Amnesia

Amnesia
Arif dan Silvi


__ADS_3

Rabu pagi, aku berjalan menuju sekolah sendirian, kemarin malam Silvi memberi tahuku dia ada urusan, jadi dia tak bisa pergi bersamaku. aku datang ke sekolah pagi-pagi sekali, namun tampaknya ada yang datang lebih pagi dariku, dikelas sudah ada orang ternyata.


aku mengintip dibalik jendela, ternyata Silvi dan Arif, mereka berbicara seolah itu sangat penting sekali, ada apa mereka datang pagi-pagi, aku merasa heran.


tak lama, Tya datang menghampiri ku, dia malah ikut mengintip bersamaku.


"Hallo Nata, Selamat pagi" ucapnya berbisik.


"pagi, jangan berisik Tya"


kulihat Arif memberikan sesuatu pada Silvi, Silvi kelihatan senang sekali dia memeluk arif. rasanya aku cemburu, hatiku hancur, aku tak mampu berkata-kata. hanya diam. Mereka terlihat sangat serasi sekali, memang harusnya seperti itu, orang cantik dan orang ganteng. itu memang cocok sekali.


sementara Tya memegang tanganku dengan erat, dia bilang "Nata, kamu pasti kuat". air mataku rasanya mau keluar, panas sekali dada ini, namun harus aku tahan.


" Tenang Nata, tenang" ujar Tya menenangkan ku, aku di tarik pergi dari sana oleh Tya, aku ditarik ke gudang , di sana Tya memelukku, "Jika kamu mau menangis, menangis lah" rasanya campur aduk sekali, sesak hatiku sesak sekali. orang yang aku percaya mengkhianati ku. sakit, ini sakit sekali. tangis ku pecah dipelukan Tya, aku tak mengerti, kenapa Silvi seperti itu, ini menyakitkan. sangat sakit sekali.


"Jika kamu sudah tenang aku ingin bicara dengan mu" ujar Tya, dia memelukku dengan erat, aku tau, wajahnya menunjukan betapa dia mengasihani diriku.

__ADS_1


aku mulai sedikit tenang, dan Tya melepaskan pelukkan nya, "Nata, coba senyum dulu" ujar Tya, dia tersenyum kepadaku, namun aku hanya menggelengkan kepala.


"Ayo senyum, itu akan membuat suasana hatimu membaik"


akhirnya aku coba paksakan tersenyum, meski berat


"Nah, kan kalau seperti itu kamu cakep, sudah ya jangan menangisi hal tadi lagi"


"iya"


"Aku pikir kamu harus menanyakan nya langsung pada Silvi, barang kali kamu salah faham"


"tapi Nata, Silvi itu mencintaimu, aku sendiri merasakannya, kamu harus percaya sama dia" ujar Tya


"Aku yakin kamu salah faham Nata, kita hanya melihat dari salah satu sudut pandang, dan itu belum tentu benar"


"tidak, memang harusnya seperti itu, mereka sangat cocok sekali bukan? lagian sebelumnya mereka juga sudah saling mengenal,. aku yakin Arif bisa menjaga dan mencintai Silvi lebih dari aku"

__ADS_1


"Sudah sudah, aku tak suka melihatmu seperti ini, sekolah sudah masuk, dan kita bolos pagi ini"


"Tya, tetaplah disini, aku hanya ingin bersandar sebentar, temani aku ya"


"iya Nata, segeralah tenang"


di gudang itu aku berdua dengan Tya, tak ada satu katapun yang terucap lagi. ku lihat HP ku banyak sekali telp dan pesan dari Silvi, namun tak mau ku buka. aku lihat Tya, sepertinya diapun bersedih.


Aku merasa menjadi pecundang, gelap dan hitam kembali menyelimuti ku, harusnya dari awal aku memang tak bermain-main dengan cinta, aku tak tau akan semenyakitkan ini.


kembali ku lihat HP ku, ada sekitar 50 panggilan tak terjawab dan 170 pesan dari Silvi.


"Ura kamu dimana ? kamu tak masuk sekolah? kata ibumu kamu berangkat, aku khawatir"


"Ura?"


"Ura jawab"

__ADS_1


ya seperti itulah pesan yang masuk. namun aku mengabaikan nya, aku sungguh sangat sakit hati


__ADS_2