
Satu bulan kemudian, atau 6 bulan menjelang pernikahan, semua makin sibuk dengan konsep dan pesta pernikahan, namun aku masih saja menyempatkan diri untuk bertemu Tya, saat bertemu kadang dia sedang tertidur, kadang pula dia terbangun dan menatapku.
Jarang ada kata yang bermunculan, namun saat itu dia berbisik padaku,
"Aku senang mengenalmu, aku juga senang pernah dicintai mu, takdir menuntun mu padanya, dan aku sama sekali tidak pernah menyesal"
"aku juga sangat senang, oleh karena itu segeralah sembuh, aku ingin kita tertawa bersama lagi, mengunjungi taman hiburan lagi, mengantarkan ku membeli buku dan semua hal yang pernah kita lakukan"
Tya tersenyum, aku tau dia memaksakan, karena badannya begitu kaku, namun tangannya membelai wajahku
"Jika ada kehidupan setelah ini, aku pastikan aku yang akan memilikimu, akan aku dapatkan hatimu, akan aku belenggu rasamu, jadi nanti jangan pernah melarikan diri dariku"
"jangan berucap seakan-akan kau akan meninggalkan dunia ini, aku ingin kamu sehat dan berbahagia, lihat Dimas begitu tulus mencintaimu"
"iya, Dimas bernasib sepertiku, dia mencintai seseorang yang mencintai orang lain, tapi kamu harus bahagia Dimas"
Dimas bangkit dari tempat duduknya, lalu mendekat pada Tya
"Aku sangat bahagia, mengenalmu saja aku sudah sangat berbahagia, menemanimu, dan berada di dekatmu"
__ADS_1
"Terimakasih banyak Dimas, kau selalu ada. Nata aku juga ucapkan terimakasih, aku sudah membacanya, novel terbarumu, kisah tentang ku. kini aku mengerti diriku dari sudut pandang mu dan aku bahagia saat aku tau kau menulis tentang diriku"
"aku juga merasa senang, jika kau merasa seperti itu. aku ucapkan terimakasih banyak sudah hadir dalam hidupku, sudah berperan penting dalam perjalananku"
"Kau tak usah berterimakasih, aku lakukan itu bukan untukmu, tapi untukku, karena aku ingin berada didalam hatimu, jadi kau tak perlu berterimakasih seperti itu"
"Aku yang sekarang, bisa mencapai posisi ini, mencapai keadaan ini dan berbahagia salah satunya karena ada peran mu dalam hidupku, terimakasih banyak"
air mata yang aku tahan sekuat mungkin, melawan dan keluar bersama rasa sedih, emosiku keluar dan meledak-ledak, aku juga bingung dengan apa yang aku rasakan sekarang.
ditengah kesedihan ada telepon masuk, dari nomor yang tidak aku kenal, saat ku angkat, terdengar suara dari seorang lelaki.
suaranya terdengar berat, ini sedikit mengagetkan.
"Iya benar, saya calonnya, ada apa ya pak? dan ini dengan siapa? "
sedikit gemetar aku membalas ucapannya, namun ada sedikit perasaan tidak enak dalam hatiku"
"ada kecelakaan lalu lintas, atas nama Silvi Novianti, korban sedang dilarikan ke RS kota"
__ADS_1
mendengar ucapan itu, aku langsung ambruk, lemas dan merasa tidak percaya, badanku lemas dan aku tak bisa bangun.
Dimas membantuku untuk bangun, dia bertanya kepadaku,
"Nata kau kenapa?"
"Silvi dimas, Silvi. Silvi kecelakaan" ujarku menangis
"Katanya dia dilarikan ke rumah sakit ini" aku melanjutkan percakapan
"Tya tunggu sebentar, aku akan melihat kondisi Silvi"
tak lama aku dan dimas berlari ke ruang IGD, kami tak menemukan Silvi, aku langsung menanyakan ke perawat yang sedang bertugas disana
"Sus, orang yang kecelakaan atas nama Silvi ada di ruang mana ya?"
"oh, atas nama Silvi Novianti, sedang dilarikan ke ruang bedah, dia mendapatkan tindakan setelah terjadi kebocoran jantung akibat benda yang menusuk dadanya"
luluh lantah sudah perasaan ku sekarang, begitu berat nasibku, begitu malang takdirku, kekasih yang aku cintai menderita begini.
__ADS_1
Cinta adalah satu kesatuan, saat satu tubuh tersakiti, maka tubuh lain akan ikut merasakan sakitnya, jika salah satu pasangan menderita maka pasangan lain akan ikut menderita. karena hakikat cinta adalah saling merasakan.