
Dia datang seperti daun yang tertiup angin, berlari dan memeluk Tya, suara kangen terdengar dari setiap langkahnya, ini bukan sebuah kebohongan, karena ini adalah ketulusan.
"Aku juga merindukanmu, meski ini sedikit menyakitkan"
Tya tersenyum ke arah Silvi yang berada didepannya, dia memegang kedua tangan Silvi.
"Kamu cantik sekali, aku harap aku bisa secantik dirimu"
Namun ucapan itu Silvi hiraukan, dia fokus pada sesuatu yang menurutnya menarik, bahkan aku baru menyadarinya setelah Silvi mengatakannya.
"Rambutmu kau potong pendek lagi Tya?, Rasanya seperti dahulu ya, jaman SMA"
"Iya, bukankah wanita selalu memotong rambutnya ketika mereka patah hati?, sebagai simbol memotong kenangan yang menyakiti hati"
sementara itu aku menanyakan progres dimas, sudah sampai mana dia menulis, mengingat dia menyukai Novel dan memiliki referensi yang bagus, aku yakin dia dapat menulis dengan hebat.
"Bagaimana tulisanmu? sudah sampai mana ?" ujar ku yang menanyakan ini pada Dimas
"Sebentar lagi selesai, aku pikir setelah ini aku akan mencoba menjadi saingan mu"
__ADS_1
"Kalau melihat kesukaanmu pada novel dan banyaknya referensi yang kau baca, kau pasti dengan mudah melampaui ku"
"Oh, iya sore ini aku ingin berkeliling, maukah kalian berdua menemani kami ?" ujar Tya.
"Tentu saja" ujar aku dan Silvi
Berjalan mengelilingi kota sembari menghangatkan diri dari dinginnya hati, mentari tenggelam tanda akhir dari perjalanan ini. sayang sekali waktu berjalan begitu cepat.
"Hari sudah malam, aku pulang ya, selamat tinggal" ujar Tya yang diantar Dimas.
kami hanya melambaikan tangan, sesaat setelah Tya pergi, Silvi memandangiku, wajahnya menunjukan ada sesuatu yang dia rencanakan.
"Entah, mungkin sebanyak bintang di langit, karena kau langit malam ku yang begitu elegan"
Mendengar nya Silvi tertawa, begitu puas dia tertawa hingga mengeluarkan air mata
"Kalau begitu aku ingin segera kamu nikahi, aku tak mau jika harus menunggu, aku takut kamu pergi"
"haha, tentu saja, secepatnya, setelah aku mendapatkan pekerjaan dan mendapatkan uang"
__ADS_1
"Bukankah kau sudah mendapatkan uang dari menulis?"
"Menulis itu hobi ku, dan ide tidak keluar setiap waktu, ini sangat beresiko jika dijadikan penghasilan utama"
"oh, kalau begitu kapan kau akan bekerja" ujarnya yang begitu penasaran.
"Mungkin mulai besok aku akan memasukan lamaran, semoga saja secepatnya, agar aku segera bisa menikahi mu"
tak terasa kita sudah didepan kos ku saja. aku mengajaknya untuk pulang, biar sekalian aku antarkan dia, namun dia bilang ingin bersama ku sedikit lebih lama.
Dia sedikit manja kali ini dan menempel terus padaku, aku juga sangat mencintainya, hingga aku bisikan kalimat-kalimat yang bisa menyentuh hatinya, beberapa kali dia tersipu malu, kadang juga dia menertawakan aku.
Langit sangat indah malam ini, bintang bersinar sangat terang, kadang aku iri pada bulan, begitu bersinar ditengah megahnya langit malam. tapi dia kadang malu untuk menampakkan diri.
Bulan yang bersinar saja kadang malu, apalagi diriku, aku pikir hidupku cukup membosankan, aku hanyalah figuran bagi cerita yang lainnya, namun bagi beberapa orang aku juga menjadi pemeran utama. layaknya Silvi, Tya dan Ibuku, bagi mereka aku salah satu pemeran utama.
kalau aku ingat lagi, beberapa kejadian kebelakang, rasanya hidup ini lucu. Ada yang hilang ada yang datang, ada pula yang tak kembali.
Semua harus menanggung resiko dari setiap tindakan, satu langkah menentukan semua urutan kejadian dimasa depan, merubah langkahmu berarti merubah masa depan.
__ADS_1