
Seminggu pertama Tya pergi, aku selalu meneleponnya. Zaman sekarang jarak bukan lagi halangan. Semua bisa terasa dekat jika kau menghendakinya.
Namun semenjak Tya pergi, ide ku untuk menulis juga hilang, aku tak bisa menuliskan Imajinasi yang aku rasakan, stuck.
Karena bagiku menulis adalah tentang rasa, rasa yang ingin disampaikan, rasa yang memaksa masuk dalam kata.
Kehilangan kemampuan untuk menulis artinya kehilangan kemampuan untuk merasakan.
mungkin aku harus mencari suasana yang berbeda, agar lebih sensitif terhadap rasa, atau mungkin aku harus belajar mengerti apa yang sebenarnya aku cari dan aku ingin sampaikan.
Mungkin batu-batu dipinggir kali yang menggigit kaki, atau dedaunan yang menari dihembus angin akan membantuku.
suatu malam di rumah, aku menelepon Tya, ah begitu kangennya diriku seharian ini.
jika ditanya apa yang aku rindukan darinya, maka aku merindukan dia seutuhnya, karena aku mencintai jiwanya bukan bagian dari tubuhnya.
"Hello, Tya apa kabar"
"Baik, Nata apa kabar"
"Kabarku buruk"
"Kenapa kok bisa? kamu telat makan ya?"
"tidak, aku hanya saja terlalu merindukanmu"
Tya tertawa, terdengar suara mulut yang berbicara dalam keadaan malu.
"ah Nata, aku kira kenapa, kan baru kemarin aku telpon"
"Tapi rindu kan tidak bertuan, dia berkehendak sendiri, dan kehendaknya malam ini adalah merindukanmu"
__ADS_1
"gombal"
"tidak, aku tidak menggombal, aku hanya melakukan hal yang sepantasnya saja"
"Sepantasnya seperti apa?"
"Seperti mencintai dan merindukanmu"
"ah sudah sudah. Aku ini seperti hujan yang mencintai bumi"
"eh kenapa harus hujan?"
"Untuk mencintai mu, aku rela jatuh berkali-kali"
"haha, Tya udah jago gombal ya"
"Pacarnya siapa dulu"
"Pacarku dong"
dari kejauhan, rindu memaksaku mengakui, bahwa aku sangat menyayangi nya, tak ada lagi alasan lain, aku hanya sangat menyayangi nya.
Senin pagi, keluarga Silvi datang menemui ku, memintaku untuk berbicara dan bertemu dengan Silvi. aku sebenarnya belum menyetujui nya, aku juga belum mengatakan apapun pada Tya, tapi mau gimana lagi, mereka sudah disini, tak tega aku menolaknya.
Aku diajaknya menaiki mobil, pendingin yang berhembus kencang menunjukan awal perjalanan, aku takut terjebak masa laluku, sementara aku juga takut masih mencintainya sedangkan Tya selalu dalam pelukku.
ya karena perpisahan aku dan Silvi bukanlah sesuatu hal yang biasa, jika aku mengingat seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk bangkit, maka sangat besar sekali aku mencintainya.
Jika aku ingat, perpisahan dengannya, bukan hanya menyakiti hatiku, tapi juga menggoncang jiwaku, aku kehilangan harapan, kehilangan rasa dan menjalani hidup dalam kekosongan dalam waktu yang sangat lama.
Dulu, aku terbiasa karena kesepian, tapi semenjak Silvi datang aku menjadi takut kesepian. banyak hal yang Silvi rubah dariku.
__ADS_1
Masih ku ingat jelas saat dia menangis ketakutan, tak ada kata yang bisa menggambarkan emosi saat itu, kemudian dia pergi seperti pasir yang ditarik ombak.
bahkan membayangkan kepergiannya membuatku terus terluka, luka yang terus menemani hingga aku mulai menikmatinya.
Tapi jika semua ingatannya pulih, apa perasaannya juga akan ikut kembali, kalau seperti itu bagaimana dengan perasaan ku, apa aku masih mencintainya? atau aku sudah mencintai Tya. Entahlah, tapi aku harus mencoba untuk mengembalikan ingatannya, seperti dia merubah hidupku menjadi lebih baik.
"Hallo Silvi" aku bertemu dengan Silvi didepan rumahnya.
aku sedikit ragu untuk melangkah, aku takut tersiksa kenangan dari setiap sudut rumah itu.
"Hallo bapak penulis novel, Silahkan masuk"
Ruangan ini kini telah berganti, bahkan jam dinding disudut ruangan telah berhenti, aku harap perasanku ikut mengerti. namun rupanya kenangan dan perasaan tetap tinggal disini, melekat jelas dalam ruang ingatan di hati, seperti belati, mereka menusuk tubuhku tanpa henti, sementara aku hanya bisa mencaci, diriku yang selalu gelisah di ruangan ini.
"Kenapa Nata? sepertinya kau mengenal tempat ini"
air mataku mengalir begitu deras, tak ada yang bisa menghentikannya meski telah aku coba.
"bagaimana mungkin aku tidak mengingatnya" ujar ku menangis tersedu-sedu.
"Nata, jangan menangis"
"Maaf, aku memiliki kenangan manis disini"
"Kenangan?"
"Iya, aku punya banyak kenangan dengan seseorang yang pernah memiliki kamar ini"
Jendela kamarnya dia buka, angin yang masuk kedalamnya menyegarkan, kamarnya begitu bersih sekarang.
"Apa kamu tak mengingat nya sama sekali?"
__ADS_1
"mengingat apa?"
"diriku"