Amnesia

Amnesia
Pemulihan


__ADS_3

Seminggu sudah operasi transplantasi jantung dilakukan, kini keadaan semakin membaik. Silvi sudah di pindahkan ke ruang perawatan dan sudah boleh dijenguk. Di ruangan perawatan itu, akulah yang menemaninya, menunggu nya dengan sabar, namun sampai saat ini dia belum juga siuman.


Dokter sudah menjelaskan beberapa hal, ada kemungkinan Silvi masih harus menjalani perawatan hingga satu bulan kedepan, dari perkiraan dokter minggu ini dia akan mulai sadar, namun dia tidak diperbolehkan untuk bergerak. Proses recovery diperkirakan akan memakan waktu hingga 3 bulan, namun itu sungguh sangat cepat bagiku, mengingat begitu berat yang terjadi.


Di hari ke 9, sekitar jam 8 pagi, saat aku duduk dan meminum segelas susu, sembari menulis cerita novel ku yang baru, terdengar suara silvi memanggilku, dia mulai siuman.


"Ura, Ura kau dimana? "


aku bergegas mendekati nya


"Aku ada disini, sudah jangan banyak bicara, istirahat yang cukup"


"Apa yang terjadi? kenapa aku dirumah sakit? kenapa rasanya aku lemas sekali? "


"Nanti akan aku ceritakan, tapi kali ini kamu istirahat saja dulu, tenang aku akan selalu disampingmu dan menemanimu"


"Aku tau, kau memang selalu seperti itu, selalu baik dan memanjakanku" ujarnya tersenyum, dia meraih tanganku dan menggenggamnya.


sementara, dengan tangan yang lain, aku usap-usap kepalanya, lalu ku cium keningnya.


"kau telah melewati banyak hal, aku sangat khawatir, tapi syukurlah kau baik-baik saja"

__ADS_1


Silvi hanya mengangguk mendengarkan ucapanku, lalu dia kembali tertidur.


Setelah semua hal yang telah aku lewati, ini menjadi sebuah kado yang indah, mendengarkan suaranya lagi, mencium keningnya lagi.


Dari hati yang tandus dan terluka begitu parah, turun air yang membasahi, kemudian tanah tersebut menjadi padang, tumbuh pula beberapa bunga cinta, harumnya semerbak berbahagia.


Menikmati saat-saat bangkit setelah jatuh begitu dalam, kembali merangkak menuju permukaan, namun aku tak takut untuk kembali terbang, meski telah jatuh berkali-kali.


Setiap orang akan melewati sebuah permasalahan, jalan apa yang dia gunakan untuk melewati nya akan menentukan hidupnya dimasa depan.


Aku pun pernah hancur, di titik terendah, aku begitu menginginkan kematian. namun aku terselamatkan, kali ini aku lebih memilih hidup dan berbahagia


Setiap orang pasti pernah merasakan terluka, putus asa dan menderita, orang berbahagia adalah orang yang mampu bangkit dan mengetahui hikmah yang terjadi.


Dengan suara yang begitu manja, diruangan itu dia memintaku untuk datang ke samping tempat tidurnya, tak lama dia bangkit dari tempat tidur itu, dan duduk tepat di sebelahku.


"Aku jadi ingat, bukankah kita sedang merencanakan pernikahan?"


"Iya, tenang saja semunya sudah beres, orang tua kita yang membereskan nya"


"aku hanya tak sabar untuk segera menjadi istri mu"

__ADS_1


"tentu saja, aku juga merasakan hal yang sama, setelah begitu banyak hal yang kita lalui, ini terasa akan sangat membahagiakan"


"kamu menginginkan aku menjadi istri yang seperti apa? aku ingin menjadi istri yang baik untukmu"


"kamu cukup jadi dirimu sendiri, kamu yang sekarang begitu aku cintai, yang penting kau selalu mendukungku dan berada disisiku"


"aku telah melewati banyak fase yang sangat dekat dengan kematian, dan kamu selalu membantuku melewatinya"


"mungkin itu tugasku di dunia ini, menemanimu dan berbahagia bersamamu"


"apa kau tidak lelah? melewati semua ini? "


"sungguh aku sangat lelah, badan ku kadang terasa pegal dalam perjalanan hidup. namun aku tak bisa berhenti terlalu lama, ada dirimu yang menungguku, ada orang tua yang harus aku bahagiakan, dan aku juga ingin memiliki anak dari perutmu itu, jika anak itu wanita aku akan ajari dia hingga menjadi wanita yang lembut sepertimu, dan jika anak itu lelaki, aku akan mengajarkannya bersabar dan keteguhan hati"


Silvi tersenyum mendengarkan ku, dia menggenggam tanganku begitu erat.


"aku juga ingin menua bersamamu, dalam perjalanannya, aku ingin menikmati masa-masa pernikahan kita, bulan madu, aku akan menjadi ayah yang pekerja keras, dan kau akan menyambut ku saat aku pulang, memakan masakan mu, kemudian tak lama perut mu akan diisi bayi, aku akan bahagiakan kamu, setelah itu kamu akan melahirkan, aku ingin memiliki banyak anak darimu, kemudian menyekolahkan mereka, hingga nanti saat tua, anak-anak kita sukses, kita kembali berduaan lagi dan bercerita bagaimana hidup sangat baik padaku dan padamu, dan jika aku boleh memilih, saat tua nanti aku ingin mati duluan, karena aku tak mau disiksa sakit nya kehilanganmu"


mendengar ucapanku, Silvi menangis dan memelukku.


"Aku berjanji akan menjadi istri yang baik untukmu, Terimakasih selama ini telah menemaniku, aku menemukan lelaki yang hebat"

__ADS_1


"Tentu saja, langit malam ku yang megah"


__ADS_2