Amnesia

Amnesia
Mengekang Cemburu


__ADS_3

Tiga bulan telah berlalu, setelah pertemuan di taman itu. kini ada sesuatu yang berbeda, Tya tak lagi pernah menemui ku, padahal dari ucapannya dia mengatakan untuk menjadi sahabatku.


Kosan ini terasa sedikit sepi, setelah Tya pergi, meski Silvi dan Dimas selalu datang berkunjung, tetap ada sesuatu yang kurang.


"Bagaimana novel mu? udah ada perkembangan?" ujar dimas yang duduk di kursi, sembari mencoba menulis, dia sering datang kemari untuk belajar menulis novel.


"Lumayan, sepertinya sebentar lagi selesai, sudah lama aku tidak membuat karya seperti ini" ujar ku yang sedang menulis semua kejadian yang aku lalui dan aku abadikan.


"Syukurlah, aku senang mendengarnya, sebagai seseorang yang mengagumi karyamu, ini adalah berita yang bagus" ujar nya mendekati ku.


"semua kejadian memberiku ide, hidup adalah pembelajaran, tak selamanya pahit dan manis, hal itu sangat menarik untuk aku tulis"


"Apa kau masih memikirkan Tya?" ujar Dimas sembari menepuk.


aku hanya tersenyum, karena tak aku katakan pun dia pasti akan mengerti.


"Oh, iya Tya apa kabar? dan bagaimana hubunganmu dengannya sekarang?"


mendengar ucapan ku itu membuat Dimas terkejut, dia memilih kembali dan menulis ditempatnya.


"Dia baik-baik saja tanpa mu" ujarnya ketus.


"aku pikir aku ingin bertemu dengannya, sudah lama sekali"

__ADS_1


Dimas menatapku begitu tajam, tatapan mata itu seperti melarang ku mendatanginya.


"Lalu bagaimana dengan Silvi?, apa itu tidak akan menyakitinya?"


"Tentu saja aku akan meminta izin terlebih dahulu darinya, bagaimanapun aku tak ingin menyakiti siapapun" ujar ku. Aku mendekati dimas yang sedang menulis.


"Tenang saja aku tidak akan merebutnya darimu, jaga dia untukku ya" ujar ku sambil tersenyum.


namun Dimas malah menatapku dengan sinis.


"Lebih baik kau segera menemuinya, itu lebih baik untuknya, sebaiknya juga kau ajak Silvi" ujar Dimas, yang beranjak pergi keluar.


"Mau kemana kamu Dim?"


sambil membuka pintu dan berjalan keluar dia berkata


Silvi datang di sore hari, membawakan beberapa makanan untukku, dia selalu menyediakan yang terbaik.


" Ura sayang, gimana apakah sudah selesai menulis nya? jangan terlalu dipaksakan, sesekali kamu harus istirahat" Silvi memelukku dari belakang, sementara aku masih sibuk menulis.


"Iya sayang, terimakasih. ada sesuatu yang ingin aku bicarakan? apakah kau ada waktu?"


aku melepas kan penaku, dan mendekati nya.

__ADS_1


"Tentu saja, ada apa?"


aku menarik tangannya, dan keluar dari kosan, setiap langkah yang aku ambil membuat dia terus bertanya, sebenarnya kita mau kemana dan membicarakan apa.


Sorot matahari yang mulai memerah, menyinari pepohonan yang menari ditiup angin, sedang aku duduk di taman itu.


"Kau membawaku kesini lagi, apa yang ingin kau katakan?"


tangannya yang menggenggam tanganku mulai berkeringat, rambutnya terurai tertiup angin, namun matanya tidak melepaskan ku.


"Sudah lama sekali, aku tidak bertemu Tya, aku ingin menemuinya dan bertanya tentang kabarnya, namun aku ingin meminta izin padamu, karena aku takut jika ini menyakitimu"


Dia melepaskan genggamannya, tersenyum manis padaku.


"Pergilah, datangi dia, karena dirimu yang saat ini ada karena bantuannya. tapi jika boleh aku ingin ikut karena dia juga temanku, bukankah terakhir kali dia katakan kita akan bersahabat"


mati-matian dia menahan amarah dan cemburunya, bibirnya bergetar mengatakan kebohongan dan ketakutannya. sedang matanya melarikan diri dari tatapan mataku. kali ini dia benar-benar sedang cemburu, namun dia berusaha menyangkalnya.


aku yang menyadarinya, langsung memeluk tubuhnya, mencium kening nya. bahkan mentari malu dengan keadaan ini, dia tenggelam lebih cepat dari biasanya.


"Jika kau tak menyukainya, jangan berkata seolah itu baik-baik saja" ujar ku yang sedang memeluknya


"begitu berat sakit yang aku rasakan, namun kepedihan ini tidaklah seberapa dibanding dengan penderitaan nya, bahagianya yang aku rampas, harapannya aku ambil hanya karena aku memilikimu lebih dulu, tapi aku juga tak bisa rela jika harus melepas mu, aku bingung, apa yang harus aku lakukan"

__ADS_1


Silvi mulai meneteskan air mata, dalam hatinya dia tak rela ada yang kesakitan karena nya..


Sore itu aku putus kan, bahwa esok aku akan pergi ke rumah Tya.


__ADS_2