Amnesia

Amnesia
Legenda tentang Cahaya


__ADS_3

Ada sebuah legenda di kota ini, bahwa seseorang yang tulus dan bersih hatinya bisa melihat cahaya, dan jika ia menginginkan sesuatu saat cahaya itu datang, maka keinginannya akan terwujud.


Sudah 24 tahun aku ada di kota ini, namun bekum pernah melihat cahaya yang dimaksud, sebenarnya ada dua kemungkinan, pertama legenda itu hanya sebatas legenda, dan yang kedua aku adalah orang yang kotor.


Melihat waktu yang berputar, kadang aku merasa kesepian dan ingin ditemani, namun aku sadar aku harus pergi, untuk mendekat kepadamu.


beberapa kisah terurai bahagia beberapa lagi terasa menyedihkan. namun semua harus tetap berjalan.


Senin pagi, aku berangkat mengirimkan lamaran kerjaku, apotek, RS dan Industri Obat menjadi tujuanku, aku harap aku masih berkerja di kota ini, meski penghasilan nya tidak besar aku masih bisa menengok ibuku setiap hari dan bertemu dengannya.


Sejak kuliah, aku sudah memutuskan hidup sendiri, mencari uang dengan menulis, rumah ibuku dekat, hanya saja aku harus memulainya sendiri.


Hari ini, aku akan datang ke rumahnya Silvi, wanita yang terpandang dari keluarga yang kaya raya. kadang aku untuk datang saja sudah sangat malu, tapi melihat kedekatan ini aku sedikit optimis.


saat bell rumahnya aku pencet, detak jantungku semakin meningkat. aku tau mereka pasti menungguku, karena aku juga sudah berjanji akan datang untuk membicarakan hal yang penting.


Pintu gerbangnya dibuka, tepat dihadapan muka ku adalah ayahnya Silvi, orang yang sangat berwibawa, ramah namun sangat disegani.


Diantarnya aku masuk kedalam rumahnya, kali ini ruang tamu seperti ruang sidang, rasanya gelisah sekali, dan aku merasa takut.

__ADS_1


"Jadi apa tujuanmu datang kemari nak?"


ucapan itu keluar langsung dari ayahnya, aku mencoba memberanikan diri, dengan penuh keyakinan, aku coba menjawabnya.


"Tolong berikan anakmu untukku, aku ingin hidup bersamanya"


kata yang keluar dari mulutku ini datang tiba-tiba, tanpa melewati proses pemikiran, kata ini keluar begitu saja.


sontak ucapan ku itu membuat suasana hening, ibu nya Silvi tersenyum padaku, namun ayahnya seperti belum rela mendengar ucapan ku.


"aku telah menjaganya dengan sangat baik, aku habiskan semuanya hanya untuk kebahagiaan Silvi anakku, aku tak bisa menjawabnya, karena yang akan melaluinya adalah Silvi, biarkan aku mendengarkan jawaban mu langsung Silvi"


Silvi yang wajahnya sedang memerah, dia berkata dengan terbata-bata, namun dia yang duduk di samping ku, memegang tanganku dengan erat, menatap ku dan menjawab nya.


rasanya lega sekali aku mendengarnya, namun ini akan jadi suatu beban yang berat bagiku, tapi aku sangat menantikan nya.


"Kamu sudah dengar kan jawaban dari anakku, sekarang terserah padamu, meski tidak sebaik aku, kau harus bisa menjaga dan menyayanginya"


tampak wajah ayahnya sedikit berkaca-kaca, pasti berat sekali memberikan putrinya pada lelaki lain, mempercayakan nya dan pasti akan pergi dari rumahnya.

__ADS_1


"Aku pasti akan menjaganya, aku juga akan berusaha sekuat yang aku bisa untuk membahagiakan nya"


"Kamu sangat mirip dengan suamiku waktu muda, sangat optimis dan sangat baik terhadap perempuan" ujar ibunya Silvi.


"Iya, aku juga merasa seperti itu bu" ujar Silvi.


"Aku disamakan dengan bocah ini?" wajahnya terlihat kesal, namun aku mengerti dia sedang bercanda.


keluarga yang aneh dan juga hangat, sudah lama aku tidak merasakan kehangatan keluarga seperti ini, Silvi benar-benar diberkahi, keluarga yang harmonis dan berkecukupan, impian semua orang.


"Minggu depan aku akan datang lagi kesini dengan ibuku, aku akan melakukan lamaran resmi, mungkin tidak meriah, namun aku sangat menantikan nya"


menetes air mata Silvi saat aku mengatakan hal itu, bukan karena dia bersedih, tapi hatinya sedang berbunga dan juga dia sedikit bingung jika dia harus meninggalkan keluarganya.


"Aku tidak akan menjanjikan kekayaan duniawi, hidup denganku juga mungkin tidak akan selalu damai, namun aku akan berusaha sekuat mungkin untuk membuatmu selalu tersenyum dan bahagia, aku berjanji akan selalu ada"


"Aku akan ingat janji mu Nak" ujar ayahnya Silvi


"Ya, aku tidak keberatan dengan itu, aku sangat bahagia" ujar Silvi

__ADS_1


"Kau anak yang baik, Nata" ujar ibunya Silvi


Sekilas aku melihat cahaya berterbangan di ruangan ini, cahaya yang begitu menyilaukan, ternyata legenda itu benar, cahaya kebahagiaan memanglah nyata


__ADS_2