
Sejak kejadian itu, aku dan Silvi semakin dekat, kemanapun kami selalu bersama, aku pikir aku hanya membutuhkan Silvi dan tidak yang lainnya.
Pagi itu, di taman sekolah, tiduran dipangkuan Silvi, dia begitu tenang dan mengusap kepalaku, dan menceritakan banyak hal tentangnya, aku dan dia menelanjangi kisah masing-masing, tak ada lagi jarak, namun ada satu hal yang enggan Silvi ceritakan.
Matahari pun sampai cemburu, kedekatan kita sudah sampai nadi, namanya terlukis dalam setiap sel dalam hidupku, tawanya adalah hembusan dari setiap nafasku.
"Ura, kamu tau?, aku begitu senang sekali, mimpi ku menjadi kenyataan, aku bahagia, selalu bersamamu, mau kah kau berjanji untukku?"
"Ya, apa itu? akan aku lakukan semuanya, jika itu yang kamu mau"
"Jika aku pergi, cintailah wanita yang baik, bukalah hatimu dan bergembiralah"
"kau aneh Silvi"
tak lama ada seseorang datang, laki-laki berbadan besar, dia datang, kemudian menampar Silvi didepan mataku, dia memaksa Silvi mengikutinya.
Aku coba menghentikannya, mencoba melindungi Silvi, namun perbedaan kekuatan kami sangatlah besar, satu tendangan dan aku tersungkur
"Jangan ikut campur, aku tidak mengenalmu" ucapnya.
"Ura, Ryan itu juara karate Nasional, jangan melawannya, kau pasti akan kalah"
"Itu sudah jelaskan? mana mungkin aku bisa menang dalam bertengkar, cepat larilah"
"Kau ini bodoh ya" ucap Ryan, yang baru ketahui namanya barusan.
Satu tendangan lagi mengarah ke kepalaku dan aku pingsan.
__ADS_1
bebar-benar sakit, aku ingin menjadi pahlawan, bodoh sekali, ini menjijikan, pada akhirnya apapun yang aku lakukan, aku ini tetap saja lemah dan menjijikan, aku sudah tau itu, aku juga sudah sangat faham dengan itu.
tak lama aku terbangun, memukul kepalanya dari belakang
Pengecut memang, tapi apa boleh buat kan ? aku selalu takut berinteraksi dengan orang.
saat terbangun, aku sudah berada di rumah sakit.
Silvi ada disebelah ku dan menangis, aku melihatnya namun mulutku belum bisa berbicara.
lima belas menit kemudian, aku mulai benar-benar sadar.
"Pergilah"
"Tapi"
aku tak menaruh marah dengan Silvi dan aku pun tak peduli siapa itu Ryan, namun aku tak mau dikasihani, aku tak mau melihat nya menangis.
"oh begini ternyata rasanya sakit akibat dipukuli" gumam ku, aku senang Silvi mengkhawatirkan ku, namun aku merasa seperti pecundang yang menjijikan
Aku menyuruhnya pergi, tapi saat ini aku membutuhkan nya.
tak lama ibuku datang, dia menangis, mengkhawatirkan ku, namun dia datang dengan Silvi.
Begitu pula dengan Tya dan Arif yang datang menjenguk, mereka tampak sedih.
"Tenang, Ryan sudah diringkus polisi" ujar Arif
__ADS_1
"Dia itu siapa sebenarnya, Tiba-tiba datang dan menampar Silvi?" ujarku
"Dia orang yang menyukai ku sejak dulu, aku sebenarnya sudah menolaknya berkali-kali, namun semakin sini dia semakin kasar padaku, aku makin membencinya" jawab Silvi
"Kamu memang sangat populer ya, aku harus menjadi kuat agar bisa melindungi mu"
keesokan harinya, aku berjalan tertatih merasakan sakit, sementara aku menyuruh Silvi untuk berangkat duluan, badanku terasa demam, namun aku memaksakan diri untuk berangkat sekolah, aku ingin bertemu dengannya di sana.
namun tanpa kusadari silvi berjalan dibelakang ku, mengikuti ku berjalan dengan perlahan, dia mendekati ku.
wajahnya mendekat, keningnya di tepelkan dengan keningku. lalu dia pegang leherku dengan punggung tangannya.
"Kamu demam gara-gara aku kan?"
"Tidak ini bukan salahmu, akunya saja yang terlalu lemah"
"Akan aku ambil demam mu itu" lalu Silvi mencium ku, ciuman yang sangat manis dan mesra kemudian dia tersenyum. "segeralah sehat"
aku merasakannya, meskipun aku seperti ini, apakah aku diperbolehkan untuk mencintainya, aku tidak tau lagi apa yang harus aku lakukan, seperti yang orang-orang katakan, aku harusnya lebih banyak bermain dan melakukan banyak hal. bodoh amatlah, aku tidak keberatan jika aku kehilangan harga diriku, meskipun aku dipermainkan, meskipun aku dimanfaatkan dan dihajar habis-habisan, meski begitu aku tidak keberatan.
"Silvi, mau kah kau tetap mencintaiku meskipun aku lemah"
Silvi meregangkan tangannya, tak lama pelukanku menyambar tubuhnya.
"Sebenarnya aku akan pergi, namun selama aku masih disini, masih mengingatmu, meski sebentar tolong sayangi aku dan jika kau melihatku sapa dan buatlah aku kembali mengingatmu" Ucap Silvi
"Kamu tau Ura?, Seumur hidupku, hanya kamu yang pernah aku peluk dan aku cium dan takkan pernah ada yang lainnya"
__ADS_1