Amnesia

Amnesia
Nafsu dan Hasrat, Rahasia yang terbongkar


__ADS_3

Saat aku terbangun, Silvi sudah berada diatas tubuhku, merah wajahnya diiringi air mata.


"Jika takdirku seperti ini, aku takkan pernah puas" ucapnya sambil menangis.


aku yang masih mengumpulkan jiwaku, kebingungan sebenarnya apa yang terjadi. tak lama Silvi menciumku, memelukku begitu erat.


"Aku tau ini egois, tapi ayo kita lakukan" ujar Silvi, dia mencoba membuka bajuku.


meluapnya perasaan ini membuatku tak bisa bernafas, ah saat bersamamu rasanya aku menjadi lebih egois.


Ciuman semakin memanas, aku menikmatinya, harum rambutnya dan bau tubuhnya membuatku benar-benar terangsang. aku tak bisa berfikir apapun lagi.


"Silvi, mungkin kali ini aku akan kelewatan"


kancing bajuku sudah terbuka semua, sambil berciuman aku coba masukan tanganku ku bajunya, ku usap-usap perutnya. nafsuku sudah lepas kendali. namun ku lihat air mata diwajahnya.


sambil melepaskan ciuman dan pelukanku, aku bertanya "Sepertinya, aku tak bisa melakukannya, dan apa sebenarnya yang terjadi padamu"


"Sudah tak ada waktu lagi Ura, jika bukan hari ini aku takkan pernah bisa melakukannya bersamamu" Silvi kembali mencium dan memelukku, dia memecut nafsuku, seperti dia memecut kuda liar dengan keras.


"aku tak bisa, bukan karena aku tak cinta, tapi aku tau kamu melakukannya karena terpaksa"


Setelah perkataan ku tersebut, Silvi menamparku.

__ADS_1


bagaimana mungkin aku bisa begitu bernafsu, sedang dia melakukannya dengan air mata.


"apa kamu tidak puas denganku"


"bukan seperti itu, kau tidak melakukannya karena cinta, air dimata mu menunjukannya"


"padahal sebelumnya kau selalu meminta hal-hal yang egois, namun aku tidak membenci sifat mu, kali ini saja aku mohon"


"Aku mencintaimu Silvi, karena itu aku tak bisa melakukan nya"


"cukup, aku sudah muak, aku tak mau Setengah-setengah. kau selalu bertanya kenapa kau mencintaiku, kata-kata yang berat, namun kau katakan dengan ringan, lagian ini sama seperti mau mu, layaknya kata "baiklah" dari mulutmu, kau menganggap remeh semua ini"


"Kau kenapa, jangan tatap aku dengan tatapan yang sayu itu"


"karena jika bukan hari ini, mungkin esok aku akan mati, dan mungkin jika aku masih bertahan hidup, aku mungkin akan melupakanmu"


tangis pecah diwajahnya, Aku mendengar kepingan kesedihan yang jatuh, begitu tajam dan menusuk, lalu terurai oleh air mata.


"Apa yang kau katakan" aku terkaget dengan semuanya.


"Ayo, Ura lakukanlah, hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu, sebagai kenangan sehingga aku bisa mati dengan tenang"


"Aku takkan membiarkan nya, kau harus hidup, untukku" aku tersulut emosi, aku coba menarik nafas dan menenangkan diri.

__ADS_1


"Ceritakan lah semuanya dari awal dengan jelas"


"Ura, sejak kecil aku ini memiliki penyakit, dulu aku hampir menyerah namun kau yang selalu mendukungku kala itu, meski masih anak-anak kaulah yang membuat serangkaian operasi ku berhasil, sampai detik ini aku bisa hidup karena harapan untuk bisa bersamamu"


"lalu bukannya kau sudah sehat, semuanya berhasil kan?"


"iya semuanya berhasil, namun kini kanker menyerang otakku, dan meskipun di operasi kemungkinan untuk selamat juga sangat rendah, dan kalaupun aku selamat, aku akan kehilangan ingatanku, termasuk kenangan ku bersamamu"


aku terdiam lesu, takdir begitu kejam padaku, padahal baru saja aku dibawa terbang namun sudah dihempas kan lagi ke bumi.


"Sakitnya mulai terasa, rambutku sudah mulai rontok, kamu melihatnya sendiri kan?, aku sering bolos untuk melakukan kemoterapi, mangkannya aku tak mau kamu mencari ku, aku tak mau kau bersedih"


"Tapi Silvi, jangan menanggung semuanya sendirian"


Aku peluk Silvi dengan keadaan gemetar, aku merasakan kesakitan, aku takkan siap untuk ditinggalkannya.


"aku juga menyembunyikan nya darimu itu sengaja, aku takut kau di dekatku karena hanya merasa kasihan, namun sepertinya kau benar-benar mencintaiku Ura, terimakasih"


Deburan ombak diluar, terasa begitu keras, menghantam jiwaku yang lemah, aku akan hanyut dan terbawa ketenangan laut, tapi aku bertahan, meskipun luka membalut tubuhku, aku akan tetap bertahan


"Jadi Ura, ayo kita lakukan, sebagai hadiah ku untukmu yang telah mencintaiku sepenuh hati, dan ini juga yang pertama kali untukku, jadi tolong lakukanlah dengan lembut, agar aku bisa mati dengan tenang"


Dia mulai membuka bajunya, memelukku lalu, dia tersenyum sambil menangis

__ADS_1


__ADS_2