
Kini Fermund sedang membaca buku di pagi hari saat dia sudah bangun dia menunggu kedatangan kasar dan seluruh keluarganya.
Sekarang,semua pekerjaan sudah selesai,semua pelayan beristirahat dan menerima sekantong koin emas.
Beberapa prajurit diberangkatkan ke perbatasan untuk menyusul kaisar dan seluruh keluarganya.
Fermund sangat menikmati kesendirianya dengan membaca buku di dekat jendela,sesekali dia melihat orang orang di bawah.
Waktu sudah berjalan lama,namun kaisar tidak menunjukkan tanda tanda kehadiranya,Fermund pun memutuskan untuk membeli oleh oleh untuk tiga saudarinya.
Fermund keluar bersama dua orang Royal Guard menuju yoko terkenal yang tentunya berisi barang mahal.
Sebelum pergi,dia menyamar,dua Royal Guard nya juga itut menyamar.
Fermund menjadi lelaki berambut panjang dan berjenggot,Fermund memakai rambut palsu dan jenggot palsu,dia mengikat rambutnya dan memakai pakaian mewah,dia terlihat seperti pria paruh baya yang keren.
Dua Royal Guardnya menyamar menjadi pengawal yangbmengenakan armor dari kulit dan membawa belati dan pedang.
Melihat penyamaran Fermund,duke Wenster hampir tertawa dia tersenyum dan berkata "Ini tak cocok sama sekali untukmu yang mulia" kata duke Wenster
"Tidak apa apa,aku akan berangkat sekarang"
Wajah Fermund yang putih dan pupil mata ungunya juga rambut hitamnya yang pendek terlihat tampan dan berwibawa,namun sekarang ini dia menyamar menjadi pria paruh baya.
Beralih ke Strandborg yang sedang mengistirahatkan pasukanya dan mengisi stok logistik mereka lagi.
Mereka sedang menunggu pengintai mereka kembali mengumpulkan informasi di beberapa kota yang menjadi target mereka.
Semua pengintai berkumpul dan menghadap Strandborg.
"Bagaimana,apa kalian mendapat informasi?"
"Penguasa kota,kami semua sudah memeriksa kalau tidak ada barrier di semua kota,kami sudah memeriksanya"
Strandborg berdiri dan berkata "kumpulkan semua pasukan dan suruh mereka bersiap,kita akan ke utara"
Pasukan besar itu memasukkan bahan makanan dan kemah yang dikemas kedalam pedati,semua prajurit itu berbaris dan berangkat ke utara.
__ADS_1
Perjalanan mereka tak menempuh waktu lama karena target mereka berada di dekat wilayah milik Murtins,tenpat dimana mereka beristirahat setelah peperangan di kota Lordum.
Pasukan gabungan itu melewati perbatasan dan menuju kota,dari jauh mereka melihat empat orang berada di depan gerbang dan juga tenda yang agak besar di sisi kiri gerbang.
Mereka berhenti sebelum memasuki jarak tembak anak panah.
Empat orang itu maju menuju Strandborg mereka seperti membawa gulungan untuk diserahkan pada Strandford.
Tapi setelah mereka agak dekat ke Strandborg, seorang pemanah melesatkan panah ke tanah tepat didepan empat orang itu.
"Kami datang kemari dengan damai dan kalian masih ingin menyerang kami,sungguh biadab" kata kakek tua yang memakai baju zirah hitam dan memegang gulungan.
Strandborg memarahinya dan menyuruh pemanah itu untuk pergi,dia pun beralih melihat kakek tua itu dan bertanya "ada suatu hal yang ingin dibicarakan?"
"Ini adalah surat dari penguasa kota Alsena yang menguasai kota Miridia"
Strandborg turun dari kudanya dan membuka gulungan itu dan membacanya.
"Ini bukan jebakan bukan?"
"Baiklah kami akan mendekati kota dan aku ingin bicara dengan tuanmu"
Kakek itu mengangguk dan berkata "kami sudah mendirikan tenda dan penguasa kota ada didalam tenda itu"
"Dia ada disana?"
"Benar,pemimpin kami sudah menunggu"
Pasukan itu mendekat ke tembok dan membangun tenda mereka,sedangkan Strandborg dan dua penguasa kota masuk ke dalam tenda itu.
Saat mereka membuka tenda,mereka melihat seorang wanita cantik yang menggunakan baju zirah,melihat Strandborg dan dua penguasa itu,dia mempersilahkan semuanya untuk duduk.
"Silahkan duduk kalian bertiga,dan nikmati winenya"
Strandborg pada awalnya tak mau meminumnya,namun karena dua penguasa kota itu meminumnya dengan nikmat dia pun tak khawatir.
Setelah menyeruput wine itu Strandborg bertanya "apa anda Alsena?,penguasa kota Miridia?"
__ADS_1
"Benar,aku adalah Alsena,anda sudah melihat pernyataanku bukan,tuan Strandborg?"
Strandborg mengangguk,dia menanyakan lagi apa alasan atas penyerahanya itu.
"Apa alasan anda menyerah pada kami nona Alsena?"
"Yah,aku sangat kasihan jika di tempat yang damai seperti wilayah kekuasaanku akan terjadi perang dan pembantaian,meskipun aku memiliki pertahanan yang tangguh pun,kalian tak akan berhenti menyerang bukan,"
Strandborg hanya terdiam dan dua penguasa kota itu hanya tersenyum.
"Kalau begitu mulai sekarang anda akan menjadi anggota negara kota bersatu,dan kita adalah sekutu mulai sekarang,mari saling menguntungkan" kata Strandborg sambil bersalaman dengan Alsena
Di kota Miridia,terdapat pergantian bendera,semua bendera Rovalia dikibarkan di setiap menara dan dipasang di gerbang juga.
Alsena mengajak masuk Strandborg dan penguasa kota lainya untuk memasuki kota,saat mereka memasuki kota.saat gerbang dibuka,terdapat pertahanan pasak kayu yang disusun di samping kanan dan kiri juga di depan mereka.
Mereka hanya terdiam melihat itu.
"Aah,maafkan aku,aku lupa menyingkirkanya,seseorang tolong singirkan ini" kata Alsena
Setelah memasuki gerbang,mereka melihat sekitaran kota,mata mereka semua terbelalak.
Rupanya saat mereka masuk ke dalam kota, barulah Strandborg dan dua penguasa kota itu terkejut melihat pertahanan kota yang tersembunyi di tembok tinggi itu.
Terdapat lima perisai dari kayu berjejer agak jauh dari pintu gerbang,dan terdapat pemanah disana,di sisi kiri mereka,ada enam trebuchet yang diletakkan agak jauh dari tembok kota,dan juga terdapat dua barisan pasukan pemanah.
Agak jauh dibelakang trebuchet terdapat tujuh double balllista yang mengarah keatas,mereka juga sudah tau jika balista yang mengarah ke atas itu untuk mengatasi Griffin Rider.
Mereka bertiga dan prajurit pengawal baru menyadari jika tembok kota itu sangat tebal.
Oleh karena itu mereka bisa lihat di belakang barisan pemanah yang ada di tembok terdapat penombak yang mungkin akan menusuk orang orang yang menaiki tangga menuju atas dinding disaat pengepungan.
Mulut mereka menganga melihat sistem pertahanan kota yang sangat menakjubkan itu,Strandborg dan dua penguasa kota itu menatap Alsena.
"Kau sungguh jenius nona Alsena,aku akui itu" kata Strandborg
Alsena hanya memberikan senyuman dan berkata "cuacanya cerah sekali,sangat bagus untuk memanggang daging untuk makan siang kita bersama"
__ADS_1