Amnesia

Amnesia
Ketidaktahuan adalah Penderitaan


__ADS_3

Jam istirahat, kami berdua masuk kedalam kelas, aku langsung duduk di kursiku dan terdiam, sementara itu Silvi terkaget melihatku yang baru datang. Silvi menanyakan banyak hal padaku, namun tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku, hari itu rasanya langit pun gelap, aku tidak ingin melakukan apapun, aku hanya ingin diam dan menenangkan diri.


banyak hal yang terjadi, dimulai dari kenangan indah yang menjadi pahit, aku benar-benar tak sanggup mengatakan apapun.


namun sepertinya Silvi tidak mengerti apa yang membuatku seperti ini, dia malah duduk disampingku, tangannya mengelus penggungku, dia bilang dengan sangat manis


"Ura, jika ada sesuatu apapun itu, kau bisa ceritakan padaku, aku tak tau kenapa, tapi kamu tidak seperti biasanya. ceritakanlah"


angin berhembus kencang, menyentuh wajah dan tubuhku, namun aku tetap diam, merenung, merasa kecewa dan merasa sia-sia. Silvi juga seolah tidak mengerti, aku seperti ini juga karena ulahnya.


Dia menunjukan rasa pedulinya, tapi aku sangsi dengan keikhlasannya melakukan itu, kamu menaruh peduli padaku yang menderita karenamu. andai saja aku bisa mengatakannya, mungkin peduli mu akan jadi belati yang menusuk jantungmu sendiri, darahnya segar, mengalir pengkhianatan dan kesedihan didalamnya, kemudian hati dan perasaanku mati.


Atau mungkin, kau akan tertawa dan menari, jujur aku takut untuk menanyakannya, aku takut mengetahui kebenarannya, jika benar dia mencintai nya, lalu aku yang kau ikat dengan status, hanyalah sebuah figuran, agar tak ada yang mengetahuinya kemudian bau busuk itu mengarah kepadaku.


Tak ada kata, namun Silvi berjalan menuju Tya, aku ingin mencegahnya, aku harap Tya tidak mengatakan nya.

__ADS_1


namun hal yang terjadi malah sebaliknya, belum juga Silvi sampai Tya mengatakan semuanya pada Silvi


"Tega sekali, Tega sekali kau Silvi, aku tak suka kamu mempermainkan hati Nata" Teriak Tya, yang membuat kelas menjadi hening.


Keheningannya membuat detak jam dinding terasa begitu bising, bahkan angin pun bersuara terdengar pula pecahnya harapan dari hati Tya.


"Apa yang kamu maksud Tya"


"Jangan banyak alasan, tadi Nata melihat semuanya, kejadian di pagi hari, aku lah yang membawanya pergi, karena dia akan makin hancur kalau ada disini"


Tiba-tiba Silvi datang kearahku, memelukku, wangi tubuhnya menenangkan jiwaku, aku sadar, aku sangat mencintainya.


"Maafkan aku, ada sesuatu yang tidak perlu kamu tau, tapi yang harus selalu kamu ingat, Kamu adalah satu-satunya Lelaki yang aku cintai"


"Mana mungkin, Cinta tak mungkin bisa berbagi, pergilah, jika kamu memilih nya, aku akan jadi orang pertama yang bertepuk tangan untukmu"

__ADS_1


Silvi menamparku dengan keras, emosi diwajahnya tergambar jelas, air matanya menunjukkan ekspresi kesedihan mendalam.


"Kamu bodoh, kamu sangat bodoh sekali, Sejak kecil kamu tidak pernah peka, bahkan aku kesini juga hanya untukmu, aku tau aku salah, aku memeluknya karena dia memberikan sesuatu yang aku cari selama ini, tapi aku tak mau kamu mengetahui nya"


tak lama Arif datang, dia langsung memukulku,


"******, Kamu pikir Silvi wanita murahan, yang akan membagi hatinya?, ***** kamu harusnya berpikir dahulu, aku memang menyukainya, tapi aku tak suka kamu menuduh Silvi seperti itu"


Silvi memelukku, erat, Hangat tubuhnya meleburkan rasa sakit dihatiku, mengobati jiwaku.


"Aku benar-benar sangat mencintaimu, hanya dirimu, Tubuh ini pun akan aku berikan untukmu jika kamu memintanya, Aku sangat menyayangimu, melebihi cintaku pada diriku sendiri" Silvi menangis, dalam pelukanku.


"Aku hanya ingin tau, apa yang kalian lakukan tadi pagi? sampai berpelukan"


"Ura, Maafkan aku, Arif hanya memberiku sesuatu yang sedang aku cari, dan kamu tak perlu tau"

__ADS_1


Sebenarnya aku masih merasa sakit, namun aku telah memaafkan nya, dia sendiri yang mengatakan nya dan aku mempercayainya.


namun ketidaktahuanku menjadi penderitaan baru untukku, sebenarnya apa yang coba Silvi sembunyikan.


__ADS_2