
Hari Terakhir di Yogyakarta, hal yang tidak boleh dilewatkan ketika berwisata adalah mengunjungi pantai, pantai yang kita tuju tentu saja pantai yang legendaris di Yogyakarta yaitu Pantai Parangtritis.
Angin pantai yang berhembus kencang, bau laut yang khas, mata yang memandang laut, ombak yang saling berlomba mendekati pantai, dan matahari sore yang menghangatkan.
Mereka berdua berlarian sangat bahagia, kadang mereka terlihat sangat akrab, andai saja mereka tidak mencintai orang yang sama.
sementara aku ditarik, dibawa keduanya yang terhanyut dalam tawa. air laut yang membasahi tubuh dan pasir pantai yang ikut menempel. Tya tersenyum padaku, hingga terlihat kerutan diujung matanya, begitu lepas. sementara Silvi tertawa melihatku basah kuyup.
"Sudah, istirahat dulu aku cape" ujarku yang merasa sedikit kelelahan.
"yah segitu saja udah cape, ayo main lagi" Ujar Tya sembari menarik tanganku untuk bangun.
"Kalau begitu kita kubur saja Ura dengan pasir, dia bisa istirahat dan kita bisa main" ujar Silvi
"Ide bagus" Ujarku
Mereka terlihat sangat bersemangat sekali, sembari tertawa sesekali, mengubur badanku dengan pasir, beberapa kali aku dijahili mereka, namun aku senang dengan suasana seperti ini dan rasanya nyaman.
"Aku akan membeli minuman dulu, kalian tunggu saja disini" Ujar Silvi.
belum semenit Silvi berjalan, wajah Tya mendadak berubah, air mata membasahi pipinya
"Aku sudah tidak kuat lagi, rasanya aku sangat ingin menangis, namun aku takut Silvi mengetahuinya"
"Kenapa? jika itu membuat perasaan mu lebih baik, menangislah, tidak apa-apa"
"Aku tau, sebenarnya sudah tak ada kesempatan sedikitpun untukku kan?"
__ADS_1
"Hati manusia adalah sesuatu yang cepat berubah, tapi setidaknya pikirkan apapun yang akan kau pilih, dan jangan sampai menyesal atau tersakiti lagi"
"ada yang menahan ku, menahan nafasku dan ini tak dapat lagi terurai, meski oleh kebenaran"
"Lepaskan saja, ini lebih baik, bicarakan semuanya semoga aku mengerti"
Silvi kemudian datang, dia kaget melihat Tya menangis, dan tak sadar botol minuman yang dia pegang jatuh. dia bergegas memeluk Tya.
"Ada apa, kamu kenapa?"
Dia menyusut air mata dengan tangannya, namun kali ini kesedihan sedang tidak ingin berkompromi, rasa sakit yang dia bendung kini hancur, tak ada yang bisa dia sembunyikan lagi.
"aku patah dan rusak di tengah dunia ini, namun kau hanya tertawa seperti orang buta"
Ucapan Tya sedikit menyakitkan untukku dan Silvi, bahkan air mata Silvi pun mulai berjatuhan. Tak ingin membuat suasana bertambah buruk, aku pergi dari sana, namun baru saja akun terbangun, Tya menahan ku.
aku yang dipegang erat oleh Tya, berbalik. menatap matanya yang begitu berat dan basah berlinang air mata.
aku tak mengucapkan sepatah katapun, bukan tak mau, tapi tak ada kalimat yang bisa membuat agar semuanya menjadi baik-baik saja.
namun tiba-tiba Tya menjadi histeris dan berteriak, dia menamparku dan berkata dengan lantang
"hancur dan dihancurkan, aku terguncang di dunia yang fana ini, aku akan menghilang secara perlahan, jangan mencari ku atau menangisi ku, karena aku tak dapat tinggal didalam hatimu, jadi jangan sakiti aku lebih dari ini, seperti memberi imajinasi tentang kemungkinan bersama"
Sementara itu Silvi memeluk Tya dan mencoba meredakan amarahnya, Silvi terlihat begitu sedih dan hancur.
"Tolong katakan padaku, tentang semua ini. Tentang kau yang selalu tinggal didalam hatiku, sedang hatimu bertahta dirinya"
__ADS_1
Dia mengatakan ini untukku dan menunjuk Silvi sebagai wanita yang bertahta.
"Aku tak ingin kehilangan Cintaku, aku juga tak ingin kehilangan sahabatku" ujar Silvi.
terbawa arus emosi, Silvi ikut menangis, wajahnya memerah, tangannya menutupi matanya, namun air mata mengalir begitu deras.
Lalu aku menarik mereka berdua, berjalan ke arah lautan, semakin lama semakin dalam. Tiba-tiba Tya menahan ku.
"Apa yang kau lakukan?" ujarku
"Seharusnya aku yang mengatakan itu, apa yang kau rencanakan?" Tya membentak
"Kalian berdua menginginkan ku kan? menginginkan aku dan kebersamaan ini? sedangkan aku tidak bisa membuat kalian berdua bahagia secara bersamaan. Satu-satunya hal yang bisa ku lakukan sekarang adalah mati bersama"
"Kau bodoh Nata, hentikan" Ujar Tya berteriak
"Biarkan kita menikmati kepedihan ini bersama" ujar ku
aku berjalan terus, semakin dalam, sementara mereka berdua menangis. Silvi memelukku begitu erat, sementara Tya menahan ku sekuat tenaga, mereka ingin aku menghentikan nya.
"Ura berhenti, tolong berhentilah" Suara Tangisan Silvi pecah
aku kemudian berbalik, "aku pikir hari ini adalah saat yang menyedihkan untuk mati, jadi kalian jangan terus menangis" aku tersenyum sinis, tatapan tajam yang akan memotong siapapun yang melihatnya.
aku tertawa polos, menyebarkan kesedihan membungkus diri dalam kesepian, aku tidak bisa bergerak, menangis atau bersedih.
Biarkan saja waktu yang akan menjawab takdir dan rahasia, siapa yang akan bersama
__ADS_1