang masih tidak memiliki itu?"
Glori mengangguk "dari kedatangannya ke Jakarta, aku diam diam mengamati kegiatannya, dan yah, El memang terlihat seperti Anti sosial, hampir tidak pernah Aku melihat dia bergabung dengan teman temannya, tapi aku berfikir nya sebagai kewajaran, mungkin dia sulit menyesuaikan dengan lingkungannya" kata Glori
"El sudah mengalami delusi sejak lama, dia sudah menganggap bahwa orang orang tidak menyukainya, bahkan delusi ini menciptakan sikap anti sosial" jelas Alif.
Glori hanya memandangi El dengan menyesal, sungguh kalau bukan ulahnya mungkin El tidak akan seperti ini.
⏳⏳⏳
__ADS_1
Sudah beberapa hari El tidak terlihat menyambangi kediaman Al, bahkan sudah dua hari juga El tidak kesekolah, tidak tahu anak itu kemana dan sedang apa, yang jelas saat ini Al hanya menatap dengan sayu meja belajar El.
Saat bel istirahat Al selalu memilih menyendiri didalam kelas tanpa pernah ikut keluar, kecuali hari ini yang dipaksa oleh Ivana ikut bergabung yang lainnya.
"Tar kita nongki lagi yuk" ajak Ivana pada Sena dan Kharisma
Arno hanya diam sambil memakan bakso, kejadian di camping membuat jarak antara Arnol dan Kharisma semakin terlihat. Kharisma tidak pernah meminta maaf padanya dan itu membuat Arnol kesal hingga sekarang.
"Boleh sih, tapi gantian hari ini elo yang traktir" kata Sena pada Ivana
"Enak aja, kan gue lagi bokek, si Sultan tuh suruh bayar"
Semua mata menatap arah Arnol, tapi lelaki itu tampak tidak perduli dan hanya membalas tatapan mereka tanpa arti.
"Nol hari ini elo yang bayarin kita ya" ujar Ivana
Arnol menatap Kharisma yang juga menatapnya "Kenapa gak dia?" Tunjuk Arnol pada Kharisma
"Si Kharisma lagi kabur dari rumah" Sena menepuk bahu Kharisma untuk menjelaskan.
"Ya" jawabnya malas
⏳⏳⏳
Sebenarnya Ella sudah siuman sejak pertama kali dia dirawat, hanya saja perempuan itu enggan membuka mata hingga Kharisma datang kesana. Dokter juga sudah menyarankan untuk membawa Kharisma tapi lelaki yang dicarinya tidak pernah bisa dihubungi.
Glori sudah menyuruh dua anak buahnya untuk pergi kesekolah Kharisma dan memberi tahu mengenai keadaan Ella, hanya saja belum ada hasil hingga saat ini.
"Ma, Mama makan ya" bujuk El dengan lembut
Tidak ada jawaban dari Ella, perempuan itu masih memejamkan mata bagaikan Putri tidur.
El masih duduk dengan delusi yang semakin parah, dia menolak pengobatan.
"El, kamu pulang dulu biar papa yang menunggu mama mu" bujuk Glori
El menggeleng "enggak" jawabnya dingin.
⏳⏳⏳
Kharisma, Sena dan yang lainnya sudah bersiap masuk kedalam mobil Arnol tapi dicegat oleh anak buah papanya. Kharisma berkecap lalu menutup pintu mobil Arnol dengan kesal.
"Kalo papa nyuruh gue balik, lupain! gue bisa hidup tanpa dia" kata Kharisma tanpa mendengarkan penjelasan dari anak buah papanya terlebih dahulu.
"Ini mengenai nyonya"
__ADS_1
Saat mendengar kata nyonya Kharisma menoleh nya, menatap anak buah papanya dengan tajam
"Maksudlo?"
"Keadaan nyonya drop, nyonya sekarang dirawat di Rumah Sakit Kasih Bunda"
Jantung Kharisma baru saja ditikam benda tajam, terasa begitu sesak sampai dia tidak bisa bernafas. Kharisma menatapnya, lalu buru buru masuk kedalam mobil Arnol dan meminta lelaki itu ke rumah sakit. Tidak ada yang berkomentar saat itu setelah melihat ekspresi tegang Kharisma, baik Ivana, Sena maupun semuanya.
Perjalanan terasa begitu lama, setiap menit rasanya seperti menambah dalamnya tusukan yang dirasakan Kharisma di jantungnya. Oksigen kian menipis begitu jarak antara dirinya dan rumah sakit kian dekat.
Berulang ulang Kharisma menghela nafas, dia menatap arah jalanan dengan nanar.
Perasaan Kharisma yang kacau membuat Arnol kehilangan fokus, meski begitu akhirnya mereka sampai dirumah sakit. Kharisma buru buru berjalan pergi, diikuti empat temannya. Al mengikuti dari belakang dengan terengah-engah.
"Dimana ruangnya?" Tanya Sena yang melihat Kharisma naik ke lift
"Kamar 304 VVIP" ujarnya menatap ponsel berisikan pesan ruangan Ella
"Ma, Lo harus tenang dulu, jangan terburu buru" Ivana berusaha menenangkan
"Gue gak bisa tenang dalam keadaan kayak gini" katanya langsung berlari setelah lift terbuka.
Saat membuka pintu yang pertama kali dilihat adalah El tengah duduk memegang tangan ibunya. Tangan Ella yang begitu berharga untuknya. Kharisma lantas menarik bahu El dan mendorongnya.
"Ngapain lo disini?" Kini emosi Kharisma memuncak.
El menatap temannya satu persatu lalu menatap Kharisma yang sedang tersulut emosi.
"Gue__"
"Brengsek, Lo gak puas ngerebut papa gue dan sekarang Lo sok sokan mau jadi anak baik buat nyokap gue" Kharisma mendorong El hingga membentur dinding
"Ma, ini rumah sakit" Arnol mengingatkan
"Keluar Lo anak haram" teriaknya
Mendengar suara Kharisma, Ella membuka mata dan menatap Kharisma. lelaki yang kini dipengaruhi kemarahan lantas mendekati Ella dan memeluknya.
"Mama gak papa?" Tanyanya
El hanya bisa menatap Ella dengan kosong, nafasnya kembali sesak, dadanya berdebar, dunia tampak berputar putar mengelilingi dirinya, El limbung, harus berpegangan pada dinding dan menggelengkan kepala untuk menghilangkan tatapan kabur.
Al ingin membatu El, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan saat Ivana memegang tangan Al dan memberi isyarat untuk jangan berbuat lebih.
Nafas El tengah-tengah, dia keluar dari ruangan dan berjalan pergi, menghilangkan rasa pusingnya.
__ADS_1