
"Silvi menikahlah denganku"
Tak ku kira, lamaran itu terlontar secara spontan dari mulutku, kali ini hati bekerja lebih cepat dari pada otak. aku tau, aku masih anak SMA, bahkan sebelumnya aku tak pernah terpikirkan untuk menikah.
"Ura, Aku terima niat baikmu, aku juga ingin menikah denganmu, tapi tunggulah, aku ingin berjuang, setelah lulus SMA jika aku masih ada dan masih mengingatmu akan, menagihnya"
ia sapu air matanya, wajahnya kembali ceria, langit yang begitu berawan kini mulai disinari mentari, angin yang menari lembut, menyentuh hati, melepaskan semua ketegangan. seperti pelangi, senyumannya kembali menghiasi wajahnya yang cantik.
"mulai detik ini, kemanapun kamu pergi, aku akan selalu bersamamu Ura" silvi tersenyum, membuatku melupakan kepedihan sejenak, senyumannya seperti tak ada beban yang dia rasakan, kini aku mengerti dia wanita yang sangat kuat.
"Ya, aku pasti akan selalu di sampingmu" jawabku.
Kali ini jiwaku seperti bunga, bunga yang bermekaran, harum mewangi, begitu dirindukan, begitu indah, biarkanlah angin menari diatas bunga-bunga mawar yang berduri, seberapa tajamnya dia, keindahannya akan membuat siapapun berani terluka, dan wanginya membius mereka yang sedang dilanda cinta dan derita, namun begitulah cinta, siap terluka dan siap bahagia.
"Aah, Ura, kali ini pasti aku bisa menggapai mu, lihat saja" Silvi kembali memalingkan wajahnya
aku memeluknya dari belakang, Silvi terlihat kaget
"Tidak, kali ini aku yang akan meraihmu" ucapku, lalu kekecup pipinya yang merah merona.
__ADS_1
"Oh, Ura ku sekarang sudah berani memelukku ya, sudah berani mencium pipiku, selanjutnya aku takut kau meminta tubuhku" ujar Silvi menggodaku.
"Oh kamu tak suka?, apa kamu menantangku?" Ucapku lembut membisikan hal itu ditelinga nya.
"aku berikan semuanya, jika kau berani" Silvi mentang ku, wajahnya begitu nakal dan menggoda
ku lepaskan pelukannya, lalu aku memutar badannya, dan aku dekati wajahnya. benar-benar dekat.
"ah tak bisa, aku tidak berani mencium mu"
jawabku dengan wajah memerah karena malu, sementara Silvi dia tertawa, begitu puas.
kemudian dia kembali memelukku dan mencium ku, aku terkaget, namun aku rasa aku harus belajar sedikit nakal dan menikmatinya.
aku benar-benar menikmati saat itu, namun kulihat, ada orang lain di atap itu. ternyata Tya, dia melihatku bersama Silvi yang sedang berciuman. ku lihat ada air mata diwajahnya, dan dia berlari saat aku mengetahui nya. namun aku abaikan dia, aku hanya sedang ingin menikmati hal ini dengan Silvi.
Esok harinya, Silvi kembali menghilang, dia tak masuk dan tak ada kabar.
Sementara itu, waktu istirahat Tya mengajakku ke atap sekolah. aku mengikutinya, sesampainya di atas Tya menangis, dia berkata
__ADS_1
"Apa aku kurang menarik di matamu, apakah aku salah, jika aku ingin memilikimu juga?, rasa ini sudah ku pendam lama, sejak tk, sd, smp bahkan aku kesini juga karena kamu masuk sekolah ini, apa kamu tak pernah merasakannya? perhatian yang selalu aku berikan, dan kau selalu dingin kepadaku, sementara padanya, kau baru mengenalnya namun kau begitu mencintainya, aku sakit Nata, aku tak sanggup terus menahannya"
"Tapi kau tak pernah mengatakannya sebelumnya, jadi aku tak pernah mengerti"
"Kau ingat saat SMP, aku selalu duduk di samping mu, saat SMA, aku meminta pindah kelas agar bisa satu kelas denganmu, sebenarnya aku sudah puas mencintaimu dalam diam, aku sudah bahagia, namun setelah dia datang, dia merusak kebahagiaanku itu, bayangkan saja sudah berapa tahun, aku hanya duduk diam mengagumi tanpa kau balas, sedang kemarin, aku melihatmu dan dia berciuman begitu mesra, apa kau tak punya hati? apa aku tak boleh merasakannya juga" wajahnya berkaca-kaca
"Maaf Tya, aku sudah punya Silvi, bukan aku tak menghargai mu dan perjuangan mu, jujur aku tak tau semuanya, sedangkan kali ini aku ingin belajar setia"
Tya menangis, sesegukan aku memeluknya, mencoba menenangkannya namun dia malah mengambil kesempatan dia mencium ku. saat itu aku terdiam, aku merasa dosa dan sangat bersalah kepada Silvi.
"Tak apa, jika hatimu tak bisa aku miliki, maka lakukan padaku apa yang kamu lakukan pada Silvi. aku ingin perhatian mu, aku ingin pelukan mu, aku juga ingin dicium mesra olehmu"
"aku tak mungkin bisa"
"Dan jika aku hanya pelarianmu, datanglah akan selalu aku tunggu, datanglah meski aku hanya tempat kau bosan, datanglah jika aku hanya tempatmu merasakan sedih, dan jika aku ini hanya menempati posisi kedua, tak apa jadikan saja aku cadangan, aku rela karena aku hanya bisa mencintaimu "
Ucap Tya, dan dia kembali mencium ku, kali ini aku balas dengan pelukan. Silvi maafkan aku untuk kali ini saja.
"Tya, ada banyak lelaki diluar sana, yang bisa kau cintai, yang jauh lebih baik dariku. ini tak benar Tya, aku takkan bisa"
__ADS_1
Hari itu aku benar-benar merasa bimbang, entah harus tertawa atau menangis, aku mengerti sekali posisi Tya, karena aku sering berada diposisi itu. kali ini aku seperti ditusuk belati dari depan dan belakang, aku tak bisa menghindar, baru kali ini aku rasa cinta sangat merepotkan