
Sekarang tenda dulu besok baru aku buatin rumah
⏳⏳⏳
Tangan El terjatuh dengan lemas. Menerima panggilan dari Al membuatnya segera ingin pulang ke Jakarta, tapi itu tidak mungkin. El masih disini menatap nisan ibunya yang lama tidak didatangi. El melanjutkan menaburi bunga lalu dengan nanar mata tajam itu berubah menjadi berkaca kaca.
"Ma, sudah bertemu Tuhan?" Tanya El dengan senyuman dan menyeka air mata secepat kilat
"Selamat ulang tahun ma" kata El meletakkan sebuket bunga ke makam ibunya.
El lantas berdiri dan kembali ke kontrakan kumuh yang saat ini sudah ditempati orang lain. Menatapnya dari depan saja mengingatkan kembali pada memori yang sempat dia lupakan beberapa bulan ini. Sempat digantikan dengan memori baru bersama Alriestella.
Andai Eviana masih ada disini, mungkin Eviana akan berteriak kencang untuk meminta El belajar. El memejamkan mata, mencoba mengingat kembali momen itu, momen saat dia masih bersama dengan Eviana, ibunya.
Saat itu udara sore berhembus begitu segar, El kecil hanya bermain didepan kontrakan kumuh, bermain kelereng seorang diri lalu tertawa sendiri.
"Lihat lihat dia main sendiri" tawa dari arah jalan itu membuat El kecil tertunduk menatap butiran kelereng didepannya.
"Dia gak punya teman" sahut anak kecil yang lain
"Lagian siapa yang mau nemenin dia, dia kan gak punya bapak hahaha" lalu tawa itu seperti kutukan untuk El hingga saat ini.
Bagi El, tertawa hanya untuk seseorang yang sedang bergembira menertawakan kesedihan orang lain. El membenci siapa yang memiliki tawa paling riang saat itu, baginya melihat seseorang tersenyum sama saja tengah menertawakannya.
Eviana, datang dengan dres bunga bunga kusut, dia lantas menarik El kepelukanya dan memberi pelototan kepada anak anak nakal di jalan itu.
"El punya ayah, berhenti kalian bicara seperti itu atau ibu akan laporkan kalian ke polisi"
Mungkin berkat ancaman Eviana anak anak itu berlarian pergi , tapi datang lagi esok hari untuk memberi ejekan ke El. Eviana adalah satu satunya perempuan yang memberi kekuatan dari usapan tangannya di pipi El.
Berkata dengan penuh keyakinan bahwa kelak akan ada seseorang yang aku berteman dengan El tanpa memandang status itu.
Mata El terbuka seiring kenangan pahit bertebrangan kearahnya, ya setidaknya saat itu El masih bisa berbahagia meskipun tidak mengenal nama ayahnya dan rupa ayahnya pun. Tapi semenjak Eviana terbaring dirumah sakit, kedatangan seorang lelaki berjas dan berwajah dingin begitu menghancurkan dunia El.
Lelaki yang membuat El menderita bertahun tahun kini menampakan wajahnya dan mengaku sebagai ayah.
Bahkan El masih mengingat bagaimana wajah Glori yang menepuk tangan seolah berlagak seperti ayah untuknya. Tidak, hingga saat ini pun Glori hanyalah orang asing tidak akan lebih.
__ADS_1
⏳⏳⏳
Di bus Al hanya terdiam saja, memikirkan kata kata Arnol yang bertebrangan menamparnya, Arnol yang sedang duduk didepan tengah mendengkur halus, sedangkan Ivana sibuk bermain ponsel. Perjalan yang seharusnya terasa menyenangkan ini justru membuat Al ingin kembali pulang.
"Al, Lo kok diem aja sih dari tadi, udah ketularan diem nya El ya" tuding Ivana yang sudah menyimpan ponselnya.
"He he enggak kok Ivana, lagian Ivana dari tadi sibuk main ponsel" elak Al.
"Lo kenapa? Mikirin apa? Perasaan dari naek bus sampe sekarang gak ada semangat semangatnya"
Al menggeleng "gak papa" katanya kembali menatap arah depan
"Al nyanyi dong biar bus kita rame" teriakannya dari arah depan itu membuat Al sedikit mengintip siapa yang meminta bernyanyi, ternyata Febri dengan gitar tercantel di pundak.
"Mau nyanyi apa?"
"Terserah elo deh Al, kita nurut" Febri lekas berjalan kearah Al dan memberikan gitar pada Al.
⏳⏳⏳
Sampai di Jogja mereka di sambut dengan pemandangan pantai Sanglen yang begitu sempurna, ombak kecil kecil yang sedang menerjang, pasir yang melembutkan kaki.
Ivana yang berada di sebelah Arnol lantas menjitak kepala lelaki itu, dan menjewer telinganya
"Welcomeee Wellcome Lo kalo mau nyanyi ziga zigi jangan disini" kata Ivana memarahi Arnol
"Zaga zigi, yang bener zigi zaga" koreksi Arnol
"Ah bodo" Ivana lantas pergi ke pesisir pantai, menikmati ombak yang menyentuh kaki telanjangnya.
"Ivana awas, ntar dibawa nyi Roro kidul" teriak Arnol asal
Ivana menoleh dan memelototi Arnol dengan tajam lalu mengejar Arnol yang sedang berdiri, keduanya lantas berkejaran, Ivana melemparkan sepatu miliknya hingga mengenai kepala Arnol, teman teman yang lain tertawa melihat tingkah keduanya tapi tidak dengan Al, perempuan berkuncir satu itu justru kehilangan minat untuk camping.
"Kok ngelamun? Gak bangun tenda?" Suara dari sebelahnya membuat Al menoleh. Kharisma berdiri dengan bersidekap dan menatap arah pantai
Al tidak menjawabnya tapi setelah Ivana datang bersama Arnol , perempuan berambut pendek itu langsung mengajak Al untuk membuat tenda.
__ADS_1
"Al bikin tenda dulu ya Ma" pamit Al tanpa mau berbasa basi dulu.
Di lokasi yang sudah ditentukan guru, Al dan Ivana sedang membangun tenda. Dua perempuan yang belum pernah memegang tenda ini jelas kesulitan, apalagi beberapa kali keluhan selalu keluar dari bibir mungil Al.
"Ah Al mau nginep di hotel aja kalo gini, susah bikin rumah rumahan" keluh Al lantas duduk di atas tanah.
"Lo kira bisa seinstan itu, udah deh Al buruan tar keburu kita gak dapet tempat tidur"
Lokasi camping ini sedikit jauh dari pantai, tidak terlalu jauh juga, lokasinya di seberang jalan menuju pantai. Lokasi dilapangan luas dengan tanah yang rata. Sengaja pihak sekolah membuat nya disini, ditengah hutan lebat dengan pemandangan hijau yang bisa dinikmati setiap pagi, ditambah lokasi yang berdekatan dengan pantai.
Kharisma datang dengan membawa palu
"Mau gue bantuin?" Tawar Kharisma
Al lantas mengangguk di ikuti oleh Ivana, gila saja kalau mereka berdua disuruh membangun tenda bisa dipastikan kalau sampai camping selesai tenda tidak akan bisa berdiri.
"Sen bantuin gue" teriak Kharisma memanggil Sena.
Al dan Ivana hanya menjadi penonton disaat Kharisma dan Sena membangunkan tenda untuk mereka berdua, setelah usai Kharisma menepuk tangan menghilangkan sisa tanah di tangannya.
"Udah jadi, sekarang tenda dulu besok gue bangunin rumah buat elo" ujarnya spontan
Mendengar itu tubuh Al terasa merinding. Ivana dan Sena lantas berhuuuu bersamaan
"Kode tuh Al" Ivana menyenggol lengan Al membuat perempuan mungil itu menoleh nya
"Kode apa Ivana, kode morse?" Al pura pura tidak mengerti
"Pakek gak ngerti lagi" Ivana menggaruk kepalanya "Maksud Kharisma itu sekarang di bikin tenda besok dia bikinin elo rumah sebagai suami elo" Ivana mempertegas kalimat Kharisma
"Udah Woy, jangan elo pertegas kan gue jadi malu" ujar Kharisma melipat garis bibir
Entahlah meskipun digoda dan dirayu seperti itu Al tidak merasa senang justru merasa risih saja.
"Gimana Al, udah cocok Lho, diterusin tuh" Sena ikut menggoda
"Udah kode Al, dia mau ngesahin elo" tambah Ivana.
__ADS_1
Al hanya diam saja tanpa menyahuti kalimat mereka, malas saja meladeni keduanya yang memang suka menjodoh jodohkan Al dan Kharisma, padahal cinta Al hanya untuk El seorang.