Amnesia

Amnesia
Pernyataan Perang dan Deklarasi Damai


__ADS_3

Tembok yang bernama keegoisan rubuh, setiap kepingan di dalamnya menceritakan kesakitan, kesombongan dan harga diri.


Tubuh Silvi terlihat sangat lemah, padahal dia memiliki hati yang kuat, sedangkan Tya memiliki tubuh yang kuat, namun hatinya lemah dan mudah terluka.


Senyuman terlempar, begitu juga kebahagiaan berdatangan, aku tau dia masih memegang api cemburu yang selalu siap membakar ku.


"Tya, maafkan aku, aku tak tau hubungan kalian seperti apa sekarang, namun aku pikir aku telah melakukan sesuatu yang salah" Ujar Silvi, dia memaksakan diri untuk bangun. wajahnya masih sangat pucat.


Tya kemudian memeluk Silvi


"Ini bukan salahmu, aku saja terlalu mendewakan egoku, cepatlah sehat, aku ingin berbicara denganmu lebih jauh"


Pagi yang cerah, keadaan yang sedih. hari ini aku mengetahui dengan jelas bahwa Tya juga merindukan Silvi.


Kesombongan, kebimbangan dan ketakutan adalah alasan setiap tindakan, aku tak mau lagi kehilangan, namun aku juga tak bisa melepaskan. Aku serakah menginginkan kedua hal yang tak mungkin aku dapatkan bersamaan.


"Tya, Silvi maafkan aku, ini semua salahku"


aku mencoba meminta maaf dengan ikhlas, namun sorot mata mereka menganggap tak ada satupun yang bersalah atas kejadian ini.


"Tidak, kau tidak melakukan kesalahan apapun, aku terlalu emosional, terbakar cemburu melihat kalian berduaan, aku sadar betul kalian hanya bercerita, bahkan kau telah menjelaskan ku bahwa Silvi itu amnesia, namun aku masih takut untuk menerimanya, mengingat bahwa dahulu kau sangat bahagia dengan Silvi " ujar Tya dia masih sangat terlihat emosional.


Manusia akan bertindak sesuai emosi jika berkaca tentang perasaan, air mata dan amarah adalah bukti nyata dari hati yang terluka.


"Maafkan aku, aku tak tau kau sudah dengan Ura, aku juga tidak bermaksud membangkitkan perasan yang pernah ada. hanya saja aku sedang mencari ingatanku yang pergi"


Rasa bersalah yang ditunjukannya, justru menghancurkan diriku. ternyata aku masih berharap dia kembali dengan rasa yang sama seperti dahulu.

__ADS_1


"Maafkan aku juga tidak memberi tau mu Silvi"


"Nata, aku ingin bicara denganmu"


Tatapan yang benar-benar serius dan tajam sekali.


Tya menarik ku ke luar kosan


"aku mau kau membantu Silvi mengembalikan ingatannya"


Dia berbicara dengan mulut yang bergetar, aku rasa dia sangat ketakutan saat mengatakannya.


"jadi kalau begitu, aku juga ingin putus denganmu Nata"


tak aku sangka, ucapan itu keluar dari mulutnya. pedih dan sakit sekali.


"ini akan berat, bagiku juga bagimu, namun waktu akan terus berjalan, aku sudah mengerti bahwa aku hanya figuran bagimu, dalam cerita hidupmu dia adalah tokoh utamanya. pertama kali aku mendekatimu, aku sudah sangat siap ditinggalkan, karena aku hanya bisa menjadi seseorang yang menghiburmu, bukan orang yang bisa membahagiakanmu"


matanya mengatakan bahwa semua itu hanyalah kebohongan, dia hanya takut untuk menghadapi kenyataan.


"apakah kau tidak menderita mengatakan kebohongan seperti itu?"


aku menatap tajam matanya.


"kau selalu memiliki mata yang indah, tak mungkin ada kebohongan didalamnya, matamu jauh lebih jujur dari mulutmu" ujarku


"tapi aku tak mungkin punya kesempatan"

__ADS_1


"Kamu takkan punya kesempatan jika menyerah, lalu jika kau putus denganku, bagaimana caramu untuk mengembalikan kondisi hatimu?"


"sudah aku putuskan aku akan membencimu, membencimu adalah pertahanan diri bagiku, dengan membenci, hati yang terluka pun lambat laun akan sembuh"


"kalau begitu aku akan menolaknya, meski egois, permintaan mu untuk putus tak akan pernah aku terima"


"kenapa seperti itu?"


"hubungan ini dimulai dari kesepakatan untuk saling mencintai, jadi apapun yang terjadi kau tidak bisa memutuskannya sendiri"


Tiba-tiba Silvi keluar dari kosan.


"Jika aku sumber masalah kalian, lebih baik tidak usah mengembalikan ingatanku, dengan begitu Ura akan selalu menjadi milikmu Tya" ujar Silvi


"Tapi, aku tak bisa melakukan itu Silvi" ujar Tya


"Kalau begitu, sampai semua ingatanku kembali, bagaimana kalau kita bersaing untuk mendapat hati Ura" jawab Silvi


Pernyataan perang dan Deklarasi damai diucap kan Silvi secara bersamaan. dia selalu sembrono.


"kau sekarang mendeklarasikan perang terhadapku, aku tak boleh menyerah tanpa perlawanan" ujar Tya


"kalau begitu, siapapun yang kalah, tidak boleh iri pada yang menang, tidak boleh ada perasaan benci dan kita akan berteman" ujar Silvi


"Setuju" ujar ku dan Tya


Tya dan Silvi berpelukan, usah sudah badai ini, langit pun memberi tanda, mentari telah datang!

__ADS_1


__ADS_2