
Setelah lelah membaca, kami kemudian beristirahat, jendela kamar ku buka, angin nya terasa menyegarkan, aku coba memulai percakapan, namun sepertinya dimas memiliki sesuatu yang ingin dia tanyakan.
"Tya sedang apa kamu kesini?" Ujar dimas yang menutup novelnya, kemudian berjalan ke arah makanan yang tadi Tya bawa.
"Aku sering kesini, ya pastinya untuk menemui Nata" ujarnya yang juga berhenti membaca novel, dan mulai mendekat padaku.
Tya memang sering manja kalau ada di kamarku ini, aku yang sedang duduk, kemudian kepala Tya tidur di pahaku.
"Kalian berpacaran ?" tanya Dimas, dia mulai membawa makanan dan mengunyahnya.
"Setau ku, aku belum pernah putus sama Nata tapi dia jahat, aku juga hampir menyerah tapi tidak jadi" ucapnya begitu manja sambil memegang pipiku.
"Secara status sepertinya kita masih bersama, tapi kalau begitu aku juga masih berpacaran dengan Silvi, karena belum ada kata putus juga" ujar ku mencubit hidung Tya, dia membalas memukuli ku dengan manjanya.
"Tuh kan Dimas, Nata jahat" ujarnya mengadukan kelakuan ku pada Dimas.
__ADS_1
"oh seperti itu kejadiannya, lalu Novel yang kamu tulis ini untuk Silvi apa Tya?" Dimas menunjukan Novel yang aku tulis.
"Novel itu aku tulis jauh sebelum berpacaran dengan Tya, dan yang kedua itu selesai ketika awal-awal kami berpacaran" jawabku namun Tya menggigit tanganku.
"aw sakit sekali" ucapku
"seperti itulah perasaan ku, jadi kapan kamu menulis kisah denganku?" dia melepaskan gigitannya, dan Dimas hanya tertawa melihat kami berdua.
"Apa kamu tidak tau Tya? Nata bilang dia sedang kehilangan kemampuannya untuk menulis novel" ucap Dimas dengan wajah serius
"Iya" jawabku sembari memalingkan wajahku darinya.
tetapi dia menatap wajahku dengan sedikit memaksa.
"Sejak kapan? kenapa kamu tidak menceritakan nya padaku?" wajahnya berubah, aku mengerti dia seperti nya sedikit marah padaku.
__ADS_1
"Mungkin setelah aku bertemu Silvi, tapi tepatnya setelah ulang tahunmu dan ditinggalkan olehmu" jawabku dengan pelan.
Tya menamparku dengan sangat keras, Dimas sangat kaget, begitu pula aku, benar-benar kejutan.
"Kenapa kamu tidak bilang padaku sebelumnya, aku juga ingin membantumu, aku juga ingin ada di samping mu saat kau merasa lelah, aku juga ingin mendengarkan cerita dan keluh kesah mu, kenapa kau sembunyikan hal seperti ini dariku, aku merasa kecewa" dia berdiri dan memalingkan badannya, dia benar-benar marah.
"aku hanya tak mau kau merasa khawatir, apa lagi kau pergi luar kota, aku tidak ingin menjadi beban untukmu" aku mendekat padanya, memegang tangannya, namun dia melepaskannya. baru kali ini dia marah seperti ini.
"Jika kau seperti ini, bagaimana bisa aku mengerti, aku juga ingin dibutuhkan olehmu, aku juga ingin mendengar kesedihan dan tawamu, aku ingin ada di samping mu saat kau merasa sulit, tapi sepertinya kau memang tidak menginginkan keberadaan ku. bahkan kau tidak menganggap ku"
kemudian dia pergi dengan amarahnya, pintu kos ku pun dia tutup dengan cara dia banting, dia benar-benar sangat marah sekali.
sementara Dimas, menunjukan wajah merasa bersalah, aku mengerti pasti dia sedang merasa tidak enak padaku sekarang.
"Nata, maafkan aku. aku kira kau mengatakan hal itu padanya" ujar Dimas, dia sedikit berkeringat dan gugup.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, ini bukan salahmu, ini karena aku menyembunyikan nya pada Tya, seharusnya aku mengatakan nya saja" ujar ku mencoba mencairkan suasana