
Beberapa hari ke depan aku akan terus begadang, selain menyelesaikan tugas kuliahku, aku juga dikejar target menyelesaikan novel ku yang kedua.
di kos ku yang berantakan ini, aku coba buka jendela sehingga udara bisa masuk kedalam dan menyegarkan pikiranku.
sebulan adalah deadline nya, rasanya stres sekali, aku hanya berkutat di ruangan sempit ini. untung saja Tya menemaniku setiap harinya, senyumannya membantuku melewati semuanya.
"Ura sudah malam, segera istirahat"
"Apa kau mau pulang?, ayo mau ku antar"
"Aku boleh disini? menginap di kamarmu?, aku sudah sangat mengantuk sekali" wajah Tya begitu terlihat lelah. Tya kelihatan begitu mengantuk.
"eh, jangan, apa kau tak takut aku melakukan sesuatu padamu? begini juga aku laki-laki dewasa loh"
"haha, aku menunggu kamu melakukan hal nakal" tak lama setelah itu Tya benar-benar tertidur.
aku masih melanjutkan menulis, mumpung sedang banyak ide ku lanjutkan saja.
Sebenarnya aku sedikit khawatir, Tya tau bahwa novelku yang pertama dan yang kedua menceritakan tentang Silvi. aku tak mau menyakitinya, tapi bagaimana lagi ini janjiku pada Silvi.
malam itu....
Kata-kata berterbangan masuk kedalam otakku, air mata aku gambarkan didalamnya, begitu pula kesedihan, depresi dan penderitaan aku lukis dengan baik
tak terasa waktu berlalu, ternyata sudah jam 3 subuh, sebaiknya aku tidur, dan aku mulai mengantuk.
*sfx suara alarm
"Nata bangun, sudah siang, apa kau tidak masuk kuliah pagi ini?"
Tya membangunkan ku, namun aku begitu merasa lelah.
"Jangan terlalu dipaksakan, aku tau deadline nya, tapi jangan sampai kau sakit Nata"
"Iya, bawel" aku tersenyum dan memeluk nya.
"bawel juga aku ini pacarmu" wajah Tya terlihat badmood
ku cium bibirnya, Tya sangat manis sekali.
"Sudah, kamu tak marah lagi kan? terimakasih sudah menemaniku"
"Nata, satu kali lagi" ujarnya dengan wajah memerah
"eh, kau begitu menyukainya" aku tertawa menggoda
"aah, Nata jangan malah mengejekku seperti itu"
__ADS_1
kemudian aku menciumnya lagi, aku rasa Tya sangat menikmatinya. dia selalu menutup matanya.
"Setiap hari aku ingin kamu peluk dan cium, tak ada penolakan"
"Tya kamu mesum sekali hahaha" jawabku mengejek
"Nata!" wajahnya begitu memerah, aku tau dia memaksakan diri untuk berani mengatakan hal itu padaku.
Hari ini kampus terasa panas sekali, namun aku harus menyelesaikan bimbingan ku. pasti banyak revisi, malas sekali rasanya. Dosen itu sepertinya membenciku, dia selalu merevisi skripsi ku seakan yang ku kerjakan tidaklah benar, ah aku sangat membencinya juga.
setelah selesai merevisi skripsi ku, aku kembali menulis novelku, setiap kali aku menulis nya, selalu ada air mata yang jatuh, seperti nya aku masih berharap Silvi masih ada menemaniku, aku begitu merindukannya, sudah sangat lama sekali, aku ingin sekali memeluknya lagi.
tak terasa air mataku pun jatuh, tiba-tiba Tya datang menghampiri ku.
"Nata, ada apa?"
"Tidak, aku mungkin hanya sedang merindukannya" ujar ku sembari mengusap air mataku
"Tidak apa-apa sesekali menangis lah"
"aku tak bisa memilih akan jatuh cinta pada siapa, dan sulit rasanya untuk melupakan perasaan itu"
"Kalau begitu, jangan kamu lupakan dia, Nata"
"Apa itu tak menyakiti mu?" aku melihat ke arah Tya
"hati manusia sungguh sangat rumit, sangat keras, sulit dimengerti dan sangat indah, selama kamu tidak meninggalkan ku, tak jadi masalah kamu menyimpan kenangan dengan Silvi" matanya sedikit berkaca-kaca
"Jangan bicara seperti itu, Aku selalu melihatmu bahagia waktu bersama Silvi, begitu pula Silvi, dia sangat mencintaimu kan?" air mata Tya turun, pasti ini akan berat untuknya.
"Terimakasih Tya, hatiku sedikit lega mendengarnya"
"seberapa banyak rasa sakit dan kesedihan yang kau alami, tidak akan membuatmu merasa tidak bahagia. Hidup itu menarik, karena kita tak bisa mendapatkan semua yang kita inginkan. aku berharap kamu tidak menyesali sesuatu yang tidak harus kamu sesali" Tya mencoba tersenyum, namun air matanya turun tanpa dia sadari.
aku memeluk nya, kali ini aku begitu merasa beruntung memiliki Tya, dia begitu sabar, dan begitu kuat mensupport ku.
dia tidak mengeluh bersamaku, padahal Silvi masih ada, jauh didalam hatiku.
"Nata, apakah aku boleh menginap lagi disini?"
"eh, ada apa?, aku tidak akan begadang lagi kok"
" Justru karena itu, aku ingin memelukmu sepanjang malam ini"
"gimana aku mau menolak nya ya" aku mengiyakannya karena merasa bersalah membuatnya meneteskan air mata
Malam datang, begitu dingin rasanya. dalam dekapan ku, Tya ada di kamarku, di atas kasur bersamaku.
__ADS_1
"Tya, kamu cantik sekali" aku memeluk nya sangat erat
"Nata, jangan bilang seperti itu, aku jadi malu" wajah Tya memerah.
"oh kamu masih malu-malu denganku?"
"tidak, tetapi ini rasanya seperti mimpi, berada di kasur bersamamu, di pelukanmu" Tya tersenyum, aku senang sekali melihatnya
"haha, anggap saja ini ucapan terimakasih, karena kau selalu mensupport ku"
"Nata, aku ingin lebih" dia berkata dengan wajah manja dan malu malu.
"Kamu mau aku mencium mu?, baiklah"
aku mencium Tya dengan begitu bernafsu, aku sudah berada di tingkat nafsu hewan buas.
"Nata, aku ingin melakukan nya denganmu"
"aku juga Tya"
aku benar-benar terbawa arus, saat Tya melepaskan pakaian nya satu persatu, indah sekali tubuhnya itu. ku tatap wajahnya, dia sepertinya masih malu-malu.
sesaat setelah melihat tubuhnya itu, aku teringat Silvi yang dulu menangis, saat kita akan melakukan hal yang sama. berat bagiku jika melanjutkan nya. maafkan sepertinya aku tak bisa.
Dan aku memeluk Tya, menahan nafsuku yang semakin tidak terkendali.
"Aku pikir, aku tak bisa melakukannya. ini membuatku mengingatkan masa laluku yang buruk"
"masa lalu mu dengan Silvi?" mencoba melepaskan pelukan ku, dia tampak begitu marah.
"iya, aku memang tak pernah melakukannya, hanya saja waktu itu Silvi mengajakku, namun aku tolak, dan setelah kejadian itu Silvi benar-benar pergi dari hidupku, dia bilang ingin membuat kenangan bersamaku, aku tak melakukannya saja semenderita ini apalagi jika aku melakukannya"
air mataku jatuh, kenangan datang berputar secara cepat dalam pikiran. aku begitu menderita
"hemmm"
"maafkan aku Tya, aku juga takut. aku sudah mencintai mu, jadi lakukan saja nanti setelah kita menikah"
"Tak apa Nata, aku selalu menyukaimu kok"
dia tersenyum namun aku meragukan keikhlasan nya
"terimakasih Tya, jangan meninggalkanku"
aku merasa begitu lemah, aku takut kehilangan, aku takut menderita, aku takut dengan semua yang menyakitkan.
"seperti nya, bukan aku yang meninggalkan mu, tapi kamu yang akan meninggalkan ku.
__ADS_1
Terdengar seperti hancurnya sebuah harapan yang besar, saat itu juga aku mengerti bahwa kesedihan yang hebat tak lagi mampu dilukiskan air mata.
karena Tya tersenyum, namun hatinya sungguh sangat kesakitan dan ketakutan.