
Kamar itu menjadi sedikit gelap, namun hembusan angin begitu kuat masuk dari jendela-jendela kamar yang besar.
" Dirimu ?" ujar Silvi sambil memegang tanganku. dengan bergegas dia mengambil novel yang aku tulis di lemari disampingnya.
"Rupanya ruangan disini sudah banyak berubah" ujar ku menatap sekeliling.
"apa yang kamu maksud" Ujar Silvi yang menemukan novel yang aku tulis
"Dulu, disini, banyak sekali fotoku, dan kau bilang menyukainya"
Silvi menunjukan novel itu padaku, sambil memainkan rambutnya dia berkata
"Ini, cerita tentang kita kan?"
aku mengambilnya. sementara silvi menatap ku.
"Buku ini, kamulah yang memintaku menulisnya"
angin kembali berhembus, kali ini angin menghiburku yang menahan tangis.
"aku?"
"sebenarnya setelah operasi apa yang terjadi?"
Silvi kemudian kaget, wajahnya menganga.
"Bahkan kamu tau aku telah dioperasi?"
aku hanya tersenyum, kemudian memeluknya
"Seharusnya kamu bertemu denganku lebih cepat, aku sedikit menyesal tidak segera menemukanmu"
"eh, kenapa aku menangis, kenapa rasanya kehangatan ini tidak asing bagitu, kenapa pelukan ini begitu aku rindukan"
__ADS_1
tak terasa air mata turun berjatuhan, untung saja langit baik padaku, mereka juga ikut menangis.
"Ura, begitu kau memanggilku dulu"
"Ura?, nama siapa itu?"
"Namaku, nama kecilku yang kamu berikan"
"aku tak bisa mengingatnya, setelah operasi aku dinyatakan amnesia, dan kehilangan semua ingatanku, maaf" Silvi terlihat sangat sedih.
"Tidak apa-apa, itu bukan salahmu" mencoba tersenyum di depan nya.
keheningan kemudian tercipta, aku dan Silvi sama-sama berdiri dalam kehampaan.
"Apa kamu menyesal mengenalku ?"
"aku tidak berpikir, semuanya akan lebih baik jika kita tidak bertemu, tidak sedikitpun"
"terimakasih banyak, meski aku lupa tentang dirimu, aku rasa kamu orang yang baik"
"baru satu bab, dan aku sudah sangat merasa kesakitan"
"kenapa"
"emosi yang kau tuang, begitu dalam menusuk, aku bisa merasakan penderitaan dan depresi. termasuk jeritan hatimu saat menulisnya"
dia membuka novelnya
"aku sedikit mengerti, bagaimana perjalanan hidupmu, aku akan membacanya perlahan"
"tentu saja, kau harus membacanya, itu kisah mu. dari sudut pandang ku"
"jadi apakah esok kau akan kesini dan menemui ku?"
__ADS_1
aku mengangguk, dan tersenyum
sial, rasa yang sudah ku bunuh, kini terpaksa hidup kembali. bahkan serpihannya menusuk kakiku.
Ditemani senja, aku kembali ke kosanku.
ruangan yang selalu acak-acakan, di penuhi buku, jurnal. meja belajar yang selalu aku gunakan untuk menulis ternyata sudah tua, suara berisik dari lemari yang dibuka.
tempat ini begitu berantakan, namun sayang sekali, hidupku jauh lebih berantakan dari pada ini.
aku kemudian, menaiki kasurku, aroma tubuh tia masih menempel, dia sering tertidur disini.
ah rasanya aku juga merindukan Tya. aku harus meneleponnya
baru saja aku memikirkan hal itu, telepon genggam ku bergetar, ku lihat ternyata panggilan dari Tya.
"Hallo Nata"
"Hallo Tya, kamu merindukanku ya?"
"haha, tentu saja, bahkan aku selalu menceritakan kerinduanku ini pada angin malam. apakah salam ku sampai padamu?"
"Aku pikir tidak, angin malam sepertinya cemburu kau membicarakan ku padanya"
"kalau seperti itu aku tak mau lagi bercerita pada angin"
kemudian kami berdua tertawa bersama
dengan sedikit gugup aku memberi tau Tya, bahwa tadi aku berkunjung ke rumahnya Silvi
"Tya, aku ingin mengatakan sesuatu, tapi aku takut membuatmu marah"
"katakan saja, aku tidak tau harus marah atau tidak jika kau tak mengatakannya"
__ADS_1
"aku tadi pergi ke kediaman Silvi dan bertemu dengannya, aku sekarang mengetahui Silvi ternyata amnesia"