
Sorot matanya yang lemah menatap ku, dia berusaha melihat wajahku, tak lama dia tersenyum dan mencoba bangun, dengan tubuh nya yang kurus itu dia memegang tanganku.
"Akhirnya kau datang juga kekasihku. maafkan aku sedang tidak rapi hari ini, tunggu sebentar, akan aku rapikan rambut ku ini dan baju ini akan aku ganti, aku tak sabar mengajakmu kencan setelah sekian lama , telah lama aku menunggumu disini kekasihku"
dengan tubuhnya yang lemah dia berusaha bangkit dari tempat pesakitan nya, matanya yang begitu layu, dia mengucapkan semua itu sembari bergetar, namun tetap saja dia tak mampu bangkit dari sana, dia jatuh lagi dan lagi.
sedangkan aku, hanya bisa menangis melihat keadaannya, air mata terus saja berjatuhan, menatap dia yang sungguh sedang sangat lemah.
"Kenapa kau menangis kekasihku, padahal kau datang kesini menemui ku, apa aku kurang cantik hari ini?, ataukah kau terharu melihat ku yang sudah lama tidak kau temui"
tangannya yang lemah itu mengusap air mataku dengan lembut, tubuhnya belum berhenti bergetar, dia tersenyum begitu manis padaku, namun dia mulai berhenti bangkit.
penderitaan yang aku berikan padanya membuatnya menolak keadaan dan menyangkal logika, secara tidak langsung akulah yang membuatnya seperti ini, dia begitu menderita hingga berhalusinasi.
__ADS_1
"Ada apa ini, ayah dan ibu juga ada disini, apa mungkin hari ini aku akan menikah dengan Nata? ayo lakukan saja hari ini, aku memang tidak bisa bangkit, tapi untuk ijab bukankah cuma perlu ayah dan dirimu saja Nata, aku juga tak peduli dengan mas kawin yang kau berikan nanti, aku hanya ingin segera bersamamu selamanya"
ucapannya membuatku menangis dan terjatuh, aku tak bisa bangkit lagi, sedang kedua orang tuanya memeluk Tya begitu erat.
"eh kenapa juga kalian menangis, jangan menangis dihari berbahagia ini, lihatlah ayah, ibu. anakmu ini calon pengantin Nata dan sedang sangat cantik"
mendengar ucapannya, aku langsung menggenggam tangan nya. menatap nya dan memeluknya.
"Maafkan aku Tya, maafkan aku" tak lagi ada kata yang bisa keluar dari mulutku selain kata maaf. air mata terus saja berjatuhan, tak ada hentinya.
Di dalam suasana sedih ini, Silvi dan Dimas datang, kemudian Tya melepaskan pelukanku. sorot matanya kemudian menjadi amarah.
"Ternyata, kau datang kesini bukan untuk membahagiakan ku, tapi kau sedang ingin menertawakan ku" sorot matanya begitu tajam, memotong emosi yang tumbuh.
__ADS_1
"Pergi saja kau dengan wanita mu ini, yang membuatmu meninggalkanku, pergi, pergi kamu Nata, aku tak ingin melihatmu lagi"
amarahnya keluar begitu berat, amarah yang sudah lama dia sembunyikan itu sedang menampakan diri hari ini.
Silvi yang mendengar bentakannya malah datang mendekat, dan memeluk Tya, dipukul lah badan nya itu oleh Tya, namun dia menahannya, dia mengerti, dia hanya merasakan kesakitan di fisiknya. sedang Tya dalam batinnya.
"Apakah kau ingat, saat aku kehilangan segalanya? kau menuntunku, bahkan kekasihmu yang kau cintai, telah kau rela kan untukku agar aku kembali mengingat semuanya, namun aku membalasnya dengan kejam, maafkan aku, aku sungguh pantas untuk kau pukul bahkan kau bunuh"
mendengar ucapan Silvi itu membuat Tya sedikit tenang, Silvi yang memeluk Tya dengan erat itu mencium pipi Tya dan membisikan sesuatu padanya.
suatu bisikan yang membuat Tya bisa bangkit berdiri dan mendekati ku, menamparku, memelukku dan mencium ku. bibirku yang berdarah bekas pukulan Dimas, dia hisap begitu kencang.
Dia kemudian menatapku, dan menamparku lagi dengan sangat keras, lalu dengan senyuman dia berkata.
__ADS_1
"aku sangat membencimu, tapi di dunia ini kaulah manusia yang paling aku cintai"