
"Maafkan aku, Silvi. Sungguh aku tak bisa melakukannya"
"Jadi kamu tak ingin mengenangku?, kamu egois Ura, merusak perasaanku"
"Bagaimanapun, aku akan menunggumu siap, kita akan menikah kelak, jika bukan di dunia, akan aku tunggu di akhirat, aku berjanji sampai kapanpun, aku takkan mencintai siapapun lagi"
Silvi menangis begitu hebat, pelukannya erat sekali. aku mencoba membetulkan pakaian nya, kemudian aku mengusap air nya.
Bohong, jika aku tidak tergoda, siapa yang bisa menolaknya, wanita yang dicintai mengajakmu bercinta, bahkan sepertinya setan-setan dalam hatiku sudah bergembira, namun air mata mensucikan semuanya.
"karena yang dioperasi adalah otakmu, dan jika kau melupakanku, aku akan datang, kembali menyentuh rasa mu, membuatmu kembali jatuh cinta padaku. aku berjanji"
Kamar itu menjadi saksi, dua air mata berjatuhan, diiringi rasa kepedihan dan penderitaan yang coba kita tahan, seiring menanti keajaiban Tuhan, semoga kisah cinta kita berdua bertahan, dan Tuhan melihat kita sedang saling memperjuangkan.
Tawa yang tadi terlukis indah, lenyap terbawa ombak, kebahagiaan yang terlewati terbang terbawa angin, biarkan perjalanan ini tersimpan dihati. barang kali kelak ada tersisa harapan untuk tetap bersama, semoga kerinduan ini takkan menjadi mimpi dari mimpi.
aku takut merindukan hitam rambutmu, dan aroma badanmu yang menenangkan risau hati ini, hari ini harus aku persiapkan.
__ADS_1
"Kamu jangan menangis Ura, aku tak suka melihatnya"
"Maafkan aku"
"Aku ingin kau memelukku seperti ini, sampai esok, jangan kau lepaskan"
"Iya, akan aku lakukan"
"Besok temani aku, aku akan pergi ke Singapura, untuk operasi, jadi tunggu aku pulang"
"pasti aku akan selalu menunggumu"
aku benar-benar ketakutan.
Esok datang dengan cepat, aku mengantarkan Silvi ke bandara. setiap langkahnya adalah derita, aku tak sanggup lagi menerimanya, namun Silvi terlihat begitu tenang, rambut panjangnya yang indah telah hilang, kini dia berambut pendek.
Silvi memelukku, sesaat dia pergi
__ADS_1
"Ura, jangan bersedih, jangan menangis, aku akan kembali"
"Iya, Silvi aku akan menunggumu"
"Semoga perasaanmu baik-baik saja"
"jangan kau tanyakan bagaimana perasaanku saat aku harus berpisah denganmu, tak ada yang lebih menyakitkan dari perkataan itu sendiri. Sekarang aku sendiri akan mulai memahami arti disiksa kerinduan, mengutuk keadaan, dan nanti ketika tubuhmu dibawa pergi menjauh oleh pesawat itu, aku mungkin hanya bisa merangkum ulang, bagaimana bahagianya aku dipertemukan denganmu, merangkum cerita yang pernah kita jalani bersama, dan akan aku kubur semua perasaan cintaku. hingga aku tak akan lagi mencintai, kecuali aku kembali menemukanmu lagi"
tak lama Silvi memelukku, tak ada lagi air mata diwajahnya, dia pergi dengan tersenyum, dan aku tak tau apakah dia akan kembali.
Setelah kejadian itu aku mengurung diriku di kamar, menikmati sakitnya disiksa pengharapan, mataku mati, jiwaku pergi, kadang aku menertawakan keadaan, mengingat aku yang begitu lemah.
bukankah dia bilang aku ini langit yang biru? namun aku sedang hitam sekarang, gelap karena mentari meninggalkan ku.
Ibu sangat mengkhawatirkan ku, begitu pula Tya dan Arif datang menjengukku.
namun aku pikir semuanya telah berakhir, dan aku tak ingin menemui siapapun.
__ADS_1
aku sangat tersiksa.