
Dengan sangat panik, kami berlarian menuju ruang bedah, namun operasi sedang dilakukan. yang bisa aku lakukan sekarang hanya menunggu, di depan ruang bedah penuh ketegangan dan penuh doa, ada harapan dan putus asa.
Kami menunggu sangat lama, hingga aku meminta dimas untuk kembali saja, dan menemani Tya, tapi dimas menatapku, seolah dia tidak ingin meninggalkan ku sendirian, aku tetap memaksanya pergi meski dia mencoba bertahan disini.
terlintas pikiran buruk datang, berjumpa kembali dengan ketakutan, baru kali ini aku diterpa kekhawatiran, rasanya seperti akan ditinggalkan, aku hanya punya harapan.
Selain itu, aku bergegas menghubungi ayah dan ibu Silvi, dan juga Ibuku, aku mulai tak tahan menunggunya disini sendirian. aku lihat jam bergitu lama berputar, didepan ruangan ini banyak orang yang lalu lalang, namun aku hanya diam berharap dan mulai berkeringat
tak lama datang ayah dan ibu Silvi mereka datang bersama ibuku, ayah nya langsung memelukku, hingga aku tak sadar meneteskan air mata. rasanya kekhawatiran ku ini tidak seberat yang mereka rasakan, namun aku lihat mereka tetap berusaha tegar, sementara ibuku mencoba menenangkan ibunya Silvi.
"Tenanglah, semua pasti akan baik-baik saja. dia sudah sering melewati masa kritis dalam hidupnya, tapi dia selalu menang" ujar ayahnya yang memelukku, badannya bergetar, dia mencoba tegar namun aku mengerti betapa khawatir dirinya saat ini.
__ADS_1
Sudah 4 jam aku menunggu penuh ke khawatiran, meski hanya diam aku bermandikan keringat, rasanya begitu menyiksa menunggu sesuatu yang berhubungan dengan hidup dan mati.
saat dokternya keluar dari ruang bedah itu, ku lihat dokter yang begitu kelelahan, matanya pucat, aku mengerti dia sudah bekerja dengan keras. Dia mendatangi kami, wajahnya tampak tersenyum namun hatiku masih tidak bisa merasa tenang.
"Silvi masih bisa diselamatkan" ujar dokter itu sedikit menenangkan, namun sepertinya ucapannya tidak berhenti sampai sana saja.
"Tapi dengan kondisi jantungnya yang hancur, kita perlu mendapatkan transplantasi jantung secepatnya, maksimal 1 bulan dari sekarang. dia masih tertolong karena robot-robot medis yang menempel dan membantu memompa darahnya"
"Pakai saja jantungku" ujar ayahnya Silvi, tanpa pikir panjang dia menawarkan jantungnya, padahal selepas jantungnya di ambil, itu juga akhir dari kehidupannya.
"kalau tidak ambil saja punyaku, anakku harus mendapatkan kebahagiaan dunia dan aku sudah merasa cukup dengan apa yang aku lalui" ujar ibunya. Pengorbanan orang tua memanglah pengorbanan yang tak pernah bisa ditebus dengan apapun, aku melihatnya bagaimana mereka merelakan kehidupannya agar anaknya selamat.
__ADS_1
saat aku mendengar ucapan itu, aku coba menolaknyanya, rasanya akan menyakitkan bagi Silvi jika kelak dia sehat dan mengetahui bahwa pendonor jantungnya adalah orang tuanya sendiri, pasti akan lebih terpuruk dia setelah ini.
"Ayah, Ibu. maafkan aku berkata seperti ini. tapi jika salah satu dari kalian yang menyumbangkan jantung kepada Silvi, dia pasti akan jauh lebih menderita ketika dia sehat nanti, dia pasti akan menyalahkan dirinya atas keadaan ini"
saat mereka mendengarkan kata-kataku mereka hanya terdiam, kemudian lesu. Orang tua mana yang tidak mengkhawatirkan keadaan anaknya, yang sedang begitu dekat dengan kematian dan begitu kesakitan.
Tirai ruang bedah dibuka, kami semua hanya diperbolehkan melihatnya dari luar, Silvi terbaring lemas, dengan banyak selang dan kabel yang menempel pada tubuhnya. rasanya dari sana dia tersenyum padaku, tapi justru hal itu yang membuatku menangis tak tertahankan, aku memeluk ibuku, aku benar-benar merasa lelah dengan kejadian ini, kenapa hal ini menerpa hidupku, apa salah atau dosa yang aku perbuat. dalam tangis itu, ibuku membisikan sesuatu ditelingaku.
"Semua orang punya masa terendah, tapi sesakit apapun dan sehancur apapun, kau harus bangkit. sekarang harus kita pikirkan dengan hati yang sabar dan jiwa yang tenang untuk mencari jalan keluar dari masalah ini"
Dalam keadaan yang sedang bersedih, bingung dan putus asa ini, datang Tya dengan selang infusnya, ditemani dimas yang menggendong nya. sesampainya disana Tya langsung menangis tersedu-sedu. menggenggam tanganku.
__ADS_1
"Setelah berjuta kesedihan, kau layak untuk berbahagia"