
Situasi yang benar-benar sangat panas, urat leher dari nya meneriakkan kemarahan, air matanya menunjukan keputusan, aku mengerti dia takut kehilangan, begitu pula diriku.
Saat cinta terakhir mulai aku nikmati, cinta pertama datang menggetarkan hati.
"aku berjanji padamu, takkan pernah meninggalkan mu, percayalah padaku"
"apa yang bisa membuat aku percaya?"
"Aku tau dia Silvi, dan dia memberiku nomor telepon nya, aku sama sekali tidak menghubunginya karena aku belum meminta izin padamu"
"ya"
"apa perlu bulan ini kita tunangan terlebih dahulu, biar kau merasa tenang?"
"tidak usah, Nata. Aku juga belum siap dengan hal semacam itu"
"Percayalah padaku"
Keheningan kembali tercipta, dalam diam waktu berputar begitu cepat, tak ada kata tapi berjuta makna aku mengerti.
aku mencoba merubah suasana hening ini
"Oh iya, bukannya besok ulang tahunmu Tya? apa yang kau sukai? apa yang kau inginkan?" jawabku dengan penuh ceria
"Yang aku inginkan hanyalah dirimu, jangan pernah pergi"
tanpa aku tanya, sebenarnya aku sudah mengetahui jawaban yang akan aku dapat.
"Ya sudah, besok siang aku akan datang ke rumahmu, kita rayakan ulang tahunmu oke"
"tapi di rumah ku tidak ada siapapun"
"tapi justru itu lebih baik kan"
"ah Nata, jangan melakukan hal nakal padaku" Tya mencoba menggodaku.
"Haha, tentu saja tidak, tenang saja aku masih waras kok" jawabku mengejek.
__ADS_1
Sore menjelang malam, ditemani lembayung dan angin malam aku pergi mencari hadiah untuk Tya. apa yang Tya inginkan ya.
setelah berjalan mengelilingi pertokoan, aku memutuskan membeli jam tangan couple, sepertinya dia akan menyukainya.
"Nata" ujar seorang perempuan yang tidak asing bagiku.
"eh, Silvi. Sedang apa kau disini?"
"Aku pikir aku bisa kembali mengembalikan ingatanku, jika berbicara denganmu, apa kamu ada waktu? dan ini juga dianjurkan oleh keluargaku"
bimbang, aku takut terhanyut kembali dengan kenangan yang pernah dilewati.
"Apa kamu membaca novel yang aku tulis?"
"Ya, tentu saja, setiap bagiannya. aku merasa mengalami itu semua" wajah Silvi memerah
"Itu memang cerita tentang dirimu, wanita yang aku tuliskan di sana itu memang dirimu" jawabku tersenyum padanya.
"aku sedikit bisa mengingatnya, tapi masih sangat sulit"
tak lama keluarga Silvi datang, ayah dan ibunya meminta ku datang ke rumahnya, mereka ingin meminta bantuan ku, agar ingatan Silvi kembali.
"Nak, bukankah kau masih sangat mencintai anakku?" ujar ayahnya Silvi
"Tentu saja pak, dia yang mewarnai hidupku, dialah yang menemukanmu"
"kalau begitu tolonglah kami, selamatkan ingatan Silvi, dia begitu tersiksa"
"akan saya usahakan pak"
aku tidak bisa tidur malam ini, suara hati dan pikiranku begitu berisik. bagaimana mengatakan hal ini pada Tya, dia pasti akan sangat cemburu.
Tapi jika tidak aku katakan, dan aku menolak keinginan keluarga nya, aku merasa begitu sombong. Padahal dulu Silvi lah yang menolongku, hingga aku bisa seperti ini sekarang.
apa yang harus aku lakukan?
aku bingung juga merasa tidak puas.
__ADS_1
Entah lah, nanti akan aku coba tanyakan pada Tya.
Sementara itu esoknya disiang hari di rumah Tya, aku datang ke sana sesuai janjiku
"Selamat Ulang Tahun Tya yang ke 23 Tahun, Tahun ini juga kamu resmi jadi dokter".
" Terimakasih Nata"
Tya memelukku, pelukan yang begitu memaksaku untuk tinggal disisinya
"Ini hadian untukmu, aku memberimu jam tangan, agar kau selalu ingat waktu dan juga ingat aku"
"Terimakasih banyak Nata"
"Aku juga memakainya loh, jadi ini jam tangan couple, sebagai tanda aku milikmu dan kamu milikku, agar kita selalu saling ingat"
"Wah, bagus sekali, aku sangat menyukai nya. Aku pasti akan menjaganya dengan sangat baik"
Dia tampak tersenyum, namun ketakutannya begitu besar, aku mengerti dia benar-benar berusaha bahagia di depanku.
"Sini peluk"
Pelukan Tya sore itu membuatku benar-benar bingung bagaimana aku akan mengatakan kebenarannya
"Tapi Nata, mulai besok aku harus keluar kota. aku tugas di Sumatra mulai besok, maaf aku tidak memberitahukan mu sebelumnya"
Dia berusaha tersenyum dan tegar, ditengah ketakutan yang dia rasakan, sementara aku benar-benar kebingungan dan mulai kehilangan arah, aku menahan semua ketakutan dan membiarkannya tanpa membuatnya khawatir
"Jika itu bisa membuatmu berkembang, aku pasti akan mendukungmu, aku juga akan terus berusaha dan menjadi penulis sekaligus farmasi yang hebat"
"Tapi aku pasti akan merindukanmu"
Ada kekecewaan dalam raut wajahnya, ada kepedihan di hatinya, namun dia memilih tidak menyampaikannya.
"Kita kan nanti bisa Video Call, sekarang semuanya sudah mudah"
"Jaga hati mu untukku ya"
__ADS_1