
Dan katakan pada angin yang berhembus setiap pagi, bahwa banyak jiwa yang terhanyut olehnya, namun dia tetap menghembuskan nya dengan indah, tak peduli berjuta orang berharap padanya, meski daun-daun berguguran, dia tetap seperti itu, dingin dan tidak peduli.
Lalu rasakan bagaimana perjuangan matahari, yang memberikan kehangatan pada orang yang kedinginan, meski sering kali tak dihiraukan bahkan disalahkan, dia tetap bertahan dan tetap memberikan cahaya, padahal dirinya sendiri terbakar.
dan aku kali ini akan memilih jalan, jalan yang perlu aku lalui, akan kah terbawa harapan angin, apa aku juga menghiraukan mata hari. namun bunga akan selalu tumbuh dimana saja, selama aku berjalan semuanya akan baik baik saja.
Aku hanya memiliki satu obat, untuk kedua wanita yang sakit itu. namun aku tak mau membunuh salah satunya.
Pagi hari, angin berhembus kencang, kali ini aku ditemani Silvi berangkat ke sekolah, ditengah perjalanan dia bertanya banyak hal, syukurlah sepertinya dia sudah sehat.
"Selama aku tak ada, kau tak selingkuh kan ?, aku dengar kamu berduaan dengan Tya, apa itu benar"
"Nanti saja aku jelaskan, biar Tya sendiri yang menjelaskan nya, namun setau ku, aku tak berselingkuh dengan siapapun" jawabku
"awas saja ya, kau berani mempermainkan perasaanku" jawabnya
"Iya, mana mungkin lah"
"Iya, aku kan cantik, tak mungkin kau tak tergila-gila padaku" ucap Silvi menggoda
"pede sekali anda" jawabku bercanda
"ah senang sekali aku hari ini, pagi yang cerah bersama kekasihku" dia tersenyum
"ah sedih sekali aku hari ini, paginya memang cerah namun aku dituduh selingkuh oleh kekasihku" ucapku menjulurkan lidah.
"Ura" Silvi sedikit marah
__ADS_1
"Silvi" ujarku sambil memeluknya dari belakang
"Yah, gimana aku mau marah, kalau kamu seperti ini, manja sekali" Silvi mengelus kepala ku.
tak terasa kita sudah sampai didepan sekolah, seperti biasa Silvi adalah pusat perhatian, dan aku jadi lelaki yang cukup populer karena berpacaran dengannya.
Kelas masih kosong, kali ini aku lihat Arif dan Tya sedang berbicara, Silvi dan Aku mengintipnya, dan sepertinya Arif sedang menembak Tya.
"Tya, maukah kau menjadi pacarku" ujar Arif
aku dan Silvi kagum dengan keberanian Arif, laki sekali.
"Maaf Arif, ada lelaki yang aku sukai"
penolakan itu membuat Aku dan Silvi kaget, akhirnya kita ketauan ada disana.
Namun Tya, mendekatiku
"maaf Arif, aku mencintai Nata"
ucapan Tya sangat berani sekali, sungguh aku sangat kaget, sebenarnya aku sudah sadar dia menyukaiku namun, kali ini ada Arif dan Silvi yang ikut mendengar nya. kacau sekali, suasana nya terasa sangat canggung.
"Maaf Tya, Ura milikku dan tak boleh ada satu orangpun yang memilikinya selain aku" jawab Silvi
"Aku tak meminta nya jadi milikku, atau memaksanya mencintaiku, aku cuma mencintainya itu saja" ujar Tya menantang
"Sudah, Tya hargailah Silvi pacarku, dan hargai Arif yang menyukai mu" ujarku
__ADS_1
"Aku menghargai nya, aku hanya mengutarakan nya saja, apa itu salah?, aku pun tak ingin mencintai lelaki yang sudah memiliki pacar, namun cinta tak dapat memilih bukan?" Ujar Tya
Sementara itu arif memilih pergi dari ruangan, aku tak bisa mengejarnya, sementara Silvi ada di sampingku memegang tanganku dengan erat.
"Silvi tolong kejar Arif, tenangkan hatinya, aku takut dia melakukan hal yang aneh-aneh"
Silvi kemudian mengejar Arif, kini di kelas hanya tersisa aku dan Tya
"Kamu tak bisa seenaknya seperti itu, hargai perasaan Arif, Hargai perasaan Silvi"
"Kamu apa pernah menghargai perasaanku? apa kamu mengerti derita yang ku pegang sendiri? tau apa kamu bicara seperti itu"
"Aku minta maaf, aku tak bisa mencintaimu, namun aku tak masalah dengan perasaanmu untukku, aku hanya tak bisa membalasnya"
"Lalu, apa bedanya yang aku lakukan kepada Arif dan Silvi dengan yang kau lakukan kepadaku?, sama sama memberikan penderitaan"
"Aku mencoba menghindari itu, namun kau sangat jahat, melukai orang-orang secara langsung di hatinya"
"kamu pikir aku tak terluka?, naif sekali kamu"
Tak lama Silvi datang, dan langsung menampar Tya.
"Aku tak masalah, kamu mau mencintai Ura ku, namun jangan menyakiti orang lain dengan cintamu itu, kau jahat sekali" ujar Silvi
"Kamu berbicara seperti itu karena Nata milikmu, andai dia milikku kau takkan mungkin bisa seperti itu"
aku menahan Silvi yang tersulut emosi, aku juga kecewa dengan Tya yang seperti ini.
__ADS_1
aku memeluk Silvi dari depan, agar menenangkan hatinya, namun Tya malah memeluk ku dari belakang. dan ini sangatlah buruk