
Berjalan di Malioboro dan hanya berduaan, Tya benar-benar memutuskan untuk tidak ikut bersama kami, entah apa yang sedang dia pikirkan.
Berjalan berpegangan tangan, sembari menyusuri trotoar yang penuh dengan pejalan kaki, pedagang dan seniman. Musik angklung yang terus terdengar dan menemani, diterangi oleh lampu-lampu taman, malam yang sibuk dan malam yang terang.
"aku senang sekali datang kesini" senyuman terlempar dari wajahnya, merah pipinya menambah manis dirinya kala itu.
"aku juga sama, berjalan dengan mu setelah sekian lama berpisah rasanya sedikit menyenangkan"
lampu kota yang menerangi kami, seakan membisikan kalimat-kalimat cinta.
setelah berjalan beberapa saat, aku dan Silvi memutuskan untuk duduk istirahat di kursi yang tersedia sepanjang jalan.
"Kau tau, dulu kau selalu tersenyum dan bahagia berjalan dimana pun, itu yang membuatku menyukaimu, watak mu yang periang adalah hal yang membuatku jatuh cinta"
Malioboro sedang mengeluarkan magisnya, sihir-sihir cinta dengan rasa yang malu-malu.
dia tak berani menatapku, sesekali memalingkan muka, tangannya yang ku genggam sedikit berkeringat.
"aku ingin beli dulu makanan, tunggu disini ya" ucap Silvi, dia melepaskan genggamannya, baru kali ini aku melihat nya malu-malu seperti itu.
__ADS_1
"aku melihat orang-orang banyak mengantri demi ini, barusan terlihat tidak ada antrian, jadi aku membelinya" Ujar Silvi sembari membawa lumpia goreng.
"baunya enak sekali, sepertinya enak".
" Ini enak sekali, pantas saja banyak yang mengantri " ujar Silvi memakan lumpia goreng yang masih panas itu.
"iya, ini enak sekali".
malam ini aku ingin berbohong pada diriku sendiri, berbohong bahwa rasa yang aku simpan ini sudah hilang, namun aku ternyata masih sangat mencintainya. ingatannya memang telah hilang, namun dia tetaplah orang yang sama. orang yang aku rindukan, dengan senyum dan kehangatan yang sama.
ditengah tawa, aku menggenggam kembali tangannya, aku sudah tak bisa menyembunyikan nya lagi. hari ini akan aku ulang, semua rasa yang pernah aku lalui.
"aku ingin menyampaikan sesuatu padamu, sesuatu yang berasal dari hati, sehingga mulut hanya akan menjadi alat untuk mengatakannya, dan telinga hanya alat untuk menggetarkannya, karena ini rasa, yang berkomunikasi bukan lagi tubuh tetapi jiwa. jika kau mau mendengarkannya, akan aku lepas kata-kata yang sudah lama terbungkam, sudikah kau mendengarnya?"
Silvi hanya mengangguk dia tersipu malu, wajahnya memerah, tangan yang ku pegang mulai terasa panas
"malam ini, aku ingin menyampaikan rasa, rasa yang sama saat dulu kita pertama kali bertemu, rasa yang berasal dari hati timbul ke permukaan, rasa yang memiliki jiwa dan menyatakan diri sebagai cinta. aku pikir aku bisa melupakan mu dengan membelenggu kerinduan ku. semakin besar aku menahannya, semakin banyak luka yang aku dapatkan, kali ini kita dipertemukan kembali, sebagai dua insan yang pernah saling mencintai, lalu romansa membawa kita ke kota ini. kota yang paling romantis penuh cinta, aku ingin menuliskan cerita, bahwa kota ini memiliki cinta setiap sudutnya. jika hatimu masih suci untukku, sudilah kau kembali padaku"
Air mata jatuh dari mata nya, tapi dia tersenyum mendengar semua perkataan ku.
__ADS_1
"Cinta yang kau berikan, telah membawa tawa, membuatku penuh semangat, menguatkan diri, menghidupkan pengharapan"
tangannya bergetar memegang tanganku.
"aku pernah menangis, putus asa dan kehilangan harapan setelah ditinggalkan, ini terjadi bukan terjadi karena kelemahan diri atau karena orang lain, tapi karena kau. kau yang memberikanku alasan untuk hidup, maka kau akan jadi alasan aku mati. jika saja kau putuskan pengharapan ku, kau akan melihat dirimu sendiri yang membunuhku"
genggaman tangannya begitu erat, lampu taman pun begitu romantis kali ini.
"Aku telah kehilangan banyak hal, termasuk ingatanku, tapi aku bersyukur tidak kehilangan rasa ku, rasa ini telah hadir sejak aku bertemu denganmu, dia datang bertamu kemudian memaksa menjadi pemilik rindu"
di jalan Malioboro, menjadi saksi, dua insan saling mencari, saling mencintai dan saling mengharapkan.
"Telah lepas sesak dalam nafas, lepas juga belenggu dalam rindu, cinta telah memiliki hal yang seharusnya, dan aku mendapatkan yang sepantasnya"
berjalan hingga titik 0 Km, titik permulaan, titik pertemuan. semuanya akan kembali ke awal dan titik 0Km adalah buktinya.
dalam keadaan mabuk asmara kami berpelukan, biarlah keraguan ini lepas, biar pula di keramaian, tempat ini adalah bukti cinta yang kembali dipertemukan.
dalam rindu dan kehangatan,terlihat perasaan yang hancur, mengintip di balik taman, tak berani mendekat, menangis sendirian.
__ADS_1
Tya melihat aku dan Silvi saling mengutarakan perasaan, dan berpelukan