
Satu minggu berlalu, kosan ini sepi rasanya, Dimas biasanya datang untuk menulis, tapi sekarang dia sedang menemani Tya. Biasanya Silvi datang saat hari menuju siang, kali ini apa yang akan dia bawa ya. aku tak sabar memakan masakannya.
angin yang masuk dari balik jendela masuk kedalam, hembusannya kencang dan menyegarkan. Ah sial rasanya hari ini sangat terasa sepi.
sembari menulis, aku bertanya pada angin yang datang, apa yang aku lakukan ini benar, ku ceritakan semua rahasia pada dedaunan, apakah yang ku lakukan ini tepat, aku juga meminta jawaban pada bunga. namun mereka hanya mendengarkan tanpa menjawab.
tok tok tok, suara seseorang mengetuk pintuku, bergegas aku membukanya, dalam hati aku bertanya, siapa yang akan datang sepagi ini.
"Hallo, Nata. Sudah lama tidak berjumpa, sudah lama pula aku tidak datang ke ruangan ini" ujar seorang wanita yang sedang duduk di kursi roda bersama lelaki yang membawanya.
kemudian wanita itu tersenyum, sembari melihat isi kamarku dia berkata
"Apakah aku boleh masuk kedalam? kedalam ruangan yang penuh kenangan manis, sangat manis hingga rasanya sedikit memuakkan, tapi aku tak bisa menyangkal nya, aku suka tempat ini"
Dengan senyuman yang hangat aku sambut mereka dan mempersilahkannya masuk.
"Tentu saja, pintu ini akan selalu terbuka untukmu, kapanpun kau ingin datang kau hanya perlu mengetuknya saja"
Tak lama setelah dia masuk, dia hanya tertawa melihat keadaan sekitar, aku mendekati nya dan merasa keheranan dengan apa yang dia tertawakan.
__ADS_1
"apa benar ini ruangan yang sama? rasanya sudah banyak hal yang aku lewat kan. ternyata waktu memang membuatnya berubah, kamar ini sekarang sudah rapi, tapi bagaimana dengan hidupmu?"
mendengarkan ucapan itu, aku tersenyum dan melangkah mendekatinya, berjongkok didepannya.
"Ruangan ini berubah, tapi apa yang pernah terjadi disini takkan bisa diubah, semuanya sudah menjadi sejarah. waktu memang bisa merubah semuanya, tapi akan selalu ada hal yang sama saat kau datang"
Tya tertawa mendengarkan aku yang sedang berbicara, lepas sekali, riang sekali dia kali ini.
"Kau memang ********, ******** yang sama seperti awal aku kenal dulu, tapi aku menyukainya. Oh iya, Silvi kemana? aku tak melihatnya?"
"haha seperti itu kau memandangku ternyata. Silvi mungkin sebentar lagi dia datang, tunggu saja"
Dimas yang mengantar Tya datang, dia sedikit dingin hari ini, entah apa yang dia rasakan sekarang.
Tya begitu kaget melihat nya, sementara Dimas tampak sedikit kecewa.
"Ada apa ? apa ini tidak menarik?" ujar ku
"Bukan, aku senang kau bisa menulis lagi, cuma aku kaget dengan judulnya" ujar Tya
__ADS_1
"apa-apaan ini "Wanita yang membakar jiwanya", apa yang kamu pikirkan Nata" ujar Dimas
"Lebih baik kau baca dulu isinya, biar kalian mengerti kenapa aku mengambil judul itu, aku persembahkan tulisan ini untukmu Tya, wanita yang membakar jiwanya untuk menerangi ku"
"Kau selalu saja seperti itu, penuh kejutan dan ambisi. kekayaan ambisi mu belum aku dapatkan dari orang lain"
"Kau sedikit berlebihan Tya, untuk orang yang membakar habis ambisi ku kau sangat berlebihan"
ucapan ku membuat kami bertiga tertawa bersama, meski aku tak mengerti apa yang sedang ditertawakan.
"Aku sedikit kecewa dengan akhir kisah ini, aku pikir aku yang akan menang, tapi dengan akhir yang seperti ini semua orang bisa tersenyum, dan kau sendiri bisa bahagia"
Tya mengatakan nya dengan senyuman yang ikhlas, lepas sudah beban yang dia bawa, lepas juga belenggu rindu yang selalu menyiksanya, kini dia berjalan dengan ringan dan lapang.
"Jika kau bicarakan derita, sebenarnya semuanya menderita, termasuk aku didalamnya, namun kita takkan pernah berhenti jika terus membicarakan luka, karena luka adalah candu bagi setiap cinta"
"Jangan lupakan aku yang hanya bisa mencintai dalam diam" ujar Dimas.
"haha," semuanya tertawa terkekeh-kekeh.
__ADS_1
tak lama kemudian, wanita yang menjadi mentari yang membakar kisah ini datang.
"Tya, sudah lama tidak bertemu" ujarnya yang langsung memeluk Tya.