
Pagi itu aku bertemu dengan Silvi, aku memang sudah ada janjian dengannya untuk mengantarkan surat undangan pernikahan kita pada Tya, memang masih sangat lama tapi aku ingin segera mengabari ini padanya.
Bingung sebenarnya, apa aku harus memberi tahunya secepat ini atau nanti saja, namun Silvi meyakinkanku, untuk segera memberi tahunya.
Apakah dia akan terluka lagi, atau malah aku takut dia terlihat biasa saja, ada bagian rasa didalam hati yang belum hilang.
Surat undangan ini akan menjadi surat undangan pertama yang aku berikan, dan dia adalah orang pertama yang mengetahui rencana pernikahan ini.
"Ura, apa kamu sudah siap?" ujar Silvi yang sudah begitu rapi dan cantik
"Apa yang kita lakukan ini benar? dan takkan menyakiti nya? apa lebih baik dia tak usah tau sekarang?"
"akan lebih menyakitkan jika dia mengetahui ini dari orang lain, dia pasti bahagia mengetahui kita berbahagia, bukankah dia berjanji untuk bersahabat dengan kita? "
"Aku hanya takut, ini akan menyakiti nya, sudah banyak derita yang ia tanggung, pedih dan kehinaan sudah akrab dengannya, bahkan air mata tak mampu melukiskan kesedihannya lagi"
"aku mengerti dengan ketakutan mu, tapi apakah menyembunyikan sesuatu adalah hal yang baik, tak perlu ada yang disembunyikan lagi, jika dia harus sakit hati, maka biarkan dia serusak mungkin agar dia segera melupakanmu, sikapmu yang seperti memberi harapan jauh lebih menyakitinya, berikan ketegasan mu sebagai lelaki"
mendengar ucapan Silvi, aku sedikit mengerti ada kemarahan yang pernah dia pendam, namun jauh dari itu ada kasih sayangnya pada Tya.
__ADS_1
"Sedikitpun aku tak mau ada yang terluka lagi, tapi aku tak mau kau memberikan harapan seolah-olah masih ada kesempatan baginya, sehingga jika dia melihat ini dia pasti akan menerima dan mengobati hatinya" ujar Silvi
Tiada yang lebih menyakitkan dibandingkan kehilangan, semua bentuk kehilangan akan menyakiti diri, bahkan untuk menghilangkan sakitnya ada yang membuatnya sengaja terluka.
"Aku akan memberikannya sendiri, aku ingin melihat reaksinya, jika ia terluka aku takkan bertemu dengannya lagi, karena aku sumber sayatan itu, tapi jika dia tersenyum dan menerima mungkin aku bisa memutuskan untuk benar-benar bersahabat dengannya"
"Ayo berangkat"
aku berjalan menuju rumah Tya, perjalanan ini begitu berat, ada ketakutan dan kegelisahan yang membuat kaki ini terasa kaku, apa yang aku lakukan ini benar? kalau benar kenapa aku merasa ragu?
dengan surat undangan yang aku bawa ini akankah melukainya atau akankah dia menerimanya dengan senyuman, langkah yang berat namun ini adalah keputusan yang aku ambil.
Aku ketuk pintunya, ketakutan ini memuncak, beberapa kali aku ketuk tak ada orang yang keluar, namun saat aku coba buka pintunya tidak terkunci.
"Tya? apakah kamu didalam? "
terlihat seorang perempuan tua datang menghampiri, dia tampak lemas dan lesu, wajahnya pucat, dengan badannya yang sudah tidak muda lagi dia tersenyum padaku.
"Nak Nata dan Silvi, silahkan masuk"
__ADS_1
"eh ibu, maaf menganggu. Tya nya ada? "
aku coba memasuki rumahnya, ibunya tidak mengatakan apapun lagi padaku, matanya sembab. aku tau dia baru saja menangis, namun aku tak berani menanyakannya.
tak lama kemudian aku dan Silvi duduk di sofa di ruangan tamu, sementara ibunya datang memberikan minuman untukku.
"maafkan ibu, sepertinya kalian tidak bisa bertemu Tya hari ini?" ucap siibu sembari menahan air matanya, berat sekali melihatnya
"Sayang sekali, kita sedang ingin bertemu dengannya dan memberikannya langsung. Jika boleh, bisakah aku menitipkan ini pada ibu?"
aku menyodorkan surat undangan pernikahan ku dan Silvi
melihatnya ibu malah menangis, air mata yang ditahannya keluar tanpa ia sadari.
"Sepertinya, lebih baik kalian saja yang langsung memberikannya, ibu tidak sanggup"
"Ibu kenapa? maafkan aku jika ini menyakiti ibu"
ibunya Tya mengusap air matanya.
__ADS_1
"Tya sedang sakit, Dia sekarang dirawat di RS Kota, dia sedang tidak sadar, hal yang terakhir dia katakan adalah ingin bertemu dengan kalian berdua"