Amnesia

Amnesia
Move On?


__ADS_3

Waktu terus berlalu, begitu pula dengan diriku, terus berkembang dan terus melaju. beberapa orang memutuskan untuk membuang masa lalunya. dan aku memilih hidup terkurung didalamnya.


Duduk di taman dan mengerjakan pembahasan untuk tugas akhir ku. sudah 4 tahun berlalu. namun aku masih ingat betul betapa manjanya dia kepadaku.


banyak orang datang mendekat, namun maafkan aku tak bisa menerimanya. aku jelaskan pada mereka bahwa aku sudah mencintai seseorang.


Tertawa, menangis dan jatuh cinta, waktu yang aku habiskan saat muda sangatlah berharga.


Tak lama datang surat undangan, pernikahan Arif. Tya yang mengantarkannya padaku.


Selama ini Tya selalu ada di sampingku, mensupport semua yang aku lakukan. begitu tulus, aku pikir aku akan mencoba mencintai Tya. semoga saja Silvi merestuinya.


"Nata" ujar Tya tersenyum "Arif, Arif Nikah loh" dia terlihat begitu senang. "Kamu mau datang bersamaku?"


"Aku usahakan ya" jawabku tersenyum


"Ayolah Nata, datang biarkan aku mengenalkan mu sebagai pacarku" ujar Tya


"Sejak kapan aku menjadi pacarmu?" alisku naik.


"Ayolah, siapa lagi perempuan yang dekat denganmu selain aku. lagipula kamu harus mencoba move on"

__ADS_1


"aku hanya takut, takut aku menjalin ikatan dengan seseorang namun hatiku masih untuk Silvi"


"Ayolah Nata, sudah 4 tahun"


Tya yang pemalu kini sudah menjadi lebih friendly, sikapnya yang seperti itu kadang membuatku mengenang Silvi.


"Kamu mau apa bersamaku namun hatiku melayang jauh bersama Silvi?" jawabku menekan


"Tak apa Nata, itu lebih baik. aku mengetahuinya, sejak dulu, aku tak pernah dilihat olehmu. kamu selalu mencintai nya"


"maafkan aku"


"Nata, kamu selalu bersemangat jika membicarakan nya, semua yang kau katakan pasti tentang dia, begitu besar perasaan mu untuknya. aku coba berbesar hati menerimanya"


Tya kemudian memelukku, aku baru sadar, dia memanjangkan rambutnya sekarang"


Hari itu, Tya menembak ku, tak ada jawaban dariku, tapi dia bilang akan membuatku mencintainya. semoga saja seperti itu. tapi aku pikir dia harusnya mencintai seseorang yang mencintainya.


"Kamu harus menjawab nya nanti, di pernikahan Arif kamu harus menjawabnya, aku tunggu ya"


"eh?"

__ADS_1


Dia pergi menuju kelas, sementara itu aku merapikan, laptop dan buku-buku ku.


aku coba mengejarnya, mendatangi Tya, namun sesampainya dikelas, aku melihatnya menangis begitu sedih. ada apa bukankah tadi dia tersenyum


"Tya, ada apa ? kenapa kamu menangis?"


Tya memeluk ku lagi, namun kali ini aku membalas pelukan nya.


"Apa yang kurang dariku, aku pikir setalah Silvi tak ada kau bisa mencintai ku, namun nyatanya tidak. Silvi begitu menjadi sosok yang tak tergantikan untukmu, begitu kuat aku mencoba, berkali-kali aku mencoba, aku hanya merasakan kegagalan dan sakit hati, aku tau perasaan memang tak bisa dipaksakan. tapi tak adakah sedikit peluang untukku?"


"maaf Tya, aku bukan maksud menyakitimu, tapi aku ingin seseorang yang benar-benar mencintaimu lah yang bersamamu"


"tapi yang aku inginkan itu dirimu Nata, aku tak bisa mencintai orang lain lagi"


"Begitu pula aku Tya, hatiku hanya untuk Silvi"


"Tak apa, tolonglah bersamaku, semoga dengan berjalannya waktu, kamu bisa belajar mencintai ku"


air matanya tumpah membasahi pundak ku, begitu pula perasaannya menembus hatiku.


"Setelah pernikahan Arif aku akan menjawabnya oke? berikan aku waktu"

__ADS_1


__ADS_2