Amnesia

Amnesia
Nasihat Ibu


__ADS_3

"apa kau akan pergi? aku ingin kamu berada di sampingku, kumohon tetaplah disini bersamaku selamanya"


"itulah kenapa aku harus pergi, agar kita bisa bersama selamanya"


malam itu, aku memimpikan hal aneh, sebuah percakapan yang entah berasal dari mana dan dengan tujuan apa.


pagi-pagi sekali aku terbangun, bersiap untuk bertemu ibuku, Silvi juga akan ikut, aku akan meminta izin untuk menikah pada ibuku, meski nyatanya lelaki tak perlu restu orang tua, namun keridhoan Tuhan terletak pada ridhonya orang tua.


sembari memegang tanganku yang gemetar saat berjalan, Silvi berbisik padaku.


"Tenanglah, aku pasti akan mendukung mu"


"Aku akan berjuang, berat rasanya aku melangkah, sebuah langkah yang menjadikanku pria dewasa"


didepan rumah, dengan halaman yang tidak terlalu luas, aku kenal betul dengan rumah ini, berjuta kenangan aku ingat hanya dengan sekali melihatnya.


"Ibu, aku pulang"


Rasa rindu yang memuncak sesaat setelah aku mengatakan itu, sudah lama sekali rasanya, aku sangat kangen dengan keadaan ini, rumah kecil ini menjadi saksi aku tumbuh dan berkembang.


lalu ibuku datang membukakan pintu, tersenyum begitu hangat padaku, datang dan memelukku


"Ibu sudah menantikan dirimu pulang"


entah apa yang menyedihkan, namun air mata terus saja bercucuran, tak dapat aku hentikan meski aku coba.

__ADS_1


ini adalah bentuk kerinduan, mulut tak lagi bisa melafalkan kata betapa rindunya ibu kepada seorang anak, kehangatan pelukan ini adalah bukti dia sedang kangen pada anaknya, anak yang selalu dia tunggu setiap harinya dan berharap anaknya segera pulang.


kau hanya terdiam, entah apa yang harus aku katakan, aku begitu mengerti betapa kesepian nya ibuku selama ini, dibalik sosoknya yang tegar, aku mengerti dia selalu menungguku setiap harinya, dia selalu bersiap untuk mengucapkan selamat datang, namun aku tak pernah datang.


"Ibu harap, kau tinggal disini, rumah ini terlalu besar untuk ibu sendiri, rasanya ibu sedikit lelah mengurusnya"


sudah 4 Tahun lebih aku pergi dan tak pernah kembali, bukan akun melarikan diri, tapi atas nama pencarian jati diri, aku membuat ibuku begitu banyak tersakiti.


aku menangis bersujud di hadapan ibu, begitu sakit hatiku memikirkan dan mengetahuinya, bahwa aku begitu dirindukan namun aku tak pernah pulang.


"Ibu, maafkan aku"


"Meski ibu tak mengerti kenapa kau minta maaf,


senyuman yang hangat yang khas dari seorang ibu, membuat ku tak bisa berhenti menangis, aku telah melakukan kesalahan fatal dan aku sangat menyesal.


Silvi yang di sampingku, menggenggam tanganku, mencoba menguatkan ku, namun aku tetap saja terus menangis, aku benar-benar sangat merasa bersalah pada ibuku.


"Ibu, aku datang kesini ingin meminta sesuatu padamu, namun aku merasa malu, setelah apa yang aku lakukan pada ibu"


ibu kemudian menghampiri ku, memelukku, dan rasanya begitu nyaman, mengisi semua hati yang kosong, sebenarnya ini yang sedang aku cari, kasih sayang dan kehangatan yang tulus, penuh kasih.


"Katakan lah nak, agar ibu bisa memberikannya jika ibu mampu, sungguh akan ibu usahakan jika itu mau mu"


dengan terbata-bata aku mengatakan rencana ku untuk menikahi Silvi, sungguh sangat malu aku mengatakan hal egois setelah meninggalkan ibu begitu lama.

__ADS_1


"Aku akan menikah bu, bantu aku lamarkan Silvi untukku bu"


ibu melihat ku, dia tersenyum penuh bahagia


"anak Ibu sudah besar, sudah dewasa dan sudah layak menjadi ayah, baik akan ibu bantu dirimu melamar nak Silvi, ibu juga menyukai nya, dan ibu tak mau melihatmu depresi seperti dulu"


ibu mulai memegang tangan Silvi, namun Silvi tertunduk mungkin dia merasa malu.


"Nak Silvi, bantu ibu merawat Nata ya, dia satu-satunya keluarga ibu yang tersisa, dan jika kalian menikah, tinggal lah disini, temani ibu pasti ibu akan bahagia"


"Pernikahan bukan sesuatu yang mudah, kalian akan bekerja sama membangun keluarga mulai dari nol, mungkin akan muncul beberapa pertengkaran karena perbedaan, namun ibu harap kalian nanti akan saling mengerti, dan kelak nanti perut Silvi akan diisi seorang bayi, sayangi Istrimu manjakan dia, rawat lah anak dengan kasih sayang, kalian akan bertemu dengan kerasnya dunia, tapi jika kalian menghadapi nya bersama, kalian pasti bisa melewati nya"


"Terimakasih banyak bu" ujar ku yang refleks memeluk ibuku.


"Tentu saja, ibu sangat senang, anak ibu sudah dewasa, pastikan kamu jadi lelaki yang bertanggungjawab ya"


"Siap bu"


"Jadi kapan rencananya lamaran ke orang tua Silvi? "


"Rencananya senin depan bu, apa ibu bisa? "


"Iya, ibu akan pakai baju terbaik ibu, dan akan memintakan Silvi untukmu"


Mendengar ucapan itu, ada rasa tenang dan juga takut, setelah ini aku akan menghadapi dunia yang berbeda, aku akan mulai bertanggungjawab untuk dua orang dan akan didukung penuh Silvi.

__ADS_1


__ADS_2