Amnesia

Amnesia
Rumah Sakit


__ADS_3

Setelah mendengarkan semuanya, aku bergegas pergi ke rumah sakit. bersama Silvi aku menjenguk Tya.


Dia hanya berbaring, lemas, nafasnya terdengar begitu berat, sementara hanya Dimas yang ada menunggu disisinya.


Angin berhembus begitu kencang dari jendela ruangan ini, seakan Tya datang dan menyambut ku dan mengetahui kedatanganku


Aku hanya meneteskan air mata, entah kenapa jiwa ini terasa begitu berduka, merasa lemah dan hancur seketika.


aku berjalan mendekati tubuhnya dan menggenggam tangannya, dia begitu dingin, begitu lemas.


"Tya, bangunlah, aku disini, aku disini Tya, bangunlah"


sementara Silvi memelukku dari belakang, dan Dimas hanya berusaha memalingkan wajahnya.


"Tya, bangunlah, ada sesuatu yang ingin aku katakan, aku ingin kau mendengar nya. Tya bangunlah, aku tak bisa mendengar suara mu jika kau terus tertidur seperti ini"


"Ura sudah, biarkan dia beristirahat, dia hanya sedang tertidur" ujar Silvi menenangkan ku.


lalu Dimas mendekat dan memelukku.


"Tenanglah, dia pasti senang kau datang kemari, jadi jangan membuat keadaan menjadi sedih" ujar Dimas

__ADS_1


aku coba usahakan untuk menenangkan diri, dalam pelukan Silvi aku menangis begitu berat, kenapa rasanya sesakit dan sehancur ini.


Selang infus yang menempel pada tangannya, dengan tetesan cairan yang masuk melalui selang itu, menandakan dia sedang tidak baik-baik saja, aku menyesali semua keadaan ini, mengapa aku tidak mengetahui nya, padahal aku sangat dekat dengannya.


lalu bersama tubuhnya yang terbaring, datang beribu penyesalan, berbaris rapi menghujam jantung, aku tidak bisa menahannya. dan dengan tubuh nya yang lemas, datang pula berjuta kekhawatiran, datang menyiksa dan begitu kejam.


Aku menghabiskan waktuku hanya untuk menangis disana, sesaat sebelum pulang, aku menitip kan surat undangan ku pada Dimas, aku berharap ketika Tya terbangun segera dia membacanya.


namun Dimas juga menolak.


"Aku tak bisa memberikannya itu, aku takut ini malah menambah luka, dan aku tak bisa melakukannya, jika kau mau, berikan saja padanya langsung, dan nanti jika Tya tersadar, aku akan menghubungi mu"


"Baiklah, segera hubungi aku jika dia tersadar"


sesampainya dirumah, aku hanya bisa menangis, dipelukan Silvi, dia mengusap punggungku, dan tersenyum.


"Sudah, jangan menangisi keadaan, bukankah yang terjadi adalah sebuah takdir? ada kejadian yang bisa diusahakan, ada pula yang hanya harus kau terima"


"aku hanya bersedih, kenapa dia diberikan kesedihan dan kesakitan, padahal dia adalah wanita yang baik, wanita yang penuh dengan ketulusan"


"Tuhan berkehendak lain, dijadikan tubuh dan hatinya sakit, adalah untuk melihatkan padanya bahwa orang-orang mencintainya"

__ADS_1


Lima hari kemudian, aku diberitahu Dimas, bahwa Tya siuman, dengan kaki yang gemetaran aku datang menemuinya, Silvi mengikuti ku dan mengantarkan ku ke sana.


sesampainya di ruangan Tya dirawat, Tya tersenyum kearah ku, aku tau dia sangat lemas dan lemah, dia melambaikan tangannya, hingga aku duduk di samping nya.


"Aku senang masih bisa melihatmu, terimakasih sudah selalu datang di mimpiku"


aku hanya terdiam, menahan tangis dan menggenggam tangan Tya. sementara Silvi berada di sampingku dan menenangkan ku.


"Aku dengar ada yang ingin kalian sampaikan?. Silvi kau begitu cantik sekali, jika ada kehidupan selanjutnya aku ingin menjadi sepertimu"


"Tya, maafkan aku, mungkin ini bukan waktu yang cocok, tapi aku ingin ku menjadi orang yang pertama tau, Tahun depan aku akan menikah, dan ini aku membawa surat undangannya untukmu" ujar ku yang begitu merasa berat mengatakan hal tersebut, dengan gemetaran aku memberikan surat undangan itu.


Dengan senyuman yang manja, dia menoleh padaku. tak ada raut wajah sedih sedikitpun.


"Aku senang mendengarkan nya, dua orang yang aku cintai akan bersama, semoga aku lekas sembuh, aku ingin berdandan cantik datang ke pesta pernikahan kalian, semoga lancar hingga hari H ya kalian berdua"


"Kau harus sembuh dan kau harus berbahagia" ujar Silvi


"Tentu saja, aku sangat berbahagia, kali ini pun dengan kedatangan kalian aku sudah sangat berbahagia, tapi aku juga bersedih, waktuku sepertinya takkan lama, aku juga sudah mengetahui apa penyakit yang ku derita, sekali lagi saja aku kehilangan kesadaran ku, mungkin aku tak bisa sadar kembali, meningitis memang sangat berbahaya"


"Kamu harus sehat, dan sembuh" ujar ku

__ADS_1


dia hanya tersenyum, kemudian dia berkata


"Aku pasti datang ke pernikahan kalian"


__ADS_2