Ambisi Besar Sang Raja Muda

Ambisi Besar Sang Raja Muda
Chapter 53:Assassin Kembali Pulang


__ADS_3

Mereka dengan cepat pergi ke kediaman yang mereka singgahi tadi tanpa dicurigai,mereka mengumpulkan kertas yang diamankan lalu disatukan.


Dan pria berambut landak itu dilucuyi senjatanya dan diikat tangan dan kakinya juga disumpal mulutnya.


Ketua regu itu membacanya dan terkejut,mereka mengumpulkan informasi yang detil terhadap kerajaan Svardia.


"Kenapa kau amankan kertas kertas ini,bukanya sebaiknya dibakar saja" kata seorang assassin


"Bodoh,aku ingin menyerahkan ini pada raja,jadi kertas ini harus aman,dan besok pagi kita akan ke ibukota,raja pasti akan menyatukan semua pasukan di wilayah taklukanya dan raja sendiri yang memimpin pasukan itu" kata ketua regu menjelaskan.


Mereka memasukkan kertas yang ditumpuk itu di tas yang terbuat dari kulit,mereka semua mengobati luka mereka sendiri dan beristirahat,tiga assassin sedang berjaga jaga termasuk menjaga pria berambut landak tadi,mereka akan bergantian untuk berjaga.


Saat semua assassin itu beristirahat,mereka mendengar suara samar teriakan hiri hara,mungkin mereka berkumpul karena mansion itu terbakar.


Terdapat pasukan Griffin Rider yang mengguyur air ke bangunan yang terbakar itu dengan sihir air.


Bertahan di malam hari dengan keadaan berjaga melewati malam,tak disangka semua assassin yang terlelap dalam tidur harus dibangkunkan karena pria berambut landak itu sudah bangun.


Ketua regu menampar pria itu dan membuka sumpalan kain dimulutnya


"Sakit!,kenapa kalian tampar aku,apa kalian ingin aku berteriak untuk membangunkan penduduk kota dan prajurit kota,"


Ketua regu itu menamparnya lagi.


"Dimana ini,dan juga ruang ini terlihat Familiar"


Pria berambut landak itu pun melihat ruangan itu dengan saksama,ia pun menyadari sesuatu.


"Ini adalah rumah pria gemuk dan kakek tua itu,apa kalian membunuhnya,apa kalian ingin membunuhku juga!"


Kedua regu itu menamparnya lagi dan berkata dengan wajah yang mengintimidasi "Jadi,siapa namamu"


"Baiklah akan kukatakan,jangan tampar aku lagi,namaku adalah Reus,ketua perkumpulan intelejen bentukan sang raja"


"Apa ada merkas lain dari organisasi intelejen ini?" Tanya ketua regu

__ADS_1


"Tidak ada,ininadalah organisasj baru bentukan raja dua minggu lalu,jadi masih baru dan semua orang yang direkrut haruslah seorang yang tak memiliki keluarga" kata Reus menjelaskan


"Apa ada lagi yang kau bisa beritahu kami"


Mendengar kata itu Reus seketika berpikir dan memgingat ingat sebuah informasi yang ia pernah dengar.


"Aku pernah mendengar suatu pembicaraan saat di istana,yaitu tentang barrier kota,ada beberapa penyihir yang berada di menara,mereka mengatur barrier besar disana"


Mendengar itu beberapa assassin mengambil pena dan mencatat semua informasi penting yang ia katakan.


"Kau sudah menuruti perkataanku,aku memberimu teh hangat untuk diminum"


Assassin yang berada didematnya itu memoyong tali pengikat di tanganya dan memberinya teh.


Reus itu meminumnya dan merasakan enaknya teh itu,lalu tak lama setelah itu,mulutnya pun berbusa dan ia mati.


Cangkir teh yang Reus pegang  jatuh dan teh itu tumpah dan memenuhi lantai.


"Bersihkan teh di lantai itu dan cuci kainya,setelah itu rampas semua benda yang ada ditubuhnya"


Besok paginya mereka pergi diam diam dari kota itu melewati tembok kota yang lengah dari penjagaan,mereka menggunakan sihir levitasi dicampur dengan langkah bayangan.


Mereka memilih lewat sana dan tidak melewati gerbang karena prajurit di pos pemeriksaan akan melakukan pemeriksaan metat untuk mencari pelaku pembakaran kemarin malam.


Mereka berjalan dengan cepat meninggalkan perbatasan,saat mereka berpapasan dengan pedagang di jalan besar,mereka menumpang pedagang itu dengan bayaran koin emas,dan juga  kebetulan pedagang itu ingin oergi ke kota Lenfica.


Pedagang itu membawa dua pedati,satu pedati berisi kentang,dan satu pedati untuk pedagang,mereka di dalam pedati itu duduk berdempetan dengan pedagang itu,dan dua pembantunya yang terlihat kekar menjadi kusir dari dua pedati miliknya.


"Kalian ini siapa,dari mana asal kalian?" Tanya pedagang itu


"Kami pemuda yang ingin pergi ke kota besar,namun kendaraan kita dicuri oleh bandit,untung saja kita punya kekuatan untuk melawan dan kabur dengan selamat" kata ketua regu berbohong


"Kalau begitu aku turut prihatin pada kalian,mungkin pertemuan kita adalah takdir" kata pedagang itu


"Apa anda ingin pergi ke kota Lenfica untuk menjual kentang ini?" Tanya ketua regu

__ADS_1


"Bukan,aku mengirim kentang untuk panti asuhan,temanku yang memesan kentang itu dan membayarnya" jawab pak tua itu


"Aku tak tahu jika di kota Lenfica terdapat panti asuhan"


Mereka berdua berbincang bincang sampai mereka mendekati gerbang kota Lenfica,ketua regu assassin itu meminta turun di gerbang,dan dua belas assassin itu turun di gerbang,mereka melambai ke pedagang itu dan mencari kapal yang tujuanya pergi ke kota pelabuhan Sirnes yang mana kota itu dekat dengan ibukota.


Mereka pergi ke dermaga dan menanya nanyai kapal yang menuju kota Sirnest,setelah lama mereka mencari,ada kapal dagang yang kata beberapa orang disitu berasal dari kota Sirnest


Kapal itu membongkar muatanya di gudang,mereka membawa kain sutra terbaik dan beberapa gentong berisi wine.


Mereka menghampiri kapten kapal itu dan bertanya "apa kami bisa menumpang kapten,kami akan membayarnya"


Kapten kapal itu setuju dan menerima sekantong koin emas,mereka diizinkan naik dan menunggu semua muatan dibongkar,baru mereka akan kembali ke kota Sirnest.


Tak butuh waktu lama setelah bongkar muatan itu,mereka berangkat dengan kecepatan penuh karena kapal itu sudah kosong tanpa ada muatan lain yang membebani.


Kapal dagang itu berlayar agak jauh dari pesisir dari pelabuhan Lenfica,dan kini mereka masih berada di pesisir wilayah taklukan Svardia.


Sepanjang perjalanan mereka melihat beberapa kota pelabuhan di wilayah utara kekuasaan duke Nordford,dan saat langit mulai senja mereka sampai di kota Sirnest.


Perjalanan mereka sangat melelahkan,kini wilayah kerajaan Svardia semakin luas,akan lama sekali jika mereka ada di utara lalu ke selatan.


Setelah mereka turun,mereka segera menemui penguasa kota untuk menyediakan pedati bagi keduabelas assassin itu.


Setelah menunggu,penguasa kota itu menyerahkan satu pedati tanpa atap dan kuda berkualitas tinggi untuk mereka.


Untuk pedati,penguasa kota itu tak menarik harga,namun untuk kuda itu ketua assassin itu harus membayar 3 kantong koin emas.


Seorang assassin disuruh untuk mencari rumput untuk kuda,dan mereka pun berangkat meninggalkan kota Sirnest dengan cepat,karena kedua kota itu berjarak cukup dekat,mereka melihat tembok ibukota di kejauhan.


Mereka pun kembali ke ibukota saat petang hari,beberapa saat sebelum pintu gerbang ibukota ditutup.


Tujuan utama mereka adalah istana kerajaan,mereka berjalan melewati gemerlap penerangan kota dan beberapa rumah yang menyalakan lampunya menjelang gelap.


Kuda berotot itu telah membawa mereka ke istana,sebelas orang lainya disuruh menunggu di taman istana sementara ketua mereka memasuki istana dan menemui rajanya di ruang makan.

__ADS_1


__ADS_2