Amnesia

Amnesia
Wanita yang terpilih


__ADS_3

Setiap perkara yang terjadi dalam hidup, akan selalu memiliki makna, karena goresan tindakan dan perkataan akan selalu membuat sejarah.


Meninggalkan ku merupakan pilihannya, sebuah keputusan yang sangat berat baginya, dan juga bagiku, karena tak mungkin aku mencintai dan berbagi hati.


namun selepas dia pergi, aku menyadari bahwa sosoknya sangat penting dalam hidupku, dalam perjalanan ku, wanita berambut pendek itu pernah menyentuh jiwaku, menggetarkan hatiku, memeluk tubuhku.


Kesedihan ini adalah kelemahan ku juga keegoisan ku, seberapa pun aku kuat menahannya, air mata tetap berjatuhan.


ternyata dia memang tidak bertahta dalam hati, namun merasuk dalam jiwa.


Aku sangat menyesal mendengar keputusannya, tapi yang aku sesali ini bukanlah kepergiannya, tapi masa-masa yang telah berlalu, dimana aku mampu membahagiakan nya, tak bisa membuatnya merasa dicintai, aku gagal membuatnya merasa diinginkan, dan melepasnya menyadarkan ku, bahwa aku melepas sesuatu yang sangat penting dalam hidupku.


Semesta mengutukku dengan cinta, sesuatu yang indah nyatanya bisa menyakitkan, jika diizinkan, ingin aku mengatakan padanya, bahwa aku juga mencintainya.


Tubuhku begitu lemas di pelukan Silvi, aku ingin mengejarnya, namun kaki ini tak bisa melangkah, ingin aku mengatakan sesuatu yang sejujurnya, namun bibir ini tak mampu untuk berkata, sekejap aku menyesali semuanya.


"Sudahlah Nata, jika kau ingin menangis, menangis sajalah, keluarkan semua air matamu, tumpah kesedihan didalamnya supaya hatimu merasa tenang, lalu kemudian kau harus bangkit, masih ada aku yang kembali menjadi satu-satunya wanita yang perlu kau cintai"

__ADS_1


ujar Silvi yang memeluk ku begitu erat


"aku tak bisa, air mata tidak cukup melukiskan penyesalan ku, aku telah mengabaikannya, wanita yang telah membantuku untuk bangkit, aku telah menyakitinya, telah ku rampas kebahagiaannya dan dia hanya menemukan kesedihan didalam hatinya"


aku memeluk Silvi begitu erat, mentari mulai bersinar terang, menghangatkan jiwa yang mengalami kegelisahan.


"sakit hatiku mendengarkan ucapan mu, sakit pula perasaanku mendengar pengakuan mu tentang perasaanmu padanya, sudah, cukup jangan katakan apapun lagi, aku takkan sanggup mendengarnya"


"Maafkan aku kekasihku, bukan maksud hati aku sengaja menyakitimu, hapus lah air mata dari wajahmu, biarlah kau kembali tersenyum seperti mentari yang menghangatkan dan menyembuhkan orang-orang yang terluka"


kini Silvi menjadi satu-satunya wanita dihadapan ku, yang akan mensupport ku. rasa ini aku dapatkan kembali, bergegas diriku menarik Silvi ke kos ku, ku ambil pena dan selembar kertas, ku suruh dia duduk di sampingku.


Kemampuan ku ini datang dari kesedihan, meningkat karena penderitaan, pena yang melukiskan kenangan, semuanya akan kembali aku ceritakan.


Silvi tersenyum di samping ku, melihat aku kembali sibuk menulis cerita-cerita yang telah dilalui.


"Kau selalu mengagumkan, kau selalu sulit untuk digapai"

__ADS_1


Silvi membukakan jendela kamar ku, membiarkan sinar mentari masuk, perlahan dia mendekatiku dan berbisik.


"Jadi kapan kau akan menikahi ku?"


ucapannya mengagetkan ku, bukannya tak mau, baru saja aku mendengar keputusan Tya.


"Bulan depan aku akan melamar mu, tunggulah selesai aku menuliskan cerita ini"


Silvi memelukku dari belakang, mencium pipiku, dia bertingkah sangat manja kali ini.


"Kini kamu milikku seorang, aku akan menggunakan mu, dan membuatku bahagia"


"kau mulai menggodaku kan?, sini aku peluk dulu"


"ah, Ura kau memang selalu mengerti apa yang aku inginkan"


"Aku tak ingin kehilangan mu lagi, jadi tunggulah sebentar, aku pasti menjadi suamimu"

__ADS_1


__ADS_2