
Minggu ketiga, aku semakin kurus, tak lagi ada tulang-tulang pada wajah sudah semakin terlihat, untuk berdiri saja, aku perlu dibantu ibuku. Selang infus kini sudah terpasang ditanganku, aku lemas, lemah dan hanya sedang ingin mati.
Begitu besar penderitaan ku, bahkan kematian akan aku sambut, aku tak ingin lagi ada di dunia yang menyedihkan dan menyakitkan ini. setiap langkah hanya menusuk dan menyakitkan, mungkin ini saatnya, dan telah tiba masa ku.
Suara-suara setan berbisik, mengajak ku untuk pergi dan mati, akankah lebih menyenangkan jika aku tidak ada di dunia ini, akanlah tidak ada sakit jika aku telah pergi, atau mungkin ini adalah penebusan dosa, atas kehinaan yang aku lalui.
Namun lantunan ayat-ayat Tuhan yang ibu bacakan disamping ku, mengingatkanku bahawa setiap kejadian memiliki hikmah, setiap kejadian memiliki makna.
__ADS_1
Aku tak tega jika aku harus meninggalkan ibu ku sendirian, melihatnya menangis dan bersedih membuatku sangat terluka, aku sudah sering menyakitinya. aku juga ingin membahagiakan ibuku, saat itu aku mulai mencoba bangkit.
Hari ke 23 aku mulai sehat kembali, mulai bisa beraktivitas kembali, daging dalam tubuhku mulai tumbuh kembali, dan lepas sudah selang infus yang menempel ditanganku. Pada hari itu pula aku telah berjanji untuk lebih bersyukur atas semua nikmat yang Tuhan berikan, aku telah melalui fase hidup yang sangat buruk dan sangat hina, telah ditempa diriku dengan kesedihan, kemalangan nasib, penderitaan dan kehilangan berkali-kali, hingga aku menjadi lebih kuat dan lebih dekat dengan Tuhan.
Hari ke 24 aku mulai datang kembali ke rumah sakit, aku dengar Tya sudah dipindahkan ke rumah sakit luar negri. hingga aku hanya terdiam di depan ruangan Silvi dirawat, ingin sekali aku menyentuhnya. Dari luar ruangan itu terlihat tubuhnya yang semakin kurus, hingga hanya tulang belulang saja yang terlihat, kecantikan dan keelokan tubuhnya sirna, tapi aku masih sangat mencintainya, dia tumbuh dalam jiwaku.
Hari ke 25, kondisinya semakin kritis, beberapa kali dokter masuk dan memberinya tindakan, aku sudah pasrah dengan keadaan ini, masih belum ada yang mau mendonorkan jantungnya untuk Silvi. Bagiku sekarang apapun yang terjadi, akan kah dia hidup atau pun mati, aku akan selalu mencintainya, karena cinta akan tumbuh, meski jasad sudah melekat dengan tanah.
__ADS_1
hari ke 27, Dalam kondisi yang sangat kritis terdengar berita bahagia, ada seorang yang mendonorkan jantungnya untuk silvi, tepat disaat yang sangat menentukan, akhirnya Silvi mendapatkan jantungnya. Hari itu juga dokter berencana mentransplantasikan jantung itu ke Silvi. Dengan segera aku hubungi kedua orang tuanya. Mereka datang dengan cepat, tak lama ibuku pun datang.
Operasi berlangsung, didepan ruang operasi kami berkumpul dan berdoa, berjuta harapan aku sampaikan lewat doa, semoga berhasil dan semuanya akan baik-baik saja.
Sudah 5 jam operasi berlangsung, dokter belum juga keluar dari ruangan, kami mulai gelisah, berharap dengan besar dan berharap dengan cemas.
Ibu nya Silvi sudah beberapa kali menangis dan pingsan, ayahnya mencoba kuat dan memenangkan ibu Silvi.
__ADS_1
hingga di jam ke 6, dokter keluar. dia membuka maskernya dan menghampiri.
"operasi atas nama Silvi, Berhasil"