Amnesia

Amnesia
Penderitaan adalah Candu


__ADS_3

Esok harinya, aku duduk di taman RS, ditemani rasa penasaran, aku perhatikan, daun mulai jatuh berguguran, suasana yang terasa menyedihkan. tak lama dokter itu pun terlihat.


"Dok, maaf menganggu waktunya, bisa bicara sebentar"


"Maaf aku sedang sibuk"


"Ini tentang Silvi!"


"Oh, ini lelaki yang Silvi ceritakan, terlihat sangat lemah, aku heran dia bisa menyukaimu"


"maaf, ada hubungan apakah kalian berdua?, Jika kamu pacarnya, aku mohon jaga dia"


"menyedihkan sekali, seseorang seperti mu diharapkan Silvi, kamu takkan kuat menghadapi beban nya"


menjijikan, aku menyadarinya, apapun yang aku lakukan aku merasa salah, aku memang buta, tanpa arah dan tanpa harapan. aku merasa diriku sangat menjijikan.


aku merasa bingung, aku tak tau harus bicara apa lagi, yang ku pikirkan sekarang hanyalah kebahagiaan Silvi. dengan siapa pun dia, yang penting dia bahagia.


"Jadilah seorang pria, kamu tidak ingin mengecewakannya kan?"


"Ya"

__ADS_1


"Aku hanyalah dokter keluarganya Silvi, sekarang kamu terlalu lemah, bahkan Silvi saja sangat kuat, dia menanggungnya sendirian, kamu harus belajar dan harus lebih kuat jika ingin bersamanya"


"Maafkan aku"


"Pantas saja dia belum mengatakannya padamu, ternyata kamu selemah ini"


"Apa yang kau tau? apa yang dia sembunyikan dariku"


"Tanyakan saja pada Silvi, dan perkuat dulu mental mu itu, sebenarnya kamu sama sekali tak pantas untuknya"


sebenarnya, tanpa dia katakan pun aku mengerti, aku ini memang tak pantas, mencintai Silvi.  Bahkan semut di sana pun mengetahuinya, seharusnya aku menyadari takdirku, aku yang ditakdirkan sebagai pecundang, memaksa untuk menjadi pahlawan, tapi apakah salah rasa cinta memilihku?, kasih sayang mendatangiku apakah itu salah?


aku berbicara dengan penuh emosi, tanganku mengepal, aku kecewa dengan keadaanku sendiri, yang tak tau apa yang terjadi. namun saat ini aku mengerti, aku harus lebih kuat, harus belajar banyak hal demi dia, demi Silvi yang sudah mau mencintai ku tanpa syarat.


Esok harinya, aku berbicara dengan Silvi, di atap sekolah.


"Bagaimanapun aku akan mencintaimu meski sesulit apapun, aku sudah bertemu dengannya, dokter keluargamu, jadi sebenarnya apa yang kamu sembunyikan, ceritakan padaku, biar kita tanggung bersama keresahan mu"


Badanku gemetar, jiwaku merintih, sangat berat kata-kata yang aku ucapkan. kemudian angin bertiup terhadap wajahnya, Mengurai rambutnya yang cantik itu, dia berpaling dan dia diam. aku kembali melanjutkan perkataan ku.


sementara Silvi terlihat kaget mendengar ucapanku.

__ADS_1


"Sampai saat ini aku juga tak mengerti kenapa kamu memilihku, padahal aku bukan seseorang yang spesial, hanya manusia tanpa warna, tapi karena kamu memilihku, aku percaya aku bisa belajar menjadi lebih baik untukmu, aku sangat ingin mendengar semua tentang mu, bahkan aku ingin semua masalahmu kita tanggung bersama"


Dia kembali menatap ku, dengan tatapan yang sedih dan jiwa yang kosong, raut wajahnya menunjukan ketidakberdayaan, air matanya melukiskan semua penderitaan yang sedang dia alami, bahkan tawa yang biasa terlukis diwajahnya hanyalah hiasan belaka, keindahan yang dia tunjukan adalah bentuk penutupan kelemahan nya. dalam tangisan nya dia berkata


"Ura, aku memiliki penyakit yang aneh, meski hanya 6 bulan lagi, aku harap kau membahagiakanku, dan kita akan membuat semua kenangan manis yang bisa kau kenang, semoga aku juga bisa mengenangnya" ucap Silvi sambil tersenyum


aku terhanyut dalam keheningan setelah itu, udara yang menusuk paru-paru ku, terasa menyesakan dada, aku melihat senyuman diwajahnya, namun aku merasakan penderitaan yang amat kejam. mengapa hal ini terjadi padanya.


Tanganku bergetar, mencoba menguatkan diri atas kejujuran yang menggores jiwa, keputusasaan datang mencabik-cabik jiwaku, aku akan tenggelam, namun jika aku mati dalam penderitaan ini bagaimana dengan dia yang merasakannya langsung, aku membayangkan ketakutan yang dia rasakan setiap harinya. tapi dia masih bisa tertawa.


"Pasti, selama aku ada, pasti akan aku bahagiakan, aku akan tanggung penderitaan ini bersama, aku akan melawannya bersamamu, sampai hati kita puas sudah melakukan semuanya, lalu kau takkan pernah mati, kau akan selalu bersamaku, hidup dalam jiwaku"


Silvi dia hanya tersenyum, namun aku sangsi dengan keikhlasannya, dia mengatakan semuanya seakan tak ada penderitaan, padahal jiwanya menolak merasakannya.


hari ini, ada satu hal yang tidak usai kita bahas, yaitu kesedihan dan penderitaan, kesedihan yang menyangga penderitaan, seperti tulang yang menyangga daging, sedang tubuh yang berdiri tegak adalah kebahagiaan. seperti itulah dirimu, wanita yang tegar dengan keadaan yang rapuh.


setelah hari ini, aku tak tau akan menangis atau tertawa, waktu akan berjalan dengan cepat, namun biarlah semuanya mengalir apa adanya, biarkan masa depan tetap menjadi rahasia, dan semoga akan menjadi kabar yang sederhana, yang bisa aku mengerti tanpa kau katakan lagi.


begitulah Silvi dia wanita yang hanya akan berbagi tawa dan bahagia, sedangkan kepayahan dan kesakitan dia makan sendiri, rasanya dia mirip sepertiku, yang mulai kecanduan dengan penderitaan dan kesedihan.


"Silvi menikah lah denganku"

__ADS_1


__ADS_2